Strategi Digital Provider Telekomunikasi

Ilustrasi bisnis digital. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 3 Juli 2017
Dibaca Normal 3 menit
Ingin mencicipi manisnya dunia digital, provider telekomunikasi berlomba-lomba membangun perusahaan digital.
Penggunaan internet semakin besar. Laporan dari Cisco menyebut, pada tahun 2016, lalu-lintas mobile data mencapai 7,2 exabyte per bulan. Angka ini memang tak mengherankan mengingat beragam layanan, mulai dari informasi, telekomunikasi, hingga hiburan, semua berjalan di atas infrastruktur internet.

Perusahaan Over The Top alias OTT, penyedia layanan yang berjalan di atas infrastruktur internet, menangguk untung besar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan perusahaan provider telekomunikasi (sekaligus juga perusahaan provider internet), alias perusahaan yang menyediakan jasa infrastruktur telekomunikasi dan internet.

Alphabet misalnya. Perusahaan induk Google tersebut, yang menyajikan beragam layanan digital yang berdiri di atas jaringan internet itu, pada tahun 2016 lalu, memperoleh pendapatan sebesar $90,27 miliar. Dari pendapatan tersebut, Alphabet memperoleh laba bersih sebesar $19,47 miliar.

Selain Alphabet, ada pula Facebook dengan ragam layanannya yang menangguk untung besar dari layanannya. Mengutip data Statista, pada tahun 2016, Facebook memperoleh pendapatan sebesar $27,6 miliar. Laba bersihnya mencapai $10,2 miliar.

Hasil moncer perusahaan-perusahaan digital tersebut, berbeda jauh dibandingkan provider telekomunikasi. Verizon, salah satu provider telekomunikasi terbesar di dunia, pada tahun 2016 lalu, memperoleh pendapatan hingga $126 miliar. Sayangnya, laba bersih perusahaan itu hanya berada di angka $13,12 miliar. Hal senada dialami oleh AT&T. Pada tahun 2016 lalu, mereka berhasil memperoleh pendapatan senilai $163,8 miliar. Namun, laba bersih yang dikantongi hanya sebesar $13,33 miliar.

Secara sederhana, perusahaan digital bisa untung karena biaya operasional mereka jauh lebih murah bila dibandingkan dengan biaya operasional perusahaan provider telekomunikasi.

Selain itu, OTT merupakan pasar yang sangat besar. Merujuk riset Market and Market, nilai pasar OTT diperkirakan akan berada di angka $62,03 trilun pada tahun 2020 kelak.

Dengan fakta-fakta tersebut, perusahaan provider telekomunikasi jelas tergiur mencicipi manisnya dunia yang selama ini dinikmati perusahaan digital seperti Google, Facebook, hingga Amazon.

Tapi, masuk ke pasar OTT jelas bukan perkara mudah. Salah satu kesulitan yang bisa diderita perusahaan provider telekomunikasi, adalah karena layanan OTT memiliki ragam yang cukup banyak. Ada layanan digital seperti aplikasi chat sebagaimana WhatsApp, WeChat, maupun Line. Ada pula layanan digital jual beli atau biasa disebut e-commerce. Atau ada pula layanan informasi digital seperti media online. Bisa dibilang, layanan digital terbilang sangat beragam dan sangat masif jumlahnya.

Mengutip data StartUp Britain yang diwartakan oleh The Telegraph, sepanjang januari hingga Juni, setidaknya terdapat 80 perusahaan rintisan baru yang lahir di Inggris sana. Hal tersebut bisa terjadi salah satunya karena dunia digital yang melahirkan kesempatan tak terbatas bagi siapa pun yang ingin membangun perusahaan (terutama perusahaan digital) dengan ragam layanan yang mereka kembangkan.

Atas kenyataan tersebut, strategi adaptasi perusahaan provider telekomunikasi menggenggam dunia digital terbilang berbeda satu dengan yang lainnya. Verizon misalnya, salah satu provider besar itu, mencoba peruntungan dunia digital adalah dengan cara membeli portal AOL senilai $4,4 miliar dan Yahoo senilai $4,48 miliar.

Antara AOL dan Yahoo, jika dicermati, memiliki kesamaan layanan digital. Baik AOL dan Yahoo, salah satu layanan utamanya adalah menghadirkan e-mail gratis bagi para penggunanya. Selain itu, kedua portal juga menghadirkan berita-berita terkini sebagai bagian cara mereka menarik pengunjung.

Sedikit berbeda, AT&T, untuk bersaing di dunia digital, membeli Time Warner senilai $85,4 miliar. Diketahui, Time Warmer merupakan perusahaan di balik HBO dan CNN. Baik HBO dan CNN, memiliki layanan internet yang cukup banyak diminati pengguna.



Di Indonesia, langkah perusahaan provider telekomunikasi dalam beradaptasi dan mengambil potongan manis kue OTT dilakukan dengan cara yang berbeda dibandingkan Verizon maupun AT&T. Telkomsel misalnya. Induk Telkomsel, Telkom mengambil peruntungan bisnis digital dengan membangun portal jualan bernama Blanja.com. Situs e-commerce tersebut merupakan buah kerjasama Telkom, induk Telkomsel dengan eBay.

Selain Telkomsel, langkah serupa juga dilakukan oleh provider telekomunikasi lain di tanah air seperti XL dan Indosat. XL diketahui membangun situs jualan bernama Elevenia. Sementara Indosat, sempat masuk ke bisnis tersebut dengan membangun Cipika.co.id.

Tak mengherankan memang melihat para perusahaan provider telekomunikasi lebih memilih membangun bisnis digitalnya melalui situs e-commerce. Merujuk data Statista, pendapatan e-commerce di Indonesia akan mencapai angka $6,9 miliar di tahun 2017. Menurut perkiraan, pada 2021 nanti, nilai pasar e-commerce Indonesia akan mencapai $14,4 miliar.

Sayangnya, salah satu situs jualan yang dibangun oleh perusahaan provider telekomunikasi di Indonesia, harus tumbang. Per tanggal 1 Juni kemarin, situs Cipika.co.id yang dimiliki oleh Indosat, harus mengakhiri perjalanan mereka lebih awal dibandingkan situs jualan lainnya. Salah satu alasan penutupan layanan tersebut diduga karena kerasnya persaingan di bidang ini.

Prashant Gokarn, Chief Strategy and Digital Services Officer Indosat Ooredoo, dikutip dari TechInAsia mengungkapkan, e-commerce B2C butuh waktu yang lama untuk mencapai keuntungan. "Produk seperti itu cukup menghasilkan, namun tidak bisa berkembang dengan cepat," ujar Gokarn.

Bisnis digital di bidang e-commerce khususnya yang berada di Indonesia, memang memiliki nama-nama yang cukup mengerikan jika ingin dihadap-hadapkan dengan situs serupa buatan para perusahaan provider telekomunikasi. Tokopedia misalnya, e-commerce dengan konsep marketplace tersebut, pada 6 bulan pertama diluncurkan bahkan telah memperoleh total transaksi hingga lebih dari Rp1 milyar.

Selain Tokopedia, ada nama Bukalapak yang bermain di ranah serupa. Perusahaan itu, di tahun 2016 lalu bahkan mencatatkan nilai transaksi hingga $3,8 juta per harinya.

Selain Tokopedia dan Bukalapak, ada pula pemain asing yang bermain-main di bidang e-commerce tanah air yang cukup sukses yang bernama Lazada. Rocket Internet, sang pemilik Lazada sebelum akhirnya menjual perusahaan itu di 2016, dalam laporan keuangan mereka pada 2015 lalu, mencatatkan pendapatan hingga 248 juta Euro dari situs e-commerce tersebut.

Pada akhirnya, perusahaan-perusahaan provider telekomunikasi memang harus memiliki strategi-strategi lain selain meniru model bisnis digital yang telah ada untuk mampu mencicipi manisnya dunia OTT. Jika hal demikian tidak dilakukan, bukanlah hal yang mustahil bahwa perusahaan-perusahaan demikian, hanyalah akan mencicipi manisnya dunia internet, hanya dari infrastruktur jaringan yang mereka sewakan.

Baca juga artikel terkait E-COMMERCE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight