Status Keadaan Tertentu Darurat PMK Dinilai Tepat tapi Terlambat

Reporter: Farid Nurhakim - 3 Jul 2022 17:02 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Selain upaya karantina, pencegahan penyebaran wabah PMK juga harus dilakukan dengan memproduksi vaksin di dalam negeri.
tirto.id - Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman menilai langkah pemerintah Indonesia menetapkan status keadaan tertentu darurat penyakit mulut dan kuku (PMK) sudah sangat tepat, namun agak terlambat.

“Saya kira saat ini sudah sangat tepat ya. Dan walaupun agak terlambat ya menurut saya, untuk kita nyatakan ini sebagai status situasi darurat ya untuk kesehatan hewan,” ujar Dicky ketika dihubungi Tirto pada Minggu (3/7/2022).

Menurut Dicky, selain isolasi atau karantina untuk mencegah penyebaran PMK di tanah air, vaksinasi wabah PMK juga penting dilakukan. Pemerintah, kata Dicky bisa mengupayakan memproduksi vaksin PMK dalam negeri.

“Supaya apa? supaya kita enggak bergantung ya pada vaksin impor itu. Apalagi kita tahu industri ternak kita luar biasa kan dan ini bisa merugikan,” jelas Dicky.

Dicky menuturkan, jika di negara maju seperti Australia, ketika negaranya mendengar ada negara tetangga mereka yang terdeteksi PMK, Australia langsung mengetatkan pintu masuknya. Misalnya, produk-produk olahan daging dan produk-produk daging tidak bisa masuk ke negaranya.

“Itu adalah salah satu contoh ya. Jadi, ini penting untuk dijadikan upaya perbaikan, karena ini kan bukan yang pertama [kali kasus PMK terjadi di Indonesia], walaupun sudah lama kita enggak masuk dalam kategori wabah PMK seperti ini. Dulu tahun 80-an kalau enggak salah ya,” kata Dicky.

Kemudian dia mengatakan bahwa PMK sampai saat ini belum ada potensi untuk membahayakan manusia atau menularkan kepada manusia. Tetapi, saat manusia mengonsumsi produk dari hewan yang memiliki penyakit PMK, tentu akan ada dampak kesehatan dan cenderung bisa berbahaya untuk kesehatan.

“Sehingga, adanya pengendalian dengan cepat ya dalam hal wabah seperti ini menjadi sangat diperlukan ya,” jelas Dicky.

Dicky meminta Kemenkes terus memberikan edukasi wabah PMK ini ke masyarakat. Sedangkan untuk masyarakat, dia mengimbau agar jangan terlalu panik terkait potensi PMK terhadap manusia.

“Selama kita tidak mengonsumsi, tidak kontak erat, potensi itu menjadi kecil. Tetapi harus dicegah. Karena walaupun sampai saat ini tidak terbukti ada penularan pada manusia tapi kalau kita melanggarnya, potensi itu akan menjadi besar,” pungkas Dicky.


Baca juga artikel terkait WABAH PMK atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Bayu Septianto

DarkLight