Menuju konten utama
Berita Internasional Terkini

Situasi Sudan Terkini: Protes Anti-Kudeta Berlanjut, 5 Orang Tewas

Lima orang tewas dan puluhan luka-luka dalam bentrok sipil dan aparat keamanan setelah kudeta di Sudan. 

Situasi Sudan Terkini: Protes Anti-Kudeta Berlanjut, 5 Orang Tewas
Demonstran Sudan turun ke jalan-jalan di ibu kota Khartoum untuk menuntut transisi pemerintah ke pemerintahan sipil di Khartoum, Sudan, Kamis, 21 Oktober 2021. (AP Photo/Marwan Ali)

tirto.id - Sudan sedang dilanda gejolak usai militer melakukan kudeta dan menangkap para pemimpin politik. Orang-orang pun turun ke jalan untuk menentangnya. Dalam peristiwa baru-baru ini, tepat pada Minggu, 15 November, 5 orang meninggal dalam aksi pro-demokrasi.

BBC melaporkan, di beberapa kota seluruh negeri, puluhan ribu orang turun ke jalan untuk melakukan protes anti-kudeta. Komite Pusat Dokter Sudan melaporkan, total ada lima orang yang meninggal dalam aksi, empat orang tewas karena luka tembak, sedangkan satu lainnya tersedak gas air mata selama bentrok dengan pasukan keamanan.

Meski demikian, polisi membantah telah menggunakan peluru tajam untuk memukul mundur para demonstran. Menurut televisi pemerintah, 39 politik dilaporkan terluka dalam bentrok itu.

Protes juga terjadi pada Sabtu. Selain di dalam negeri, protes juga muncul di luar negeri, termasuk di Paris dan Berlin.

AFP melaporkan, pengunjuk rasa di Khartoum, ibu kota Sudan, meneriakkan: "Tidak [setuju], tidak untuk aturan militer" dan "seluruh dewan harus turun".

Petugas mendis melaporkan, selain 5 orang tewas, banyak pula yang mengalami luka-luka. Menurut mereka, pasukan keamanan telah menyerbu rumah sakit di Kota Omdurman dan menahan beberapa orang yang terluka.

Kedutaan AS di Khartoum mengutuk apa yang digambarkannya sebagai "penggunaan kekuatan yang berlebihan" terhadap warga yang berdemonstrasi "untuk kebebasan dan demokrasi".

kudeta Militer Sudan

Demonstran Sudan turun ke jalan-jalan di ibu kota Khartoum untuk menuntut transisi pemerintah ke pemerintahan sipil di Khartoum, Sudan, Kamis, 21 Oktober 2021. (AP Photo/Marwan Ali)

Kudeta Militer Sudan

Bentrok antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan itu terjadi setelah pengumuman ditunjuknya Jenderal Abdel Fattah al-Burhan sebagai kepala dewan penguasa. Ia adalah orang yang memimpin kudeta.

Abdel Fattah tetap melakukan itu walaupun kudeta milter yang dilakukan pada 25 Oktober lalu mendapat kecaman dari pihak internasional. Orang-orang yang tidak setuju dengan itu turun ke jalan dan menuntut pemerintah militer mundur.

Setelah kudeta itu terjadi, tentara dan pasukan paramiliter pun dikerahkan di kota Khartoum, bandara kota ditutup, penerbangan internasional ditangguhkan, internet juga padam. Selain tiga korban tewas, 80 lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

"Ada ketegangan dan juga kekerasan karena orang-orang mencoba pergi ke markas tentara ... mereka disambut dengan tembakan," kata pembela hak asasi manusia Duaa Tariq kepada BBC.

Kudeta Militer Sudan

Ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi turun ke jalan untuk mengutuk pengambilalihan oleh pejabat militer di Khartoum, Sudan, Senin 25 Oktober 2021. (AP Photo/Ashraf Idris)

Tariq mengatakan, ada ketakutan dan kebingungan di jalan-jalan, tetapi juga solidaritas di antara para pengunjuk rasa. Para pemimpin dunia telah bereaksi dengan waspada terhadap langkah militer tersebut.

Para militer juga dilaporkan menangkap Perdana Menteri Sudan, Abdallah Hamdok dan istrinya. Mereka ditahan dan menjadi tahanan rumah bersama anggota kabinet dan para pemimpin sipil lainnya.

Namun, sampai saat ini belum ada yang mengetahui keberadaannya. Orang-orang yang ditahan itu adalah bagian dari pemerintah transisi yang dirancang untuk mengarahkan Sudan menuju negara demokrasi setelah masa pemerintahan Presiden Omar al-Bashir.

Kabarnya, Abdallah Hamdok sempat ditekan untuk mendukung kudeta tetapi ia tak mau dan justru mendesak orang-orang untuk melanjutkan protes damai untuk "membela revolusi".

Baca juga artikel terkait KUDETA SUDAN atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Politik
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya