Mozaik

Temuan Fosil Gajah dan Kaitannya dengan Manusia Purba

Kontributor: Ali Zaenal, tirto.id - 13 Agu 2023 17:02 WIB | Diperbarui 27 Sep 2023 06:34 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Jika manusia prasejarah ada di sebuah daerah pada saat mammoth hidup, penemuan fosil mammoth dapat memberikan petunjuk pola permukiman manusia.
tirto.id - Akhir Juli 2023, sekitar jam 5 sore, Rudi Hartono, mengecek pekerjaan pondasi rumah di sebuah lahan Dukuh Ngebung, Desa Ngebung, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Sore itu, beberapa pekerja sudah pulang lebih awal, ia kembali melakukan penggalian sendiri.

Saat itulah ia merasakan benda yang sudah membatu, berserat, dan ukurannya cukup panjang. Saat digali lebih jauh, bentuk temuannya itu mirip gading gajah yang panjangnya 3,25 meter.

Di Sragen, penduduk mendapatkan pemahaman akan fosil, artefak maupun benda-benda kuno berkat sosialisasi yang dilakukan para petugas Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sragen.

Temuan Rudi lantas ditindak lanjuti tim arkeolog setempat pada 2 Agustus 2023. Dibantu warga, mereka melakukan penggalian dan membenarkan bahwa temuan itu adalah fosil gading gajah purba yang diperkirakan berusia 800 ribu tahun. Jenis fosil gajah tersebut belum dapat dipastikan apakah Stegodon atau Elephas.

“Belum ditelaah lebih dalam, tetapi kami berkecenderungan gading Elephas," tukas Suwita Nugraha, petugas dari penyelamatan temuan dan monitoring situs terpadu Sangiran, seperti dikutip Media Indonesia.

Tim Penyelamatan Museum Purbakala lalu memberikan kompensasi sebesar Rp1 juta kepada Rudi Hartono untuk fosil gading gajah purba temuannya. Kompensasi diberikan sebagai wujud kepedulian terhadap benda bersejarah.

Sangiran merupakan situs penting bagi kebudayaan prasejarah. Situs ini terletak di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar di Provinsi Jawa Tengah. Ditemukan pada tahun 1930-an, tempat ini terkenal dengan koleksi fosil manusia purba dan perangkatnya yang kaya sejak era Pleistosen.

Penemuan fosil gading gajah dengan ukuran nyaris sama juga terjadi pada tahun 2015 saat seorang petani bernama James Bristle menemukan sesuatu yang sangat menarik di ladangnya di dekat Chelsea, Michigan, Amerika Serikat. Ia menemukan sejumlah besar tulang fosil Mammoth dengan panjang sekitar 3 meter yang terkubur dalam tanah di ladangnya.

Penemuan fosil-fosil gajah ini memberikan wawasan tentang sejarah evolusi dan migrasi gajah-gajah, serta hubungannya dengan habitat yang pernah mereka tinggali.

Jenis Fosil Gajah

Jika dipelajari lebih jauh, sebaran gajah ke berbagai wilayah mencerminkan fluktuasi iklim yang mempengaruhi habitat dan lingkungan di berbagai wilayah. Misalnya, perubahan suhu atau pola curah hujan dapat memengaruhi jenis vegetasi yang ada dan ketersediaan sumber makanan untuk gajah. Migrasi gajah dari satu wilayah ke wilayah lain bisa menjadi tanda perubahan iklim regional.

Terdapat beberapa jenis fosil gajah yang ditemukan oleh para ilmuawan di berbagai belahan dunia. Jenis yang paling terkenal adalah mammoth, spesies yang sudah punah dan masih berhubungan erat dengan gajah yang ada saat ini.

Mammoth pernah ditemukan di berbagai wilayah, termasuk Siberia, Amerika Utara, dan Eropa. Beberapa spesies mammoth meliputi Mammuthus primigenius (mammoth woldega atau mammoth bulu), Mammuthus columbi (mammoth Amerika), dan Mammuthus meridionalis (mammoth selatan). Mammoth hidup di berbagai belahan dunia dan memiliki ciri khas seperti rambut tebal dan panjang serta gading melingkar.

Jenis fosil lainnya adalah Mastodon, yang juga merupakan kerabat gajah yang punah. Fosil Mastodon terutama ditemukan di Amerika Utara. Mastodon termasuk dalam keluarga Mammutidae dan hidup pada periode geologis yang lebih awal daripada mammoth.

Mastodon memiliki dua pasang gigi gading yang melengkung ke bawah dan ke depan dari rahang atas. Gading ini lebih pendek dan lebih bengkok daripada gading mammoth atau gajah modern.

Selain mammoth dan mastodon, terdapat juga jenis fosil gajah kuno lainnya. Sebagai contoh, gajah purba bergading lurus, yang juga dikenal sebagai Palaeoloxodon, memiliki gading yang lebih pendek dan lurus serta hidup di iklim yang lebih hangat.

Palaeoloxodon hidup pada masa Pleistosen dan berbagai era sejarah awal. Contoh spesies gajah purba meliputi Palaeoloxodon antiquus (gajah purba Eurasia) dan Palaeoloxodon namadicus (gajah purba India). Beberapa spesies memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada gajah moderen. Spesies tersebut hidup di Eropa dan Asia dari sekitar 3 juta hingga 10.000 tahun yang lalu.

