tirto.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen membangun kota dengan prinsip berkelanjutan guna menjamin kualitas hidup generasi mendatang. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menambah ruang terbuka hijau (RTH). Komitmen ini diwujudkan melalui penataan kawasan Barito di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, yang dimulai pada Jumat (8/8) lalu.
Dalam penataan tersebut, Pemprov DKI Jakarta akan mengintegrasikan tiga taman di kawasan itu—yakni Taman Langsat, Taman Leuser, dan Taman Ayodya—menjadi Taman Bendera Pusaka. Lebih dari sekadar ruang terbuka, ketiga taman ini memiliki peran penting sebagai area resapan air, penyeimbang ekosistem, sekaligus ruang interaksi sosial bagi masyarakat.
Nanik (50), salah satu pengunjung Taman Langsat, turut menyampaikan pandangannya terkait rencana penataan tiga taman di kawasan Barito itu. Dia mengaku mendukung upaya Pemprov DKI Jakarta untuk memperindah dan menata ulang kawasan taman, tapi juga berharap agar akses masuk ke taman tetap mudah.
“Menurut saya kondisi taman di sini sekarang udah bagus. Tapi, kalau rencananya mau ditata lagi sih, saya setuju banget. Saya sebagai pengunjung taman cuma minta satu, gimana caranya biar nanti setelah direvitalisasi akses masuk buat masyarakat gak dipersulit,” ujarnya saat berbincang dengan Tirto di Taman Langsat, Senin (11/8/2025).
Bagi Nanik, keberadaan taman-taman di kawasan Barito memiliki makna penting. Bukan hanya sebagai ruang terbuka hijau, tapi juga sebagai tempat untuk interaksi sosial dan berkegiatan bersama keluarga. Tinggal tak jauh dari lokasi taman, Nanik mengaku kerap mengajak cucunya untuk bermain dan menikmati suasana taman.
“Cucu saya seneng banget main di sini. Kalau jam-jam segini [sore] biasanya banyak temennya. Semoga nanti setelah direvitalisasi jadi lebih bagus ya,” ujarnya.
Tirto juga bertemu dengan Arianti dan Jihan, dua remaja berusia 20 tahun asal Jakarta Pusat yang sedang menikmati sore di Taman Ayodya. Keduanya mengaku baru pertama kali datang ke taman ini dengan tujuan refreshing.
“Ke sini niatnya buat sekadar main-main aja. Kalau buat ngobrol sama teman tuh taman ini bagus banget sih. Soalnya kalau panas gitu ada tempat neduhnya. Kaya ada gazebo-gazebo gini, jadi enggak takut kepanasan dan kehujanan,” ujarnya saat ditemui Tirto di Taman Ayodiaa, Senin (11/8/2025).
Selama beberapa jam di taman, Arianti dan Jihan melakukan berbagai aktivitas, mulai dari menyantap makanan ringan, membuat konten foto dan video, hingga berbagi cerita satu sama lain. Mereka berharap taman ini terus dikembangkan demi kenyamanan bersama. Keduanya sangat mendukung rencana penataan ulang taman untuk kenyamanan warga. Meski demikian, Arianti dan Jihan memberikan satu masukan terkait fasilitas yang dirasa masih perlu ditingkatkan.
“Kalau dari kami mungkin masukannya ada kamar mandi aja sih untuk diperhatikan atau diperbagus lagi,” ujar keduanya.

Manfaat Ekologis Taman
Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, M. Fajar Sauri, menjelaskan, dengan luas sekitar enam hektar, Taman Bendera Pusaka didesain untuk menghadirkan harmoni dalam ekologi alam. Di tengah kepadatan kota, keberadaan ruang hijau harus dipertahankan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
”Salah satu yang dipertimbangkan dalam desain taman adalah aspek ekologi. Dengan mengembalikan ekosistem alami taman sebagai paru-paru kota, kami berupaya melestarikan pohon-pohon existing untuk menjaga sumber daya yang sudah ada dan meningkatkan kualitas lingkungan,” ujarnya, Jumat (8/8/2025). dikutip dari situs resmi Pemprov Jakarta.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, menyatakan, pihaknya tengah menyiapkan berbagai infrastruktur pengendali banjir dan sistem sanitasi modern sebagai bagian dari pembangunan Taman Bendera Pusaka. Langkah ini diambil agar taman tidak hanya menjadi ruang terbuka yang indah, tapi juga berfungsi secara ekologis dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Ika menyebut bahwa Dinas SDA Jakarta akan mengintegrasikan Taman Langsat dan Taman Leuser dengan kolam retensi. Panjang badan air yang menghubungkan keduanya mencapai 750 meter.
“Di situ, kami akan membangun infrastruktur pengendali banjir berupa pintu air, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), saringan sampah, dan sediment trap. Kami juga akan memperbaiki saluran drainase di sekeliling taman. Hal ini untuk membantu mereduksi debit limpasan air ke Hang Lekir, Hang Jebat, dan sekitarnya saat musim hujan," ungkap Ika, di Jakarta, Jumat (8/8/2025).
Upaya memperkuat fungsi ekologis dalam penataan kawasan Barito juga mendapat dukungan dari pakar bioteknologi lingkungan dan tata kelola air dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) yang juga menjabat sebagai Koordinator Staf Khusus Gubernur Jakarta, Firdaus Ali.
Firdaus mengungkapkan, penataan tiga taman di Jakarta Selatan itu akan mengedepankan peran tata kelola air yang modern. Dengan demikian, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka untuk rekreasi dan aktivitas sosial, tapi juga berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Dia menambahkan, penataan dan integrasi ketiga taman ini dimaksudkan untuk menyediakan ruang publik terpadu yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat luas. Konsep ini menggabungkan fungsi ruang terbuka hijau, ruang terbuka biru, serta area rekreasi yang mendukung kegiatan olahraga, seni, dan budaya.
"Dengan integrasi ini, kawasan tersebut dapat menjadi pusat kegiatan yang nyaman, hijau, dan bernilai ekologis tinggi bagi masyarakat dalam konteks kota global yang berbudaya dan berkelanjutan," pungkas Firdaus.

Jadi Ikon Baru Jakarta
Nama Taman Bendera Pusaka dipilih sebagai simbol semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Layaknya rajutan benang Sang Saka Merah Putih yang dijahit Fatmawati, tiga taman dihubungkan sebagai satu kesatuan ruang. Semangat ini membawa pesan untuk menyatukan kekayaan alam sebagai ruang publik yang bermanfaat bagi banyak orang.
Taman Bendera Pusaka terletak di kawasan Kebayoran Baru yang dirancang oleh Insinyur M. Soesilo pada 1948 dengan menerapkan konsep kota taman, yaitu mengutamakan ruang terbuka hijau sebagai fasilitas publik.
Taman Bendera Pusaka didukung oleh akses transportasi publik yang memadai, seperti MRT dan Transjakarta, sehingga memudahkan warga mengakses taman tanpa kendaraan pribadi.
Pakar tata kota yang saat ini menjabat sebagai Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Nirwono Joga, menjelaskan, penataan tidak hanya dilakukan di dalam taman sebagai RTH. Kawasan di sekitarnya pun akan ditata demi kenyamanan sekaligus mendorong mobilitas hijau bagi warga Jakarta.
”Kita mengharapkan orang yang datang ke taman menggunakan transportasi hijau, seperti menggunakan transportasi publik atau berjalan kaki. Sehingga, otomatis trotoar harus direvitalisasi untuk menghubungkan tiga taman. Jadi, menuju tempat hijau dengan cara yang hijau," ujarnya dikutip dari situs Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kamis (7/8/2025).
Seiring berjalan waktu, lokasi taman yang berada di sekitar Blok M ini juga menjadi sentra ASEAN. Oleh karenanya, penataan taman dilakukan dengan standar internasional dengan mengedepankan aspek keberlanjutan. Hal ini sejalan dengan upaya Jakarta sebagai kota global.
”Ini merupakan upaya mengembalikan sejarah kota dengan kawasan Kebayoran, juga sejarah bangsa Indonesia dengan bendera pusakanya, serta sejarah internasional dengan keberadaan ASEAN, sebagai upaya mewujudkan Jakarta sebagai kota global,” tambah Nirwono.

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Pantas Nainggolan, menilai pembangunan Taman Bendera Pusaka memiliki makna yang lebih dari sekadar penambahan RTH. Menurutnya, taman tersebut akan menjadi sebuah ikon baru yang merepresentasikan nilai-nilai sejarah dan kebanggaan bagi warga Jakarta.
"Pemulihan ruang terbuka hijau menjadi kunci membangun Jakarta yang berkelanjutan. Taman Bendera Pusaka akan menjadi simbol komitmen itu, sekaligus mengingatkan generasi mendatang pada sejarah kemerdekaan," ujarnya dilansir dari Antara, Sabtu (9/82025).
Lebih lanjut, Pantas menilai pembangunan Taman Bendera Pusaka sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) serta target menjadikan Jakarta sebagai bagian dari 50 besar kota global pada 2029 dan 20 besar dunia dalam dua dekade mendatang.
"Langkah ini harus konsisten dan terintegrasi dengan program pembangunan lain. Memang tidak semua akan setuju, tapi tujuan kita jelas Jakarta yang hijau, layak huni, dan membanggakan di mata dunia," ujarnya.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































