Tidak Bisa ke Istana, Buruh Rayakan May Day di Patung Kuda

Oleh: Andrian Pratama Taher - 1 Mei 2017
Dibaca Normal 2 menit
Massa buruh dilarang mendekati Istana Negara. Mereka hanya bisa berorasi sampai depan Patung Kuda.
tirto.id - Buruh kembali turun ke jalan pada perayaan Hari Buruh atau May Day, Senin (1/5/2017). Akan tetapi, berbeda dengan aksi-aksi tahun sebelumnya, aksi buruh kali ini tidak diperbolehkan berada di depan Istana Negara. Massa hanya bisa berorasi sampai depan Patung Kuda, persimpangan Budi Kemulyaan, Jalan Medan Merdeka Selatan dan Jalan Medan Merdeka Barat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo menjelaskan, hal tersebut sudah sesuai dengan aturan.

“Jadi sesuai standar operasional prosedur ya, kita sudah melaksanakannya dan kita bagian dari pada pemerintahan untuk mengamankan masyarakat. Jadi sudah ada sop yang mengamankan seperti ini,” kata Argo di Patung Kuda, Senin (1/5/2017).

Lebih lanjut Argo menuturkan penyekatan massa merupakan hasil analisis intelijen.

“Ya kita kan ada UU ya, kemarin ada Diskresi sekarang kita gunakan ya tentunya ini bagian dari analisa intelijen makanya hanya dibaris sini saja,” lanjutnya.

Respons Buruh Beragam

Beragam respons keluar saat buruh tidak bisa berorasi di depan Istana Negara. Ada yang tetap berdemo, ada yang memilih berhenti berorasi sementara.

Bowo (25), salah satu Anggota Forum Serikat Pekerja Metal Indonesia ini mengaku tidak begitu kecewa saat aksi mereka tidak bisa diungkapkan di depan Istana Negara.

"Nggak juga sih, tapi tetap lakuin aksi," tegas Bowo saat berbincang dengan Tirto, Senin.

Bowo mengaku, dirinya akan menuntut tiga tuntutan yang sama seperti para buruh lain. Pertama, ia menuntut penghapusan outsourcing di Indonesia. Kedua, pria asal Depok ini mendesak pemerintah menegakkan konsep tunjangan kesehatan dan pensiun. Sampai saat ini, tidak sedikit perusahaan belum menerapkan pemberian tunjangan sesuai ketentuan.

Ketiga, kata Bowo, pegawai PT Sanyo ini menuntut penghapusan PP 78 tahun 2015 tentang pengupahan. Ia berpendapat, peraturan tersebut membuat upah murah. Bowo mengaku, ketiga hal tersebut belum diterapkan secara utuh di berbagai perusahaan, termasuk perusahaannya.

Berbeda dengan Bowo, respons kecewa diungkapkan oleh Yono (31), salah satu buruh yang bergabung dalam Gabungan Serikat Pekerja Manufakturing Independen Indonesia. Pria yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Unit Kerja PT Bumi Steel ini mengaku kecewa tidak bisa berorasi di depan Istana Negara.

Mereka berharap bisa berorasi di depan Istana Negara. Mereka sudah mengantongi izin aksi di sana.

“Cuma dihalang sama kepolisian setempat jadi kita gak bisa sampai ke depan istana. Kecewa," ujar Yono saat ditemui Tirto di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (1/5/2017).

Yono mengatakan, dirinya dan 5000 kawan dari PT Bumi Steel untuk menuntut hal yang berbeda di antara rekan-rekan buruh lain. Mereka hanya menuntut penghapusan biaya perkara di Pengadilan Hubungan Industrial. Menurut warga Cikarang ini, hal tersebut merugikan kawan-kawan yang diputus hubungan kerja.

"Kita sudah dipecat, dimintai biaya juga untuk perkara itu," kata Yono.

Polda Siapkan 17.000 Personil

Sementara itu, aparat kepolisian menurunkan belasan ribu personil untuk mengamankan aksi buruh pada hari ini. Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M. Iriawan menjelaskan bahwa sejumlah 17.000 personil diturunkan untuk pengamanan perayaan hari buruh internasional.

“Pengamanan paling besar dilakukan di wilayah Istana Negara, di sekitar Monas,” ucap Iriawan, di Gold Driving Range Senayan Gelora Bung Karno.

Terkait isu mengenai massa buruh yang tidak diperbolehkan mendekati istana, Iriawan mengatakan bahwa massa boleh mendekati Istana Negara dengan radius sejauh 500 meter. Iriawan juga menjelaskan apabila konsentrasi massa sudah berada di wilayah Istana secara khusus, kepolisian akan mengakomodir beberapa perwakilan buruh untuk bertemu pihak pemerintah.

“Bertemu dengan Menteri Sekretaris Negara atau dengan Kepala Staff Kepresidenan, akan kami akomodir agar kami bisa antar,” jelas Iriawan.

Selain demo buruh yang dilakukan oleh para buruh dari seluruh Indonesia, Kementrian Ketenagakerjaan dan Asosiasi pengusaha indonesia (Apindo) juga mengadakan acara bertajuk Festival May Day. Iriawan mengatakan keamanan dilakukan baik untuk buruh yang melakukan unjuk rasa maupun buruh yang berada di Festival May Day.

Pengamanan dilakukan sama dengan hari buruh sebelumnya. Untuk massa buruh yang berasal dari luar Jakarta, khususnya dari Bekasi, Tangerang, dan Depok mendapatkan pengawalan baik saat menuju Jakarta maupun saat kembali. “Kondisi saat ini secara umum kondusif dan aman,” ucap Iriawan.

====

Naskah ini diperkaya oleh laporan Hasya Nindita, salah satu peserta "Fellowship for University Student: Upclose and Personal with Journalism", program yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam rangka World Press Freedom 2017.

Baca juga artikel terkait HARI BURUH atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz