Siapa Bilang Ilmu Sosial dan Budaya Tak Penting?

Oleh: Ramdan Febrian - 27 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Teknologi saja tak cukup, kata Steve Jobs.
tirto.id - Sejak bangku SMA, penjurusan IPS kerap dianggap sebagai kelas dua. Kelas bahasa bahkan di bawahnya lagi. Hal itu tercermin dari sedikitnya pemilih jurusan IPS. Di sebagian sekolah, jumlah kelas IPS bahkan lebih sedikit dari kelas IPA. Selain itu, tak jarang predikat bodoh, anak bandel, urakan tersemat pada anak-anak jurusan IPS dan bahasa.

Cara pandang itu ada akarnya, yang ditelaah oleh salah satunya oleh Rognvaldur D. Ingthrosson (pdf), yang menjelaskan mengapa ilmu sosial secara metodologi dianggap terbelakang jika dibandingkan ilmu eksakta. Alasannya, menurut penelusuran Ingthrosson, ilmu alam menjadi acuan bagi ilmu sosial karena metodologi ilmu alam dinilai lebih pasti. Pendeknya, ilmu alam dengan metodologi yang ketat dianggap lebih ilmiah, sehingga dipandang punya kedudukan lebih tinggi dibanding ilmu seperti sosiologi atau antropologi.

Lalu, apa kabar dengan ilmu budaya atau ilmu humaniora yang terdiri dari seni, filsafat, sastra, sejarah? Rumpun ini lebih nahas lagi, dipandang tidak berguna. "Nanti mau kerja apa?" adalah respons yang jamak jika seseorang mengatakan ingin menekuni ke bidang-bidang tersebut. Lanjutannya: "Mau bekerja (dengan penghasilan besar), ya jadi insinyur, dong!"


Stereotip Lama Sudah Tak Relevan

Tentu saja tak ada yang bisa menyangkal bahwa teknologi berperan amat besar dalam peradaban manusia sekarang ini. Namun, bukan berarti ilmu sosial dan humaniora adalah ilmu yang tak berguna. Humaniora bahkan bisa diolah dengan teknologi, dan menjadi sesuatu yang bernilai di era digital ini.

"Kami ingin menunjukkan kepada mahasiswa calon sarjana dan pascasarjana bahwa mempelajari ilmu humaniora dalam berbagai bentuknya merupakan cara luar biasa untuk menyiapkan diri menghadapi dunia di luar sana," kata Profesor Bahasa & Sastra Romanik dan Sastra Komparatif, Diana Sorensen, kepada hadirin dalam forum diskusi publik bertajuk "Digital Humanities: Across the Spectrum" di Universitas Harvard, Amerika Serikat, seperti ditulis situs Harvard.

Panelis lain dalam diskusi tersebut meyakinkan bahwa stereotip humanis, sebagai sosok yang terasing di sebuah pojok ruangan remang-remang, sudah tak relevan lagi. Dengan proyek humaniora digital, para humanis bisa terlibat dalam era digital.

Dengan humaniora digital, para humanis bisa dilatih penerapan teknologi informasi untuk literasi digital. Contoh sederhana: pengarsipan. Orang di bidang teknologi informasi memang yang memahami piranti untuk mengarsipkan. Namun, siapa yang paling memahami konten untuk tujuan literasi? Tak ada yang lebih meyakinkan ketimbang mereka yang terlatih membaca naskah sastra, dokumen sejarah, teks filsafat, serta menekuni seni.

Belajar dari Steve Jobs

Bagaimana mungkin seni dianggap tak berguna? Menjawab soal ini, Steve Jobs bisa dijadikan cermin. Profesor program studi wanita, gender, dan studi sexual dari Universitas Yale, Inderpal Grewal, dalam tulisan di Huffington Post menunjukkan bagaimana Steve Jobs amat terpengaruhi kelas kaligrafi yang pernah diikutinya dalam mendesain Mac.


Menurut Grewal, orang-orang berpandangan bahwa seni dan humaniora tidak berguna untuk membuat sebuah inovasi teknologi. "Mereka tidak pernah menduga bahwa Seni dan Humaniora dapat menjadi pusat produktivitas dalam ranah ekonomi, apalagi memberikan sebuah kemampuan untuk memimpin perekonomian global," tambahnya.

Film, televisi, musik, dunia seni, museum, fashion, dan konten internet, diciptakan oleh para penulis, musisi, seniman, dan desainer. Mereka melakukan itu semua dengan mengolaborasikan teknologi dengan inovasi ilmiah. Semua itu adalah "industri budaya" yang besar pengaruhnya bagi AS sebagai kekuatan ekonomi dunia.

Lebih lanjut, Grewal menyatakan produk Jobs adalah bukti bahwa humaniora dan sains-teknologi saling terkait. "Keduanya [humaniora dan teknologi] adalah bagian dari satu dunia," katanya.

Infografik Teknologi saja tidak cukup


Pendidikan Humaniora Itu Penting


Di luar pentingnya literasi digital yang perlu melibatkan para humanis, para ilmuwan (ilmu alam) dan insinyur jug memerlukan humaniora. Peraih gelar doktor bidang humaniora dari Universitas Texas, Troy Camplin, mengatakan bahwa saat membaca karya fiksi, kita mulai berempati dengan karakter.

Ia juga berpendapat bahwa karya sastra adalah wujud dari versi paling halus dan kompleks dari cara berpikir alami seseorang. Apabila seseorang ingin mempertajam pemikirannya, ia harus banyak membaca karya sastra. Sastra, seperti halnya seni lain, juga membantu seseorang merangsang kreativitas. Dalam sastra, terdapat perlintasan kreatif yang membantu orang untuk melihat pola dan koneksi di bidang lain. Kreativitas cenderung terjadi ketika salah satu cara pikir terhubung dengan cara pikir lain.

Dari Singapura, profesor hukum internasional sekaligus diplomat senior Singapura Tommy Koh menunjukkan apa yang mesti diperhatikan di negaranya yang sedang menghadapi tantangan revolusi industri keempat yang dimulai pada pergantian abad ke-21. Era ini telah melahirkan perusahaan yang mengubah status quo, dicantaranya Airbnb, Grab, dan Alibaba.


Dalam tulisannya di Channel News Asia, Koh mengatakan bahwa dunia sedang diubah oleh robot, artificial intelligence, Internet of Things, big data, kota cerdas, block chain, sharing economy, financial technology, dst.

Oleh karena itu menurut Tommy, Singapura harus mempersiapkan pemuda dengan pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir untuk memanfaatkan peluang baru. "Hal ini yang mendasari pemerintah menekankan soal pembangunan STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics)," kata Tommy Koh.

Seperti Inderpal Grewal, Koh juga menjadikan Steve Jobs sebagai contoh. Menurut Koh, Jobs berhasil memanfaatkan ilmu kaligrafinya untuk mendesain keyboard komputer Macintosh. Itulah yang membedakan Jobs dari para pesaingnya.

Tommy Koh juga mengutip omongan Jobs saat merilis iPad edisi terbarunya: "Kami di Apple paham bahwa teknologi saja tidak cukup—teknologi yang dikawinkan dengan liberal arts, dikawinkan dengan humaniora-lah, yang hasilnya akan membahagiakan hati kita."

Berdasarkan pengalamannya sebagai diplomat, Koh menunjukkan bahwa belajar sastra dan sejarah adalah hal yang penting. Menurut Koh, menghindari belajar sejarah akan menjerumuskan kita ke dalam masalah dan sebaliknya, mempelajari sejarah akan memberdayakan siapa pun yang mempelajarinya. Memahami sejarah sebuah negara mempermudah ia memahami dan berinteraksi dengan negara tersebut.


Soal sastra, Koh menganggapnya membantu seseorang untuk berpikir, menulis, dan berbicara dengan jelas. Baginya, revolusi industri keempat tidak membuat studi tentang humaniora tidak relevan. "Kita harus mempelajari humaniora karena itu akan membantu kita berpikir secara analitis, menulis dengan jelas dan berbicara secara persuasif," tulisnya.

Oleh karena itu, menurutnya Singapura perlu mengupayakan pendidikan holistik. "Apa yang dibutuhkan dunia adalah untuk mendidik anak-anak muda kita baik dalam ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Kita membutuhkan ahli teknologi yang memahami humaniora dan humanis yang memahami teknologi," tulis Koh.

Baca juga artikel terkait SENI atau tulisan menarik lainnya Ramdan Febrian
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ramdan Febrian
Editor: Maulida Sri Handayani