Menuju konten utama

Siapakah yang Menolak Deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya?

Pengurus Banser dan GP Ansor mengklaim tak terlibat dalam aksi menolak deklarasi #2019GantiPresiden yang digelar di Surabaya, Minggu (27/8/2018) kemarin.

Siapakah yang Menolak Deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya?
Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama mengikuti Apel Kebangsaan dan Kemah Kemanusiaan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (18/4). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

tirto.id - Ahmad Dhani cs dikepung massa ketika hendak menghadiri deklarasi #2019GantiPresiden di Tugu Pahlawan, Surabaya, Minggu (26/8/2018) kemarin. Dia sempat merekam video situasi di dalam hotel dan mengunggahnya ke media sosial. Dalam video itu, salah seorang rekan yang duduk di depan Dhani, menyebut yang mendemo mereka adalah Banser.

Banser atau Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama, merupakan badan semi otonom Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Banser didirikan di Malang pada 1937.

Organisasi ini disebut situs beritajatim.com yang berpusat di Surabaya, terlibat dalam aksi itu dan bahkan mengkoordinir aksi—yang menurut Dhani—dihadiri 100 orang itu. Media itu juga menyebut Ahmad Aminuddin, yang diberi atribusi "tokoh Banser", sebagai koordinator lapangan.

Menanggapi pemberitaan ini, Komandan Densus Asmaul Husna Banser Nuruzzaman mengatakan pada dasarnya tidak ada instruksi dari Pimpinan Pusat GP Ansor dan Komandan Banser Nasional untuk menggelar aksi itu. Meski demikian, ia mengakui ada kader yang turut serta dalam aksi kemarin. Ia membebaskan tiap kader daerah melakukan apa saja dengan pertimbangan mereka sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak.

Meski demikian, karena ramainya pemberitaan, ia mengaku bakal tetap mengecek siapa saja yang terlibat.

"Soal Banser yang turun (demonstrasi) kami akan cek. Mereka benar [anggota] Banser atau bukan, masih aktif atau aktif hanya saat momentum tertentu saja, atau Banser yang melakukan insubordinasi? Nanti kami akan kategorisasi untuk mengambil tindakan yang diperlukan," ujar Nuruzzaman kepada Tirto, Senin (27/8/2018).

Mengenai Ahmad Aminuddin yang disebut sebagai tokoh Banser, Nuruzzaman menegaskan kalau yang bersangkutan bukan lagi bagian dari organisasinya.

"Dia mantan pengurus Pimpinan Wilayah Ansor Jawa Timur. Jadi kalau dia menyatakan atas nama Ansor dan Banser ya salah. Karena Ansor dan Banser itu organisasi yang komando," jelas Nuruzzaman.

Soal dugaan keterlibatan Banser ini, polisi Surabaya juga enggan memberitahu atas nama siapa surat pemberitahuan aksi dilayangkan kepada mereka. "Ada SOP yang harus dipatuhi," ujar Paur II Subbag Humas Bagian Operasional Polrestabes Surabaya Ipda Anita Tri Kurnia Dewi. Media lokal Surabaya hanya menyebut pendemo Dhani dengan sebutan "Koalisi Elemen Bela NKRI."

Relasi Banser dan Jokowi pada dasarnya memang baik-baik saja, atau setidaknya tidak konfrontatif seperti kelompok lain semisal GNPF-Ulama atau Front Pembela Islam (FPI). Ini bisa dipahami juga untuk melihat konfigurasi politik terkini. Rais Aam PBNU Kiai Ma'ruf Amin dipercaya Jokowi untuk menjadi calon wakil presiden pada pemilu mendatang.

Maka tak heran jika Nuruzzaman punya pandangan sinis terhadap gerakan #2019GantiPresiden. Menurutnya gerakan yang diinisiasi politikus PKS Mardani Ali Sera ini "tidak jelas kelaminnya."

"Mau diganti dengan apa? Kalau presiden diganti presiden. Sudah jelas siapa lawan petahana sekarang. Kenapa tidak sekalian saja, #2019PresidennyaPrabowo misalnya?" celetuk Nuruzzaman.

Hal yang sama dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Yaqut Cholil Qoumas. Menurutnya mereka tak bakal ikut gerakan yang disebut "tak jelas itu".

"Kecuali sudah mulai mengancam keutuhan bangsa, melakukan hasutan yang memecah belah. Baru akan berhadapan dengan Banser," ujarnya kepada Tirto, Senin.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Politik
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Rio Apinino