Charta Politika

Survei: Suara PPP Semakin Turun Usai Romahurmuziy Ditangkap KPK

Oleh: Felix Nathaniel - 4 April 2019
Muslimin menyatakan, salah satu faktor menurunnya elektabilitas PPP adalah kasus Romahurmuziy yang ditangkap KPK.
tirto.id - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengalami penurunan elektabilitas berdasarkan survei Charta Politika Indonesia. Dalam survei yang dilakukan pada 19-25 Maret tersebut, PPP hanya mendapat elektabilitas 2,4 persen.

Menurut Direktur Riset Charta Politika, Muslimin, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah penangkapan mantan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy.

"Terutama ketika ketua umumnya kena OTT KPK. Kebetulan survei kita dilakukan saat OTT. Penurunan ini sedikit banyak berpengaruh karena ketumnya terkena OTT," kata Muslimin di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (4/4/2019).

Muslimin menegaskan, belakangan ini suara PPP memang cenderung turun dan semakin menjauh dari ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

"Ada partai lama yang relatif turun, yaitu PPP. PPP kalau dilihat angkanya dari 4,3 kemudian 3,6 kemudian (sekarang) 2,4 persen," katanya.

Dalam survei Charta Politika ini juga menunjukkan, ada lima partai yang elektabilitasnya masih di bawah 2 persen.

Kelima partai tersebut adalah Hanura (1 persen), PBB (0,5 persen), PKPI (0,2 persen), Garuda (0,2 persen), dan Berkarya (0,1 persen).

Muslimin mengatakan, jika angkanya di bawah 2 persen, maka partai tersebut terancam tak masuk ke parlemen.

"Lima partai ini saya rasa agak terancam tidak lolos ke Senayan," kata Muslimin.

Sedangkan elektabilitas paling tinggi masih dikuasai oleh partai besar seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Gerindra dan Golkar. Di bawah mereka ada PKB dan Partai Demokrat.

Survei Charta dilakukan dengan melibatkan 2.000 responden dari 34 provinsi di Indonesia. Margin of error survei ini 2,19 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.


Baca juga artikel terkait PILEG 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight