Soal Dugaan Penembakan di Papua, PDIP: Ini Bukan Kriminal Biasa

Oleh: Felix Nathaniel - 4 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Andreas mendesak pemerintah melindungi warga negara yang menjadi korban saat menyelesaikan proyek pembangunan jembatan Distrik Yall.
tirto.id - Puluhan karyawan PT Istaka Karya yang mengerjakan proyek jalan trans Papua di Distrik Yall, Kabupaten Nduga, Papua, diduga ditembak pada Minggu (2/12/2018). Meski pelakunya belum diketahui, Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira menilai insiden tersebut bukan termasuk kriminal biasa.

"Kejadian penembakan terhadap 31 warga sipil yang adalah pekerja PT Istaka Karya adalah tindakan keji sebagai bentuk perlawanan terhadap NKRI. Ini bukan merupakan tindakan kriminal biasa. Ini adalah teror terhadap negara," kata Andreas melalui keterangan tertulis kepada Tirto, Selasa (4/12/2018).

Sebagai informasi, jumlah korban yang ditembak masih simpang siur, sebagian media yang berbasis di Jakarta menyebut ada 31 orang. Informasi itu merujuk pada keterangan pers yang disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes A.M. Kamal.

Namun, dalam laporan yang ditulis Victor Mambor, jurnalis senior Tabloid Jubi, korban berjumlah 24 orang. Informasi itu didapat Mambor dari Wakil Ketua DPRD Nduga Alimin Gwijange.

Kendati demikian, Andreas mendesak pemerintah untuk melindungi warga negara yang menjadi korban saat menyelesaikan proyek pembangunan jembatan Distrik Yall.

"Baik Polisi maupun TNI harus bahu membahu menjaga keamanan wilayah dan melindungi keselamatan para pekerja," kata Andreas lagi.


Kapolda Papua Irjen Pol Martuani Sormin di Jayapura mengatakan, pengerahan aparat keamanan untuk menyelidiki dugaan pembunuhan ini sudah dilakukan sejak Senin (3/12/2018).

Namun, menurut Kapolda, jalan menuju lokasi dihalangi oleh dahan-dahan pohon di sepanjang jalan, sehingga anggota kembali ke Wamena. Pada Selasa (4/12/2018) pagi anggota kembali diberangkatkan. Kapolda berharap evakuasi dapat berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Presiden Joko Widodo sudah meminta agar informasi tersebut diklarifikasi terlebih dahulu. Permintaan Jokowi ini berkaitan dengan kondisi telekomunikasi di kawasan Nduga yang belum terjangkau sinyal telepon.

“Tadi pagi saya perintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk klarifikasi dulu. Di Nduga itu enggak bisa loh yang namanya sinyal itu enggak ada. Jadi ini mesti dikonfirmasi dulu ke sana, apakah betul memang kejadiannya seperti itu,” kata Jokowi.

Sementara itu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono membenarkan bahwa kejadian penambakan ke puluhan karyawan BUMN tersebut terjadi di salah satu daerah di wilayah segmen 5, jalan Trans Papua, khususnya di antara Kali Aorak (km 102+525) dan Kali Yigi (km 103+975).

"Itu benar terjadi di sana," kata Basuki.

Segmen 5 sendiri merupakan jalan Trans Papua yang digarap oleh PT. Istaka Karya (14 jembatan) dan PT. Brantas Abipraya (21 jembatan). Segmen 5 meliputi wilayah Wamena, Habema, Kenyam, dan Mamugu sepanjang 278 km.


Baca juga artikel terkait KASUS PENEMBAKAN DI PAPUA atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Alexander Haryanto