Tambang Batubara di Bayah, Penghidupan dan Penderitaan

Oleh: Irfan Teguh - 6 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Pada zaman pendudukan Jepang, di sinilah romusha banyak yang meninggal akibat perlakuan buruk militer.
tirto.id - Bayah adalah sepenggal sejarah tentang batu bara, semesta penderitaan bagi romusha yang bekerja dan meregang nyawa di sana, juga sebenggol penghidupan bagi masyarakat kiwari yang masih menambang sisa-sisa kekayaannya.

Belakangan ini aktivitas penambangan batu bara di Bayah kembali marak. Beberapa media daerah yang beralamat di Banten memberitakan hal tersebut. Sejumlah penambangan batu bara ini beraktivitas tanpa izin alias ilegal. Medio Februari 2018, Direktorat Polisi Air Polda Banten berhasil menangkap pelaku penambangan batu bara ilegal di Desa Panyaungan, Lebak.

“Jadi, saat kita datang ke lokasi penambangan batu bara ini sudah berjalan selama 10 hari, terus kegiatan penambangannya tidak ada konfirmasi atau izin awal dari desa atau kelurahan,” ujar AKP M Akbar Baskoro, Rabu (14/2/2018)

Beberapa bulan sebelumnya, penambangan batu bara ilegal juga terjadi di Blok Sangko, Desa Sawarna, Bayah, Lebak. Titiknol melaporkan, penambangan di wilayah tersebut diduga dimotori oleh Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sawarna, Kukun Kurnia.

“Kalau bicara ilegal di seluruh Kabupaten Lebak tidak ada yang legal, Pak. Kalau yang kecil dipermasalahkan yang besar dibiarkan. Ayolah mau ngobrol di mana, saya paling enggak senang kalau cuma Blok Sangko yang dipermasalahkan,” ujar Kukun dengan emosi.



Tambang ilegal di Blok Sangko sempat menewaskan warga pada 30 Oktober 2017. Korban bernama Ade, diduga tewas setelah menghirup gas beracun saat melakukan penambangan. Peristiwa ini menyulut kemarahan warga yang tinggal di sekitar lokasi penambangan.

“Apapun dalihnya, lokasi tambang batu bara Blok Sangko harus ditutup, karena lokasi tersebut rawan longsor dan akan selalu ada korban jiwa berikutnya. Saat ini di Blok Sangko masih ada aktivitas seolah dibiarkan,” ujar seorang warga Desa Sawarna.

Peristiwa meninggalnya Ade dalam aktivitas penambangan, juga kencangnya tuntutan warga agar segera menutup tambang, tak membuat masyarakat yang mencari penghidupan dari penambangan batu bara mundur. Mereka malah mendatangi DPRD Kabupaten Lebak meminta agar aktivitas mereka dilegalkan.

Rombongan yang dipimpin Kukun Kurnia mengadukan nasibnya yang kata mereka bak buah simalakama. Di satu sisi, tambang batu bara ilegal yang mereka jalankan merupakan sumber penghidupan bagi keluarga. Sementara di sisi lain karena tak ada izin dari pemerintah, mereka kerap didatangi oknum-oknum.

“Jika tidak menambang, kami mau makan dari mana. Jadi kami ingin diberikan kemudahan agar usaha kami ini diperbolehkan seperti dulu, saat ini kami dibuat tidak nyaman oleh beberapa pihak,” ungkap Kukun Kurnia (8/10/2017)

Penderitaan Romusha


Sebagai wilayah pesisir, Bayah terasa gerah, gersang. Setidaknya itu yang saya rasakan pada Maret 2017 saat berkunjung ke Bayah. Tak jauh dari terminal dan pasar Bayah, terdapat tugu romusha. Ada juga sedikit sisa jalur kereta api Saketi-Bayah yang tertutup rimbunan semak belukar. Ya, jalur kereta api itu juga menjadi saksi bagaimana para pekerja paksa terkapar bertumbangan.

Sunardjo Hardjodarsono, mantan karyawan perusahaan tambang batu bara Bayah Kozan Kabushiki Kaisha berkisah tentang pengalamannya waktu tinggal di Bayah pada masa pendudukan Jepang.


Menurut penuturannya, Bayah merupakan wilayah tanah berbukit yang waktu itu penduduknya masih jarang dan malaria tengah merajalela. Sejak perusahaan batu bara beroperasi, Bayah mulai ramai dipenuhi sejumlah perkantoran, permukiman, warung penjual makan, pertokoan, dan pergudangan.

Bangunan-bangunan tersebut kebanyakan dibangun dari kayu dan bambu. Bayah semakin ramai ketika romusha, pekerja yang diambil secara paksa didatangkan dari desa-desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk dipekerjakan di tambang batu bara dan pembangunan jalur rel kereta api.

“Karena mereka diambil secara paksa, maka banyak dari mereka adalah orang-orang yang patah semangat, murung dan sedih, tidak mempunyai semangat kerja. Hanya sedikit yang bisa bekerja secara normal,” tambah Sunardjo.

Kondisi para romusha, tulis Sunardjo, amat memprihatinkan. Mereka tak punya pakaian yang layak dan rata-rata tak ada pakaian untuk berganti. Militer Jepang hanya membagikan celana yang terbuat dari karung bagor dan karung goni.

“Banyak di antara mereka yang mencoba lari tapi tak tahu jalan, sedang mereka juga tak punya bekal. Maka mereka keadaannya sangat mengenaskan dan banyak yang meninggal dunia dalam perjalanan mereka di hutan,” tulisnya.


Infografik Tambang batu bara bayah


Jejak Tambang Batu Bara


Iwan Hermawan dalam Lubang Tambang Batu Bara Bayah: Jejak Romusha di Banten Selatan (Jurnal Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017) menjelaskan bahwa potensi batu bara di Bayah merupakan satu-satunya di Pulau Jawa.

Tidak seperti cadangan batu bara di Sumatra yang terpusat, cadangan batu bara Bayah tersebar di sepanjang pesisir selatan Banten, terutama di Cihara, Panyaungan, dan Gunung Madur.

Sisa cadangan batu bara Bayah saat ini ditambang oleh masyarakat dengan skala kecil dengan sistem tambang tertutup, yaitu menggali lubang vertikal dan atau horizontal dengan ukuran rata-rata 1x1 meter untuk mencapai ader (pohon bijih) untuk selanjutnya mengikuti arah ader tersebut.

“Sistem penambangan tertutup yang dilakukan oleh para penambang di Bayah disebabkan karena karakteristiknya berbeda dengan batu bara di Sumatera dan Kalimantan. Batu bara di Banten Selatan berusia Miosen dengan ader (pohon bijih) berada di bawah permukaan dengan ketebalan 0,5-2 m sehingga akan tidak ekonomis jika dilakukan penambangan terbuka,” tulis Iwan.


Iwan menambahkan bahwa aktivitas pertambangan batu bara zaman Jepang tidak hanya terpusat di Bayah, tapi menyebar di sejumlah titik di sepanjang pantai selatan Banten, dari Malingping sampai Sawarna sepanjang 30 km.

Pusat aktivitas pertambangan terdapat di tiga titik, yaitu Blok Madur sebagai blok penambangan batu bara terbesar, Blok Cihara (Cibobos), dan Blok Cimeng di Panyaungan (Panggarangan). Sementara pusat administrasi perusahaan dibangun di Bayah.

Berbagai fasilitas tambang, seperti bedeng pekerja, kantor cabang, markas Kempetai, klinik, dan stasiun kereta api lengkap dengan tempat penampung batu bara dibangun di setiap blok penambangan.

Eksploitasi Jepang di Bayah dengan membangun tambang batu bara menyisakan beberapa lubang tambang yang hari ini masih bisa ditemukan di Gunung Madur. Warga setempat kerap menyebutnya sebagai lubang Jepang. Menurut Iwan, Lubang-lubang tambang tersebut yaitu Lubang Cipicung, Lubang Cigalugur, Lubang Sangko, dan Gua Jepang di tepi pantai Gua Langgir.

Sisa-sisa eksploitasi Jepang itulah yang akhir-akhir ini menjadi ladang penghidupan sebagian warga dengan membuka pertambangan ilegal. Dengan segala risikonya—yang terburuk kematian akibat menghirup gas beracun seperti yang menimpa Ade, mereka mengeruk perut bumi Bayah.

Baca juga artikel terkait BATU BARA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS