Studi: Virus Corona Semakin Menular Saat Gejala Masih Ringan

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 19 Maret 2020
Dibaca Normal 1 menit
Hasil temuan tersebut dipublikasikan oleh medRxiv (pdf) yang juga merupakan hasil penelitian awal dan hanya melibatkan sembilan partisipan.
tirto.id - Sebuah penelitian menunjukkan virus Corona (SARS CoV-2) akan semakin menular saat gejala masih ringan. Sebaliknya, kemungkinan menular semakin kecil ketika gejala sudah semakin parah.

Hasil temuan tersebut dipublikasikan oleh medRxiv (pdf) yang juga merupakan hasil penelitian awal dan hanya melibatkan sembilan partisipan.

Meski belum dilakukan peer-review, penelitian ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengetahui penyebab penularan virus Corona yang terjadi begitu cepat.

"Ini sangat kontras dengan SARS," tulis para peneliti. SARS merupakan penyakit terkait yang juga disebabkan oleh virus Corona dengan jenis yang berbeda.

Pada pasien SARS, pelepasan virus memuncak sekitar tujuh hingga 10 hari ke dalam penyakit, karena infeksi menyebar dari saluran pernapasan atas ke jaringan paru-paru yang dalam.

Sementara, penelitian menunjukkan, tujuh pasien dengan COVID-19 pelepasan virus memuncak sebelum hari kelima dan 1.000 kali lebih tinggi daripada yang terlihat pada pasien SARS.

Puncak ini muncul kemudian pada dua pasien yang infeksinya telah berkembang ke paru-paru dan memicu tanda-tanda pertama pneumonia.

Dalam kasus yang parah, pelepasan virus mencapai tingkat maksimum sekitar hari 10 atau 11. Pada kasus yang ringan, pelepasan virus menurun secara stabil setelah hari kelima dan pada hari kesepuluh pasien kemungkinan tidak menularkan virusnya lagi.

Namun, para ilmuwan mengidentifikasi sembilan orang ini beberapa saat setelah mereka terkena virus Corona, jadi para peneliti tidak tahu pasti kapan tepatnya orang mulai mengeluarkan virus dilansir dari Science News.

Setelah hari kedelapan gejala, para peneliti masih bisa mendeteksi materi genetik virus, RNA, pada sampel pasien, tetapi tidak bisa lagi menemukan virus yang menular.

Hal tersebut adalah indikasi bahwa antibodi yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh terhadap SARS-CoV-2 membunuh virus yang keluar dari sel.

Dilansir dari Live Science, pasien dapat melakukan isolasi rumah pada awal gejala atau sebelum hari kesepuluh dengan catatan, sampel cairan dari tenggorokan mereka mengandung kurang dari 100.000 salinan materi genetic virus per milliliter.

Seorang profesor dari Universitas Luqwig-Maximilians mengatakan temuan ini dapat dijadikan dasar bahwa pertemuan dan acara-acara besar seperti konferensi dan acara olahraga harus dibatalkan.

Dilansir dari The New York Post, hal ini disebabkan virus dapat menyebar bahkan pada pasien yang tampaknya tidak sakit.

Sementara, profesor virology molekuler di Universitas Nottingham mengatakan penelitian ini menunjukkan tingkat replikasi dan pelepasan virus yang cukup tinggi pada individu yang memiliki gejala pilek, daripada infeksi pernapasan seperti batuk atau sesak napas dari The New York Post.

Sehingga masyarakat harus menyadari hal ini untuk kepentingan kesehatan masing-masing.

Kasus virus Corona terbaru atau dikenal dengan COVID-19 telah melonjak naik setidaknya 218.777 kasus terkonfirmasi per Kamis (19/3/2020) pukul 11.13 menurut peta global John Hopkins.

Sementara, angka kematian telah mencapai 8.810 jiwa dan 84.113 orang telah berhasil sembuh.


Baca juga artikel terkait CORONA atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight