Skema Kejahatan Reynhard Sinaga dan Faktor 'Kecerdasan'

Ilustrasi Kekerasan LGBT. FOTO/iStockphoto
Reporter: Felix Nathaniel - 15 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Mengenyam pendidikan sampai jenjang S3, tidak otomatis membuat Reynhard Sinaga jadi sosok tanpa cela.
tirto.id - Dalam buku Kisah Sukses dan Inspiratif Diaspora Indonesia (2014), Fairuz Mumtaz mencatat ada 50 nama diasporan yang mengharumkan nama Indonesia di luar negeri. Lembaran pertama ia buka dengan menampilkan Adrivo Rusydi.

Rekam jejak Adrivo memang mentereng. Selepas menempuh pendidikan di SMU di Padang, Adrivo melanjutkan kuliahnya di Belanda. Di sana, dia belajar tentang teknologi nano dan berhasil mendapat gelar doktoral.

Menginjak tahun 2001, saat usianya masih 22 tahun, Adrivo terlibat dalam berbagai penelitian yang diprakarsai National Synchroton Light Source (NSLS) of Brookheaven National Laboratory, sebuah lembaga penelitian asal Amerika Serikat. Sembilan tahun kemudian, dia meraih gelar professor di Universitas Nasional Singapura (NUS) sekaligus menjadi peneliti tetap.

Namun, dengan rekam jejak seperti itu, nama Adrivo justru tak seterkenal sosok lain asal Indonesia yang juga menjadi diaspora di negeri orang: Reynhard Sinaga.

Skema Kejahatan

Reynhard dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan di Inggris setelah terbukti melakukan 159 pemerkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria, dalam rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017. Berdasarkan penyelidikan yang masih berlangsung, jumlah korban amat mungkin bertambah hingga 195 orang.

Begitu berbahayanya Reynhard, sampai-sampai hakim Suzanne Goddard yang memutus perkara itu percaya bahwa kata monster merupakan “deskripsi yang akurat” untuk pria tersebut. Dia bahkan mengaku tidak pernah menemukan kasus pemerkosaan dengan skala sebesar yang dilakukan Reynhard.

Goddard memaparkan bagaimana pria 36 tahun tersebut melakukan kejahatan tanpa ketahuan, termasuk cara berkelit seumpama ia tertangkap basah. Skema kejahatan Rey, demikian ia biasa disapa, cenderung terpola.

Rey kerap berkeliaran tengah malam di sekitar flatnya di Manchester untuk mencari remaja usia 17 atau 18 tahun dan pria umur 20-an awal yang sedang mabuk berat atau hendak kembali pulang sendirian. Sebuah rekaman CCTV yang dilansir Manchester Evening News memperlihatkan dengan jelas ketika Rey mulai menjalankan aksinya ini.

Jika sudah bertemu mangsanya, Rey biasanya akan menawari mereka pesta lanjutan atau malah "menolong" yang mabuk dengan mengajak mereka menginap di flat. Ajakan tersebut dirasa normal belaka mengingat secara fisik, Rey tidaklah tampak seperti sosok yang berbahaya. Terlebih ia juga dikenal komunikatif dan bersahaja.

Dengan fakta semacam itu, maka menurut hakim Goddard, tak ada satu pun calon korban yang menyangka Rey akan melakukan kekerasan seksual, bahkan pemerkosaan, terhadap mereka.

Setelah berhasil membawa korban ke flat, Rey kemudian akan membius mereka melalui minuman yang telah dicampur dengan GHB (gamma hydroxybutyrate), obat bius yang menyerang sistem syaraf. Selanjutnya, ia memasang kamera melalui dua telepon selulernya untuk merekam adegan pemerkosaannya.

'Tak Ada Penyesalan'

Dalam penelitian yang digagas Janice Du Mont, dkk berjudul "Male Victims of Adult Sexual Assault: A Descriptive Study of Survivors’ Use of Sexual Assault Treatment Services" (2013) dijelaskan, metode pembiusan memang kerap dilakukan untuk memperkosa laki-laki. Enam dari 35 korban yang diperiksa dalam penelitian tersebut mengaku demikian.

Lantas bagaimana jika korban telah mengetahui bahwa mereka diperkosa?

Hal ini ditelaah oleh Susan McDonald dan Adamira Tijerino dalam penelitian berjudul "Male Survivors of Sexual Abuse and Assaults: Their Experience" (2013). Dari tujuh korban yang mau diwawancarai, dua orang merasa malu, dan lima lainnya yakin (jika mereka bicara) mereka tak akan dipercaya. Hal itulah yang menyebabkan korban memilih bungkam dan memendam peristiwa itu.

Kondisi korban yang mengalami trauma seperti ini dimanfaatkan Rey dalam usaha membela diri. Meski terbukti telah melakukan pemerkosaan selama 2,5 tahun dan menyerang ratusan korban, Reynhard tak menunjukkan penyesalan di hadapan hakim.

Hakim menyebut, ketika pemerkosaan berlangsung, korban sebetulnya “sadar”, hanya saja berpura-pura mati untuk memenuhi fantasi seksual Rey. Tentunya juri persidangan tidak percaya dengan alasan tersebut. Namun, dengan pembelaan macam itu, Rey sejatinya tengah menambah peluang trauma bagi para korbannya.

Apa yang dilakukan Rey, dengan demikian, sesungguhnya bukan hanya pemerkosaan. Lebih jauh, ia seperti “menikmati” penderitaan korbannya. Dalam persidangan, hakim Goddard merasa Rey “tidak menunjukan penyesalan atas tindakannya dan benar-benar menikmati proses persidangan.”

Perasaan tidak bersalah tersebut telah ditunjukkan Rey sejak ia melakukan aksi pertamanya pada tahun baru 2015. Alih-alih berusaha menutupi, ia bahkan menceritakan hal tersebut kepada seorang temannya dengan riang gembira selayanya orang yang baru saja menjalani kencan yang tak terlupakan.

“Aku tidak dapat ciuman tahun baru, tapi aku mendapatkan seks pertamaku di 2015. Aku bertemu dia di klub Factory dekat flat. Dia heteroseksual 2014. Tahun 2015 adalah terobosan baru ke dunia gay. Dia heteroseksual sampai dia terbangun telanjang,” demikian ia bercerita.

Pengacara Rey sempat meminta Goodard untuk memberikan kebijakan agar kliennya dilepas saat umurnya sudah masuk dalam kategori tidak berbahaya dan tidak bisa melakukan kejahatan. Namun, Goodard tak berani mengambil risiko itu dan menolak mentah-mentah permintaan pengacara.

Kecerdasan yang Mengerikan

Kelihaian Rey dalam menjalankan aksinya dalam jangka waktu yang cukup panjang jelas bukan sesuatu yang bersifat spontan. Selayaknya psikopat, seorang pemerkosa berantai punya kecenderungan memikirkan tindakannya dengan cukup matang, selain tentunya juga sangat manipulatif.

Kriminolog dari Universitas Melbourne, Tony Ward, dalam tulisannya berjudul "Competency and Deficit Models in the Understanding and Treatment of Sexual Offenders" yang terbit di Jurnal Penelitian Seks (1999), menerangkan bahwa seorang pemerkosa tidak asal terjang kala melakukan aksinya. Ward menyebut pelaku biasanya melakukan gladi resik terlebih dahulu melalui imajinasinya sebelum melakukan eksekusi.

Selain itu, beberapa hal penting lainnya yang turut mereka lakukan adalah mempelajari langkah-langkah pelaku kejahatan seksual terdahulu, menonton film dengan tema terkait, serta membaca berbagai literatur.

Ward berpendapat, individu yang punya sejarah panjang kekerasan seksual juga cenderung punya skenario penyerangan yang beraneka ragam. Tidak hanya itu, di kepala seorang pemerkosa bahkan sudah tergambar berbagai macam respon para korbannya.

Rey juga memiliki pola yang berulang dalam kejahatannya. Selain memastikan korban tidak sadar bila telah diperkosa, ia juga kerap memilih korban secara acak.

Terkait hal tersebut, profesor psikologi dari Universitas Umea di Swedia, Sven A. Christianson, memberi penjelasan melalui risetnya yang berjudul "From Crime Scene Actions in Stranger Rape to Prediction of Rapist Type: Single-Victim or Serial Rapist?" (2012).

Seorang pemerkosa, tulis Christianson, memang seringkali mengincar target secara acak dan cenderung jauh dari lingkungannya. Biasanya mereka juga melakukan kejahatan dengan cepat dan tiba-tiba atau disebut dengan pendekatan blitz.

"Kasus perkosaan orang asing, di mana korban dan pelaku tidak memiliki hubungan sebelumnya sebelum kejahatan, adalah jenis pemerkosaan yang paling sulit bagi polisi untuk diselidiki. Ini karena di sana tidak ada ikatan alami antara korban dan pelaku yang dapat digunakan polisi untuk menindaklanjutinya."



Dalam kasus Rey, meski ia memilih korbannya secara acak, akan tetapi pencariannya dilakukan di area sekitar flat yang ia tinggali. Hal ini dilakukan mengingat di sana terdapat sebuah klub malam dan banyak laki-laki yang pulang dalam keadaan mabuk. Dengan kata lain, ada nilai kepraktisan yang "mendukung" kejahatannya.

Satu hal lain yang perlu dipahami adalah: seseorang dengan jenjang akademik tinggi seperti Rey bukan jaminan terbebas dari kemungkinan menjadi penjahat. Hal ini sempat dijelaskan oleh kriminolog James C. Oleson melalui bukunya yang berjudul Criminal Genius: A Portrait of High IQ Offenders (2016).

Oleson menilai, orang dengan IQ tinggi (140++) sekalipun akan melakukan kejahatan dengan alasan tertentu. Dan justru dengan kecerdasan yang dimiliki itulah mereka jadi lebih sulit ditangkap daripada pelaku kriminal biasa. Maka bisa dibayangkan sendiri betapa mengerikannya seorang Reynhard Sinaga.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Felix Nathaniel
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight