Periksa Data

Terbang Tinggi Harga Tiket Pesawat

Penulis: Alfons Yoshio Hartanto, tirto.id - 9 Sep 2022 16:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Antusiasme masyarakat untuk mulai kembali berpergian menggunakan pesawat terbang terhalang ketersediaan armada dan harga avtur.
tirto.id - Para traveler tanah air lagi-lagi mungkin harus menunda rencana wisata mereka. Pasalnya, setelah sekitar dua tahun berjibaku dengan pandemi COVID-19 yang membatasi kegiatan melancong, kini mereka harus berhadapan dengan harga tiket pesawat yang terbang tinggi.

Kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat akibat pandemi memang sudah banyak berkurang, berpergian keluar kota pun sudah mulai bisa dilakukan. Namun, masuk kuartal kedua tahun 2022, terjadi lonjakan harga tiket pesawat terbang.

Momen mudik sebelum Idul Fitri 1443 Hijriah yang jatuh pada awal Mei salah satunya menjadi penyebabnya. Permintaan yang meningkat mendorong maskapai untuk menaikkan harga.

Sebagai gambaran, penerbangan langsung Jakarta-Surabaya pada 29 April termurah Rp 1,12 juta dari maskapai Lion Air, berdasar catatan Kompas.com. Maskapai lain mematok harga yang tidak jauh berbeda; Batik Air Rp 1,24 juta, Super Air Jet Rp 1,19 juta, dan Garuda Indonesia Rp 1,43 juta.

Menukil dari Kompas.com pula, harga tiket sebelum momen Lebaran pada 16 April hampir lebih murah 50 persen. Lion Air di kisaran Rp 575.100, Batik Air Rp 792.700, Super Air Jet Rp 654.600. Hanya Garuda Indonesia yang memang harganya masih sama.

Namun, masuk ke bulan Mei harga tiket pesawat belum kembali ke harga normal. CNBC mencatat, harga tiket termurah untuk rute Jakarta-Surabaya ada di harga Rp 634 ribu, yang ditawarkan Lion Air pada 22 Mei. Sementara harga tiket Garuda Indonesia malah naik, Rp 1,54 juta.

Lalu masuk ke bulan Agustus, berdasar penelusuran CNBC, harga tiket rute Jakarta-Surabaya, seperti lupa kembali ke daratan, kembali menembus rata-rata Rp 1,1 juta - Rp 1,2 juta untuk yang termurah, serupa dengan harga periode libur Lebaran.

Celakanya, kenaikan harga tiket pesawat akan turut mengancam industri pariwisata. Industri yang masih belum pulih benar sejak dilumpuhkan pandemi COVID-19.

Harga tiket pesawat yang kian terbang tinggi, tidak lepas dari penyesuaian biaya angkutan udara penumpang dalam negeri. Hal yang tidak terhindarkan, imbas kenaikan harga minyak dan avtur dunia.

Ketentuannya juga telah secara resmi tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan No 68/2022 tentang Biaya Tambahan atau Fuel Surcharge Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri yang berlaku mulai 18 April 2022.


"Jika kenaikannya (avtur) mempengaruhi biaya operasi penerbangan hingga 10 persen lebih, maka pemerintah dapat mengizinkan maskapai penerbangan untuk menetapkan biaya tambahan seperti fuel surcharge,” ujar Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati, April lalu, seperti dinukil dari laman resmi Kementerian Perhubungan.

Besar biaya tambahan kala itu adalah maksimal 10 persen dari tarif batas atas (TBA) untuk pesawat udara jenis jet dan maksimal 20 persen dari TBA untuk pesawat udara jenis propeler (baling-baling).

Ketentuan ini kemudian diperbarui setelah tiga bulan dan terbitlah Keputusan Menteri Perhubungan No 142/2022 yang berlaku mulai 4 Agustus 2022. Dalam aturan baru ini, biaya tambahan yang diperbolehkan naik 5 persen untuk tiap jenis. Pengenaan fuel surcharge menjadi 15 persen untuk pesawat jet dan 25 persen untuk pesawat baling-baling.

Sebagai catatan tambahan, meskipun diberi izin untuk menambah biaya, maskapai dibebaskan jika tidak ingin menerapkannya. Selain itu ketentuan ini tidak memberi pengaruh terhadap TBA maupu tarif batas bawah (TBB) yang diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan No 106/2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Melonjaknya Harga Avtur dan Dampaknya Terhadap Inflasi

Kenaikan harga avtur tidak bisa lepas dari perang antara Rusia dan Ukraina. Dalam laporannya, International Air Transport Association (IATA) menyebut harga bahan bakar pesawat naik signifikan sejak dimulainya konflik. Pada 21 Maret 2022, tercatat harga avtur menyentuh 150 dolar AS/barel alias naik 121 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi ini juga langsung tercermin di Tanah Air. Berdasarkan data yang dirangkum Pertamina, memang terjadi kenaikan harga Avtur yang cukup mencolok pada akhir bulan Maret 2022. Di Bandara Soekarno-Hatta, harganya naik menjadi Rp 13.677/liter dari sebelumnya Rp 10.544/liter di periode 1-14 Januari.

Tren kenaikan harga ini terus berlanjut sampai puncaknya pada awal Juli 2022, harga avtur mencapai Rp 18.431/liter di Bandara Soekarno-Hatta. Ini juga berarti harga avtur telah naik hampir 75 persen selama periode Januari-Juli 2022.


Dengan besarnya kontribusi avtur terhadap biaya operasional, kenaikan harga tiket pesawat pun tidak terelakan. Berdasar catatan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carrier Association/INACA), bahan bakar mengambil kontribusi yang besar terhadap total biaya operasional maskapai. Secara umum porsi biaya avtur mencapai 35 persen, diikuti biaya pemeliharan 25 persen, biaya kepemilikan armada pesawat 20 persen, biaya penggunaan bandar udara dan landasan pacu 10 persen, dan 10 persen sisanya biaya lain-lain.

Dampak dari kenaikan harga avtur ke harga tiket pesawat terbang juga kemudian merembet ke inflasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sejak April 2022, kelompok pengeluaran transportasi selalu memberi andil kedua terbesar bagi inflasi sampai Juli 2022, di bawah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Secara khusus untuk tarif angkutan udara, andil terhadap inflasi bulanan berkisar antara 0,03 persen (Juni) sampai 0,11 persen (Juli).


Pada April 2022, saat kelompok pengeluaran transportasi memberi andil 0,29 persen --terbesar dari Januari hingga Juli, ada unsur kenaikan harga BBM Pertamax yang mengambil peran. Sementara pada Mei, kelompok pengeluaran transportasi memberi andil 0,08 persen dan 0,07 persennya adalah andil dari tarif angkutan udara, yang menurut BPS naik karena tingginya permintaan di sekitar masa libur Lebaran.

Pada Juli, saat andil tarif angkutan udara terhadap inflasi mencapai 0,11 persen adalah titik tertinggi. Hal ini selaras dengan momen harga tertinggi avtur.

"Melonjaknya harga avtur menyebabkan penyesuaian harga di maskapai penerbangan. Di sisi lain, pelonggaran atas izin penerbangan menyebabkan permintaan angkutan udara meningkat dan kemudian terjadi kenaikan harga," ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers 1 Agustus 2022.

Jika melihat inflasi tahunan, inflasi kelompok pengeluaran transportasi (tarif angkutan udara termasuk di dalamnya), sampai Juli 2022 mencapai 6,55 persen, lebih tinggi daripada inflasi secara umum, 4,94 persen, yang juga terhitung tinggi. Artinya tingkat kenaikan biaya transportasi meningkat lebih tinggi dibanding barang atau jasa secara umum.

Hal ini juga menarik perhatian Presiden Jokowi. Pasalnya, harga tiket pesawat yang sedang naik dan bisa membuat inflasi melambung. Hal itu ia sampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi Tahun 2022 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/8/2022).
“Harga tiket pesawat melambung, sudah saya langsung reaksi, Pak Menteri Perhubungan segera selesaikan,” kata Jokowi menukil dari Kompas TV.

Permintaan Tinggi, Kapasitas Tak Mencukupi

Konflik dan lonjakan harga minyak dunia memang menjadi sebab utama lompatan harga avtur, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Namun, menurut Pengamat Penerbangan, Alvin Lie operasi maskapai yang belum total juga menjadi sebabnya.


"Ada sebagian pesawat karena kesulitan keuangan ditarik oleh lessor, ada sebagian pesawat diparkirkan karena maskapai khawatir kalau diaktifkan kembali biayanya tidak sedikit," ujarnya dikutip Tirto, 8 Agustus 2022 lalu.

Menurut Alvin, baru sekitar 65 persen total armada yang beroperasi jika dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Jumlah operasional yang sedikit lantas membuat kenaikan harga avtur.

Sementara di lain sisi, seperti yang diucapkan Margo Yuwono dari BPS, permintaan atas penerbangan mulai meningkat. Jumlah penumpang domestik meningkat seiring dengan pelonggaran tetek-bengek aturan perjalanan.

"Angkutan penumpang di semua moda itu terjadi kenaikan karena ada cuti bersama di Hari Raya (Lebaran) dan longgarnya pembatasan mobilitas penduduk," ujarnya pada konferensi pers 1 Juli 2022, menerangkan lonjakan jumlah penumpang angkutan udara domestik yang hampir 5,3 juta pada Mei 2022.

Jumlah penumpang penerbangan domestik dari Mei hingga Juli 2022 pun sudah stabil dengan rata-rata 5 juta penumpang. Ini menunjukkan kalau permintaan atas penerbangan juga akan terus meningkat, dan mungkin kembali seperti tahun 2019, sebelum terjadi pandemi COVID-19.



Secara kumulatif, antara Januari-Juli 2022 terdapat sekitar 29,6 juta penumpang penerbangan domestik. Angka ini terpaut sedikit dibanding jumlah penumpang sepanjang tahun 2020 (sekitar 32,3 juta) dan 2021 (sekitar 30 juta). Seharusnya ini jadi sinyal baik bagi kebangkitan kembali industri penerbangan.

Namun, permintaan jasa penerbangan yang tinggi tidak dibarengi dengan jumlah armada yang memadai, akibatnya kenaikan harga tiket tidak terelakkan.

Melihat trennya, momen akhir tahun saat Liburan Natal dan Tahun Baru, permintaan akan jasa penerbangan akan meningkat. Jika tidak ditindaklanjuti, siap-siap harga tiket pesawat akan naik lagi, ke tingkat yang lebih tinggi dari saat ini.


Berita baiknya, semenjak mencapai harga Rp 18.431 pada awal Juli 2022, harga avtur menunjukkan tren menurun. Teranyar, awal September harga avtur ada di titik Rp 15.126.

Sebelumnya, pada Agustus 2022 terjadi deflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran. Tarif angkutan udara berkontribusi 0,03 persen terhadap deflasi ini, yang paling dominan di transportasi. Artinya, ada penurunan di harga jasa transportasi udara.

Meski begitu, inflasi tahunannya masih mencapai 6,62 persen, hanya di bawah inflasi tahunan makanan, minuman, dan tembakau, di bulan Agustus, dan lebih tinggi dari inflasi umum tahunan.


Sementara harga tiket, dipantau dari platform pemesanan perjalanan daring, Traveloka, untuk penerbangan rute Jakarta-Surabaya pada Sabtu (10/9/2022) ditemukan tiket termurah Rp 895 ribu dari Lion Air, sementara Garuda Indonesia tetap bertahan di kisaran harga Rp 1,5 juta. Harganya masih lebih tinggi dari sebelum Idul Fitri tahun ini, tapi sudah mulai menurun.

Kemudian, menanggapi permintaan Presiden Jokowi,
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menanggapinya dengan tiga upaya yang diinisiasi pihaknya. Pertama dengan meminta maskapai penerbangan berinovasi untuk mengelola harga tiket pesawat yang terjangkau.

"Melakukan efisiensi, memberikan diskon dan tarif yang lebih murah di waktu tertentu dan inovasi lainnya," ujar Budi mengutip pernyataan resmi Kementerian Perhubungan, Minggu (21/8/2022).

Kedua dengan meminta pemerintah daerah memberikan subisidi atau mendukung tingkat keterisian tertentu (60 persen) dengan block seat. Serta terakhir, memberi usul kepada Kementerian Keuangan untuk menurunkan pajak pertambahan nilai (PPN) avtur menjadi 5 persen.

"Kalau semua upaya ini bisa dilakukan, diharapkan dapat menstabilkan harga tiket antara 15-20 persen," ujar Menhub menyimpulkan.

Sementara Menteri BUMN Erick Thohir juga ambil tindakan. Langkah awalnya dengan menyalurkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 7,5 triliun untuk Garuda Indonesia. Harapannya kemudian Garuda Indonesia akan dapat menambah jumlah armada dari 61 unit menjadi 120 unit.

Penambahan armada pesawat diharapkan akan dapat menekan harga tiket pesawat menjadi lebih murah sesuai instruksi Jokowi.

"Keseimbangan ini yang kami harapkan juga bisa memperbaiki harga tiket nasional. Dan selain itu juga kami pastikan pesawat-pesawat yang baru ini harga sewanya sesuai dengan harga pasar, tidak harga seperti yang sebelumnya, yang terindikasi (dan) bahkan sudah ada istilah tersangka untuk kasus korupsi di Garuda," ujar Erick mengutip Harian Kompas.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Alfons Yoshio Hartanto
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Alfons Yoshio Hartanto
Editor: Farida Susanty

DarkLight