Lalu ada Stegodon, kerabat gajah yang telah punah yang memiliki dua gading panjang dan sepasang gading kecil yang menonjol ke bawah dari rahang bawahnya. Mereka tinggal di Asia, Afrika, dan Eropa dari sekitar 20 juta hingga 10.000 tahun yang lalu.

Fosil lainnya ialah Elephas, termasuk genus gajah modern, kelompok gajah yang masih hidup hingga saat ini, termasuk gajah gading dan gajah India. Mereka juga memiliki fosil-fosil prasejarah yang berasal dari masa Pleistosen.

Beberapa sebaran gajah di masa lalu juga memberikan indikasi tentang interaksi antara manusia dan gajah. Gajah-gajah prasejarah telah menjadi target berburu manusia untuk mendapatkan daging, kulit, dan tulang.

Jejak-jejak manusia sebagaimana temuan peneliti di Michigan dalam bentuk pecahan batu di area situs dapat memberikan gambaran tentang hubungan ini.

Infografik Mozaik Gajah Purba
Infografik Mozaik Gajah Purba. tirto.id/Fuad


Temuan Mamooth di Michigan

Pada tahun 2015, James Bristle, seorang petani di Michigan, menemukan sisa-sisa mammoth berbulu berusia 11.000 tahun di ladangnya. Fosil tersebut ditemukan saat Bristle dan seorang rekan sedang menggali untuk saluran pipa gas alam.

Sebuah tim ahli paleontologi dari University of Michigan dan sebuah ekskavator menemukan sekitar 20 persen kerangka mammoth purba di Washtenaw County. Selain panggul, mereka menemukan tengkorak, dua taring, banyak tulang belakang, tulang rusuk, dan kedua tulang belikat.

Tim ahli yang dipimpin Daniel Fisher menyimpulkan bahwa tulang-tulang tersebut berasal dari Mammuthus primigenius, mammoth yang telah punah dan hidup sekitar 11.700 tahun hingga 15.000 tahun yang lalu.[3]

Beberapa tulang tersebut memiliki tanda-tanda yang mengindikasikan adanya interaksi dengan manusia, termasuk bekas potongan yang mungkin merupakan tanda pemotongan oleh manusia prasejarah untuk mendapatkan daging.

Mammoth tersebut diperkirakan berusia sekitar 40 tahun saat mati. Analisis DNA lantas menunjukkan bahwa hean tersebut adalah jantan dan kemungkinan besar mati karena dipenggal oleh manusia purba, lalu diawetkan sementara di kolam pendingin kuno untuk dikonsumsi kembali di kemudian hari.

Penemuan fosil mammoth tersebut menjadi sangat penting karena menambah pemahaman tentang kehidupan mammoth berbulu di Amerika Utara, yang beratnya bisa mencapai 10 ton. Mereka memiliki bulu yang tebal sebagai benteng mereka bertahan hidup di iklim yang dingin. Mammoth berbulu punah sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sebagai hewan yang besar, punahnya mammoth berbulu berdampak buruk pada ekosistem dan menunjukkan betapa mudahnya sebuah spesies punah.

Kaitan dengan Manusia Purba

Penemuan fosil mammoth oleh James Bristle di Michigan memiliki kaitan yang menarik dengan manusia purba. Meskipun secara langsung tidak ada bukti konkret tentang interaksi langsung antara fosil mammoth tersebut dengan manusia purba, ada kemungkinan bahwa manusia prasejarah di wilayah tersebut memiliki hubungan dengan mammoth atau mungkin telah berinteraksi dengan mereka.

Manusia purba di berbagai belahan dunia, termasuk Michigan, dikenal sebagai pemburu-pengumpul. Mereka mungkin saja telah memburu mammoth atau spesies lain untuk mendapatkan daging, kulit, tulang, dan bahan lainnya yang bermanfaat.

Jika manusia prasejarah ada di daerah tersebut pada saat mammoth hidup, penemuan fosil mammoth dapat memberikan petunjuk tentang pola permukiman manusia di wilayah tersebut. Pemukiman yang berdekatan dengan lokasi penemuan fosil mammoth dapat mengindikasikan hubungan antara manusia dan mammoth.

Mereka mungkin menggunakan tulang mammoth untuk alat-alat, kulit untuk perlindungan, atau bahkan mengambil bagian dari daging mammoth yang telah mati.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa manusia mencari makanan di Amerika Selatan sekitar 18.500 hingga 14.500 tahun yang lalu, menambah teka-teki. Namun, studi terbaru di Science Daily menunjukkan sebaliknya.

Studi tersebut menunjukkan bahwa gajah dan nenek moyang mereka sebenarnya musnah oleh perubahan lingkungan global yang ekstrim daripada perburuan yang berlebihan. Penelitian menunjukkan bahwa Mammoth dan Mastodon terakhir punah pada akhir Zaman Es terakhir, menandai berakhirnya penurunan panjang populasi gajah akibat perubahan iklim.

Studi tersebut, yang meneliti 185 spesies berbeda selama 60 juta tahun, menemukan bahwa gajah dan pendahulunya beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda melalui berbagai strategi evolusi. Penelitian juga menunjukkan bahwa perkembangan manusia purba mungkin tidak memainkan peran penting dalam kepunahan gajah.

Baca juga artikel terkait MAMMOTH atau tulisan menarik lainnya Ali Zaenal
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight