Tamara Bunke: Gerilyawan Perempuan yang Perkasa

Oleh: M Faisal Reza Irfan - 18 September 2017
Dibaca Normal 4 menit
Lahir di Argentina, menempa diri di Jerman, dan berjuang untuk Kuba. Dia adalah Tamara Bunke.
tirto.id - Oktober 1964, Tamara Bunke berkemas ke Bolivia, meninggalkan namanya dan bersalin jadi pribadi yang baru: Laura Gutierrez Bauer. Ia menjalani misi rahasia yang ditugaskan oleh Che Guevara: mengumpulkan informasi intelijen seputar elit politik dan militer Bolivia.

Kala itu, Che tengah merancang Operasi Fantasma yang bakal dilangsungkan di Bolivia. Singkat cerita, Che ingin memancing pemberontakan revolusioner di negeri-negeri Amerika Selatan yang pada saat itu sering disebut-sebut sebagai 'halaman belakang Amerika'.

Tanpa kesulitan berarti, Tamara mulai menyusup ke lingkaran elit Bolivia, khususnya kalangan akademis dan pejabat pemerintah. Perlahan, lingkungan yang disusupi Tamara menaruh hati padanya. Bahkan Presiden Bolivia René Barrientos mengajaknya berlibur ke Peru. Tak hanya itu, Tamara pun menikah dengan pria Bolivia agar bisa memperoleh status warganegara yang diharapkan bisa memudahkan tugasnya.

Tamara adalah aset penting Operasi Fantasma dan kelompok gerilyawan Che. Alasannya sederhana: melalui Tamara, mereka bisa menggali informasi terkini di Bolivia. Komunikasi antara Tamara dan gerilyawan Che dilakukan dengan peralatan radio yang disimpan di balik dinding apartemennya.

Memasuki tahun 1966, perjalanan Tamara sebagai agen rahasia Kuba menemui ganjalan. Penyamaran Tamara terbongkar oleh aparat Bolivia selepas melakukan perjalanan ke kamp gerilyawan di Nacaguazu. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri hanyalah masuk hutan dan bergabung dengan gerilyawan, di mana ia melakukan beberapa tugas seperti menyalurkan makanan serta memantau siaran radio.

Tanpa Tamara sebagai penghubung gerilyawan dengan dunia luar, pasukan Che pun terisolasi. Di lain sisi, kondisi Tamara justru memburuk kala demam tinggi sampai cedera kaki menyerang dirinya akibat parasit chigoe. Mendengar kabar tersebut, Che memutuskan mengirim sekelompok bantuan untuk menjemput Tamara dan pasukan lainnya keluar dari pegunungan.

Nasib malang tak dapat ditolak. Saat melintasi Rio Grande di daerah Vado del Yoso, Tamara tertembak peluru di bagian lengan dan paru-paru oleh tentara Bolivia. Nasib rekan-rekan gerilya lainnya pun juga setali tiga uang. Kabar tewasnya Tamara terdengar oleh Che, yang awalnya menolak untuk percaya sembari mengatakan bahwa hal tersebut hanya propaganda musuh guna menurunkan semangat gerilyawan.

Baca juga: Fidel Castro dan Che Guevara "Reuni" di Santa Clara

Namun, perjalanan Tamara memang berakhir. Tamara, satu-satunya perempuan yang terdapat dalam kelompok gerilyawan Che tewas saat menjalankan misi di Bolivia. Untuk menghormati jasanya, Fidel Castro menganugerahkannya gelar pahlawan Revolusi Kuba.

Dugaan Agen Ganda dan Hubungannya dengan Che Guevara

Tamara Bunke lahir di Buenos Aires pada 13 November 1937 dari pasangan Erich Bunke dan Nadia Bider. Tahun 1928, keluarga Tamara pindah ke Argentina tatkala Nazi mulai berkuasa. Pada 1952, mereka memutuskan pulang kampung dan tinggal di Berlin Timur.

Menginjak dewasa, Tamara mulai aktif menekuni dunia politik. Semasa berkuliah di jurusan ilmu politik di Universitas Humboldt, Jerman Timur, Tamara bergabung dengan organisasi kepemudaan Partai Persatuan Sosialis Jerman (SUPG) yakni Pemuda Merdeka Jerman (FGY).

Tamara juga turut andil dalam Federasi Pemuda Demokrasi Dunia. Keanggotaannya di organisasi tersebut pula yang mengantarkannya pada acara Festival Pemuda dan Pelajar Dunia di Wina, Praha, Moskow, sampai Havana.

Dengan penguasaan sekitar empat bahasa (Rusia, Inggris, Spanyol, serta Jerman), Tamara diangkat menjadi penerjemah Departemen Internasional Pemuda Bebas Jerman (FGY). Salah satu tugasnya ialah membantu kedatangan orang-orang Kuba di Jerman Timur yang begitu masif pasca-Revolusi Kuba 1959. Dalam periode ini pula, ketertarikan Tamara terhadap geopolitik Amerika Latin kian kuat.

Awal 1960, untuk kali pertama Tamara bertemu tokoh gerakan revolusioner Kuba Che Guevara. Waktu itu, Che datang ke Leipzig, Jerman Timur sebagai utusan perdagangan Kuba. Tamara yang mengidolakan Che diminta menjadi juru bahasa dalam agenda itu.

Setahun kemudian, Tamara meninggalkan Jerman dan menetap di Kuba. Keinginannya untuk pergi ke Kuba didasari kekaguman pada sosok Che dan peristiwa Revolusi Kuba 1959 yang membekas di pikirannya. Pekerjaan yang dilakoni Tamara begitu menginjakkan kaki di Kuba adalah guru sebuah sekolah di pedesaan.

Baca juga: Kuba Tak Akan Bangun Monumen untuk Fidel Castro

Karir Tamara melejit ketika diterima di institusi pemerintahan seperti Kementerian Pendidikan dan Federasi Perempuan Kuba. Hingga pada akhirnya, nasib membawa Tamara bertemu kembali dengan Che ketika dirinya ambil bagian dalam Operasi Fantasimo.

Selama mengikuti persiapan Operasi Fantasimo, Tamara dilatih oleh Daniel Alarcon Ramirez—salah satu senior di kelompok gerilyawan Che—di Pinar del Rio, sebelah barat Kuba. Che berpesan pada Ramirez agar mengajari Tamara teknik-teknik mempertahankan diri seperti menggunakan pisau, senapan, sampai senjata api. Tamara juga berlatih cara mengirim dan menerima pesan melalui transmisi radio.

Pada masa pelatihan Operasi Fantasimo pula, identitas Tamara berubah menjadi “Tania.” Bagi anggota kelompok lain, Tamara dikenal sebagai perempuan yang cerdas. Tamara juga dikenal pandai menghibur rekan-rekannya di kamp pelatihan dengan memainkan lagu-lagu rakyat menggunakan gitar maupun akordeon. Singkat kata, Tamara menjadi sosok yang berkesan bagi kawan-kawannya.

Membicarakan Tamara Bunke tak lengkap tanpa menyentuh rumor yang berkembang: tuduhan agen rahasia KGB maupun Stasi serta kedekatan personalnya dengan Che. Dalam Heroes in Hell (1980), Janet Morris menggambarkan Tamara selain bekerja untuk Kuba, juga bekerja pada dinas rahasia Rusia (KGB) serta Stasi (Jerman Timur). Dalam perannya di KGB maupun Stasi, Tamara ditugaskan untuk mengkhianati dan membunuh Che.

Desas-desus lainnya ialah bahwa Tamara memiliki kedekatan khusus dengan Che. Dalam Tania, the Woman Che Guevara Loved (1997) yang ditulis Jose Friedl, diceritakan Tamara dan Che telah melakukan hubungan gelap dan menikah semasa mengikuti pelatihan di Praha pada 1965.

Akan tetapi, di tengah rumor yang bertiup tentang Tamara, ibunya Nadia Bunke berusaha mendapatkan kebenaran. Pada 1997, Nadia pergi ke Moskow dan meminta pernyataan tertulis KGB tentang status Tamara. Nikolai Sergeyevich Leonov, pensiunan jenderal intelijen Soviet menegaskan pihaknya tak mempunyai hubungan dengan Tamara.

Rumor hubungan romantis Tania-Che juga dibantah. Menurut Ulises Estrada dalam Tania: Undercover with Che Guevara in Bolivia (2005) keduanya memang pernah berada di Praha, tapi tidak pada waktu bersamaan. Pengadilan Jerman menganggap buku Tania, the Woman Che Guevara Loved dianggap menghina dan hanya berisikan tuduhan tak benar tentang Tamara serta menariknya dari peredaran.

Infografik Tamara Bunke Sang Gerilyawan


Ana Montes, Penerus Tamara Bunke dari Amerika

Kisah yang mirip dengan Tamara Bunke datang dari sosok Ana Montes. Ana merupakan analis Badan Intelijen Pertahanan (DIA) Pentagon sembari menjadi agen rahasia untuk Kuba. Ana membocorkan rahasia militer Amerika Serikat kepada Kuba dalam rentang 1985 hingga 2001.

Sikap Ana yang membelot dipicu oleh ketertarikan pada Kuba sejak duduk di bangku perkuliahan serta kekecewaannya terhadap kebijakan luar negeri pemerintah Amerika Serikat yang menurutnya congkak. Terutama kala Ronald Reagan menjadi presiden dan merecoki negara-negara Amerika Latin dengan dalih memberantas komunisme. Melihat kondisi semacam itu, pihak Kuba pun mulai mendekati Ana kemudian merekrutnya sebagai agen rahasia.

Pada 1985 Ana diterima di Badan Intelijen Pertahanan (DIA) Pentagon yang bertugas menangani rahasia militer Amerika Serikat. Saat bersamaan, menurut keterangan FBI, Ana juga telah menjadi mata-mata Kuba. Perjalanan rahasia pertama Ana ke Kuba dilakukan pada tahun yang sama.

Selama bekerja di Badan Intelijen Pertahanan Pentagon, Ana menggunakan teknik spionase agar peran gandanya tak terendus pihak lain. Menurut FBI, alasan Ana mampu merahasiakan peran rahasia hingga belasan tahun ialah karena Ana tak pernah membawa pulang dokumen atau berkas elektronik yang sifatnya rahasia.

Sebagai gantinya, Ana mengingat segala hal secara rinci yang tertera dalam dokumen terkait kemudian sesampainya di rumah, Ana mengetiknya di layar komputer. Selanjutnya, Ana memindah informasi tersebut ke dalam cakram yang sudah dienkripsi. Ana akan menerima instruksi melalui radio gelombang pendek yang berisikan pesan di mana Ana harus menyerahkan cakram tersebut kepada kontak dari Kuba.

Baca juga: Saat Kuba Mulai Dibuka

Atasan Ana bukannya tak curiga. Suatu waktu pada 1996, Ana pernah diinterogasi karena telah melanggar protokol. Scott Carmichael, seorang petinggi Badan Intelijen Pertahanan Pentagon merasa ada yang disembunyikan Ana. Namun, dugaan Carmichael sebatas asumsi tanpa adanya tindak lanjut.

Empat tahun kemudian, FBI menggelar operasi pencarian mata-mata yang menyusup dalam dinas pertahanan Amerika dan bekerja untuk Kuba. Dalam catatannya, mata-mata tersebut telah melakukan perjalanan ke Pangkalan Angkatan Laut Amerika di Teluk Guantanamo, Kuba. Ketika Carmichael membuka riwayat perjalanan karyawannya ke Guantanamo, muncul satu nama: Ana Montes.

FBI dan Carmichael mulai menyusun rencana penangkapan. Langkah pertama yang dilakukan ialah membuktikan bahwa Ana merupakan mata-mata Kuba. Pada 1996, FBI memperoleh tempat pembuatan komputer dengan merek dan model tertentu yang digunakan Ana untuk menjalin kontak bersama Kuba. Toko tersebut terletak di Alexandria, Virgina. FBI lalu meminta rekaman yang menghubungkan dengan komputer Ana guna dilakukan pemeriksaan terperinci.

Selanjutnya, FBI menyadap Ana. Dalam penyadapannya, FBI menemukan sistem kode yang digunakan Ana untuk berkomunikasi dengan orang Kuba melalui telepon umum dan pager. Selepas kode didapatkan, FBI mulai menguraikan pesan yang dikirim Ana ke orang-orang Kuba.

Tatkala dugaan sudah terbukti kuat, pada 21 September 2001 FBI menangkapnya dan perjalanan mata-mata Ana Montes resmi berakhir.

Pengadilan menghukumnya 25 tahun penjara serta masa percobaan lima tahun karena bersalah atas tuduhan konspirasi untuk melakukan spionase. Selain itu, Ana bersedia memberi segala informasi mengenai keterlibatannya dengan Kuba termasuk adanya indikasi empat perwira intelijen Amerika Serikat yang menjalin kontak serupa dengan Kuba.

Baca juga artikel terkait KUBA atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight