21 April 1938

Syair dan Pemikiran Muhammad Iqbal, Politikus Pencetus Pakistan

Oleh: Muhammad Iqbal - 21 April 2021
Dibaca Normal 5 menit
“Pada saat-saat paling sulit yang kualami di Liga Muslim, Iqbal bagaikan batu karang. Sekejap pun dia tidak pernah tergoyahkan."
tirto.id - Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab, India, pada 9 Oktober 1877. Ia masyhur sebagai penyair, politikus, dan filsuf Islam. Iqbal dianggap salah satu tokoh terpenting dalam sejarah sastra Urdu dan Persia. Ia juga ditahbiskan sebagai bapak spiritual Pakistan karena mencuatkan ide pendirian negara tersebut.

Sebagai filsuf, Iqbal terkenal dengan konsep khudi (pribadi, diri, selfhood). Ia oleh orientalis terkemuka asal Jerman, Annemarie Schimmel, dikategorikan sebagai filsuf profetik. Pemikirannya banyak dipengaruhi Rumi, al-Ghazali, Goethe, Nietzche, dan Bergson.

Karya-karya Iqbal antara lain: Ilm ul Iqtisad (prosa, 1903); puisi-puisi berbahasa Persia: Asrar-i-Khudi (1915), Rumuz-i-Bekhudi (1917), Payam-i-Mashriq (1923), Zabur-i-Ajam (1927), Javidnama (puisi, Persia, 1932), Pas Cheh Bayed Kard ai Aqwam-e-Sharq (1936), Armughan-e-Hijaz (1938); puisi-puisi berbahasa Urdu: Bang-i-Dara (1924), Bal-i-Jibril (1935), Zarb-i Kalim (1936); buku dalam bahasa Inggris: The Development of Metaphysics in Persia (1908) dan The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1930).

Untaian Syair Cinta untuk Rasulullah

“Tidak ada orang yang menganggap Iqbal sebagai nabi, tetapi kita bisa mengakui bahwa dia telah disentuh oleh sayap Jibril,” ujar Annemarie Schimmel.

Dalam Gabriel’s Wing: Study into the Religious Ideas of Sir Muhammad Iqbal (1989), Schimmel menyebut karya Iqbal merupakan pintalan pelbagai nuansa yang menarik yang berkisar dari fundamentalisme Islam hingga teori-teori ilmiah paling mutakhir dari Barat, dari penerbangan-penerbangan mistikal ke hadirat Tuhan sampai analisis-analisis rasional perihal fenomena spiritual.

Pelbagai tema ini nyata sekali dalam karyanya yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1930), dalam beberapa artikel berbahasa Inggris, juga hadir dalam baris sajak berbahasa Urdu dan Persia.

Lukisan-lukisan arkais yang sudah dikenal oleh pembaca muslim selama berabad-abad, diambil dalam puisinya dan diberi kandungan baru. Rasulullah tampil dalam karya Iqbal laksana dalam karya-karya beribu penyair dan pemikir terdahulu sebagai tokoh sentral bagi kehidupan spiritual muslim. Tokoh yang mengungkapkan dirinya dalam bidang-bidang yang senantiasa berubah. Dan yang penggambarannya oleh Iqbal berpuncak pada kenyataan nan berani dalam Javidnama (1932):

"Tuhan dapat kau ingkari, namun Nabi tidak!"

Setelah menyelesaikan studinya dalam filsafat dan hukum di Cambridge, Iqbal menghabiskan sekitar enam bulan di Jerman pada 1907. Di sana ia menjadi pengagum Goethe yang bersemangat. Bagi Iqbal, karya Goethe merupakan wujud tertinggi puisi kreatif.

Tahun 1923, Iqbal menyusun Payam-i Masyriq (Pesan dari Timur) sebagai jawaban dalam bahasa Persia terhadap West–östlicher Divan (kumpulan puisi Goethe). Dalam prakatanya Iqbal menulis bahwa Goethe telah menunjukkan perhatian kepada hal-hal Islami sejak muda. Syair Goethe, “Mohamet Gesang”, yang ditulis tatkala ia sedang merencanakan sebuah drama tentang Muhammad pada 1772, mengilhami Iqbal sedemikian rupa sehingga mempersembahkan kepada pembacanya sebuah versi Persia dalam Payam-i Masyriq.

"Betapa menakjubkan! Samudra tak bertepi –

bagaimana ia mengalir, mabuk,

Begitu khas dalam dirinya, asing bagi segala lainnya, ia mengalir!"

Lukisan Iqbal perihal sungai sebagai metafora untuk bukti kenabian sangat dekat dengan pemikiran mistikal Islami. Teolog Syi’ah abad pertengahan, Al-Kulaini, bahkan mengutip sebuah perkataan yang dinisbahkan kepada ‘Ali ibn Abi Thalib: “Siapakah sungai besar itu? Rasulullah dan pengetahuan yang telah diberikan kepadanya.”

Annemarie Schimmel dalam And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety (1985: 344-68) menjelaskan, keyakinan Iqbal kepada pelbagai kekuatan Nabi tampak sekuat keyakinan berjuta-juta orang mukmin sebelumnya.

Ketika Iqbal menetap di Bhopal, India, pada 1936, dalam keadaan sakit yang serius, Iqbal melihat dalam mimpinya sosok pembaru Sir Sayyid Ahmad Khan, kakek tuan rumahnya, Sir Ross Masood. Sir Sayyid menasihati Iqbal agar berpaling kepada Rasulullah dan memohon kepadanya agar diberi kesembuhan. Iqbal pun segera menggubah sebuah syair agak panjang yang di dalamnya melukiskan situasi politik orang-orang muslim yang menyayat jantung, juga memohon pertolongan Nabi untuk menyembuhkan sakitnya.

Iqbal terpengaruh oleh Burdah karya Imam al-Bushiri, dan kepercayaan akan daya penyembuhnya, karena ia menyebutkan syair Burdah--juga salawat Nabi--dalam kesempatan-kesempatan lainnya.

Bagi Iqbal, seperti juga bagi para teolog dan sufi sebelumnya, Nabi Muhammad adalah segi aktivitas Tuhan yang dapat dilihat. Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata manusia (al-Qur’an surah 6, ayat 103), tapi Nabi dapat dilihat dan diraba. Maka itu, Iqbal berpaling kepada Nabi, baik dalam memohon diberi kesembuhan, maupun untuk memujinya. Hal ini terutama terjelaskan dalam baris-baris sajak terakhirnya, yang diterbitkan sesudah Iqbal wafat dengan judul Armaghan-i Hijaz (Karunia Hijaz).

Dalam pemikiran Iqbal, menurut Sevcan Ozturk dalam Becoming a Genuine Muslim: Kierkegaard and Muhammad Iqbal (2018), peran Nabi Muhammad sebagai "hamba-Nya" memiliki arti khusus, sebab manusia ideal, mard-i momin, berbeda dengan Manusia Super-nya Nietzche.

Manusia Super Nietzche muncul “ketika Tuhan mati”, tetapi mard-i momin yang berlomba meneladani Nabi Muhammad, adalah hamba Allah paling sempurna. Hal ini pada dasarnya adalah konsep tarekat sufi: "sadar" (tidak sampai mabuk dalam penyatuan mistis), qurb al-fara’idh “kedekatan dengan Allah yang disebabkan karena sungguh-sungguh meneladani Nabi”, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban di dunia.

Karya Iqbal mencakup interpretasi-interpretasi teologis, mistis, dan sosiologis tentang Nabi Muhammad. Namun, menjelang akhir hayatnya, Iqbal berpaling kembali kepada Rasulullah sebagai sahabat nan setia, penuh kasih sayang dan menyenangkan, serta berlantun dengan kata-kata sederhana. Hampir seperti salah satu penyair rakyat di tanah tumpah darahnya, Punjab, tentang kerinduannya akan tempat terakhir peristirahatan Nabi:

"Bak seekor burung yang, dalam malam gurun,

Membentangkan sayap-sayapnya kala memikirkan sarangnya."

Dan dalam sebuah lukisan yang tak terlupakan, Iqbal mengikhtisarkan apa yang telah dan masih dirasakan oleh berjuta-juta muslim selama berabad-abad tentang Nabi:

"Cinta kepada Nabi mengalir laksana aliran darah

di dalam pembuluh-pembuluh umatnya."

Berjuang dalam Gelanggang politik

Menurut Souleymane Bachir Diagne dalam Islam and Open Society Fidelity and Movement in the Philosophy of Muhammad Iqbal (2011), filsafat Iqbal merupakan filsafat harapan, kerja, jihad, dan pengorbanan diri. Sedangkan seruannya adalah seruan kehormatan, kemuliaan, dan kebebasan.

Iqbal tak jemu mendorong berbagai bangsa untuk berjuang demi kebebasan dan kehormatannya. Seruannya ditujukan kepada seluruh umat manusia, khususnya kaum muslimin. Seruan dan filsafatnya didasarkan pada sejarah Islam. Sajak-sajak Iqbal, kelak menjadi lagu-lagu perjuangan kaum muslimin di India dan Pakistan.

Iqbal mengepalai pelbagai pertemuan politik dan menjadi tulang punggung Liga Muslim. Bagi Muhammad ‘Ali Jinnah, Iqbal adalah seorang karib, tokoh, dan filsuf.

“Pada saat-saat yang paling sulit yang kualami di Liga Muslim, Iqbal bagaikan batu karang. Sekejap pun dia tidak pernah tergoyahkan,” kenang Jinnah.


Pada 1926, sejumlah sahabat Iqbal mendorongnya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan Majelis Legislatif di Punjab. Iqbal setuju dan ia pun terpilih. Sementara pada 1930, Iqbal menjadi ketua konferensi tahunan Liga Muslim di Allahabad.

Kondisi muslim India kala itu sangat buruk hingga membutuhkan pemimpin yang tangguh. Dalam konferensi itu Iqbal menyampaikan pidato yang didukung oleh argumentasi filosofis, sosial, dan moral. Ia mengingatkan bahwa persatuan India demikian sulitnya dan tidak mungkin terjadi keseiringan pendapat, kecuali ada pengakuan dari satu kelompok kepada kelompok lain, serta bahu-membahu antara satu sama lain.

Pada 1937, ia mengirim surat kepada Muhammad ‘Ali Jinnah, ketua Liga Muslim. “Jalan terbaik yang bisa mengantarkan pada perdamaian di India dalam kondisi yang demikian, hendaknya negeri ini dibagi berdasarkan prinsip-prinsip ras, keagamaan, dan bahasa,” tulisnya.

Iqbal adalah orang yang pertama kali menyerukan pembagian India, sehingga kaum muslim mempunyai tanah air sendiri. Seruan ini, menurut sebagian pendapat, merupakan seruan yang aneh. Sebagian orang memandangnya sebagai impian orang gila. Namun, seruan Iqbal kemudian menjadi kenyataan dengan lahirnya Pakistan pada 14 Agustus 1947, sembilan tahun setelah Iqbal wafat pada 21 April 1938, tepat hari ini 83 tahun lalu.

Infografik Mozaik Muhammad Iqbal
Infografik Mozaik Muhammad Iqbal. tirto.id/Sabit

Gelar Sir

Warsa 1922, seperti dicatat Abdul Wahhab ‘Azzam dalam Filsafat dan Puisi Iqbal (1985: 37-8), seorang wartawan Inggris yang sedang mengelilingi dunia Timur, datang ke Lahore. Sang wartawan telah mendengar ketenaran karya sastra Iqbal. Dia kemudian memberi saran kepada pemerintahnya untuk memberi gelar Sir pada penyair besar itu.

Maka Iqbal pun mendapat undangan dari penguasa Inggris di Punjab untuk pertama kalinya. Salah seorang sahabatnya, Mirza Jalaluddin, menuturkan bahwa Iqbal pertama-tama menolak undangan itu, namun dia mendorong dan membawa Iqbal dengan keretanya ke gedung penguasa kolonial itu.


Iqbal mula-mula ditawari berbagai gelar yang lebih rendah dari gelar Sir, tapi ia tolak. Lantas Iqbal ditawari gelar Sir, dan ia tolak lagi. Namun salah seorang sahabatnya, Sir Zulfikar ‘Ali Khan, meminta dengan sangat pada Iqbal agar gelar itu diterimanya. Akhirnya, Iqbal mau menerima gelar Sir dengan syarat gurunya yang merupakan ahli sastra Arab dan sastra Persia, yakni Mir Hasan, diberi gelar Syams al-Ulama. Penguasa Inggris menyetujuinya.

Gelar Sir tidak berpengaruh terhadap jiwa dan karya sang penyair. Sepanjang hayatnya, Iqbal tetap mengembuskan kehidupan, kekuatan, perjuangan, dan seruan terhadap kebebasan dan penentangan terhadap para tiran. Dan secara khusus, Iqbal tetap memberikan semangat terhadap kaum muslimin, serta menimbulkan kesadaran tentang posisi mereka di dunia dan kedudukannya dalam sejarah.

Jatuh Sakit dan Mangkat

Pertengahan 1930-an, penyakit mulai menimpa sang penyair. Menurut penulis biografi Muhammad Iqbal, Zafar Anjum, dalam Iqbal: The Life of a Poet, Philosopher and Politician (2014), Iqbal menderita sakit kencing batu. Kemudian pada 1935, Iqbal kehilangan suaranya. Berbagai penyakit semakin banyak menimpanya, dan sedikit demi sedikit fisik Iqbal kian melemah.

Sakit Iqbal mencapai puncaknya pada April 1938. Dan keadaannya yang paling kritis terjadi pada 19 April 1938. Sehari sebelum wafat, Iqbal berkata kepada seorang sahabatnya dari Jerman: “Aku seorang muslim yang tidak takut pada kematian. Apabila ajal itu datang, ia akan kusambut dengan tersenyum.”

Sebagaimana dituturkan oleh Raja Hasan--waktu malam berpulangnya Iqbal, dia mengunjunginya--sepuluh menit sebelum meninggal dunia, Iqbal membacakan sajaknya:

"Melodi perpisahan kan bergema kembali atau tidak

Angin Hijaz kan berembus kembali atau tidak

Saat-saat hidupku kan berakhir

Pujangga lain kan kembali atau tidak"

Juga sajaknya yang lain:

"Kukatakan padamu ciri seorang Mukmin

Bila maut datang, akan merekah senyum di bibir"

Iqbal meletakkan tangan pada jantungnya dan berkata, “Kini, sakit telah sampai di sini.” Ia merintih sebentar, kemudian kembali pada Khaliknya. Maut dia sambut dengan hati yang tenang. Sang penyair dimakamkan di komplek permakaman Masjid Shahi yang didirikan oleh Muhyiddin Aurangzeh, di mana pada masanya dinasti Islam di tanah India mencapai puncak keemasan.

Baca juga artikel terkait MUHAMMAD IQBAL atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Irfan Teguh
DarkLight