tirto.id - Pemerintah Indonesia memutuskan untuk melibatkan salah satu tokoh internasional, yakni mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, dalam jajaran pengurus Danantara. Blair diketahui akan mengisi salah satu Dewan Pengawas Danantara. Kepastian ini terkonfirmasi secara terbuka oleh Kepala atau Chief Excecutive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, di Istana Kepresidenan, Jakarta.
"Iya salah satunya [Tony Blair]," kata Rosan mengonfirmasi pertanyaan awak media, Senin (24/2/2025).
Jika melihat karier Blair di dunia politik dan pemerintahan cukup apik. Blair bergabung dalam Partai Buruh. Pada 1983, ia terpilih menjadi anggota parlemen untuk daerah pemilihan Sedgefield di County Durham. Kemudian pada 1994, Blair memenangkan pemilihan pimpinan Partai Buruh. Ia membawa misi untuk memulai perubahan citra partai yang dikenal sebagai "Partai Buruh Baru".
Di bawah kepemimpinannya, Partai Buruh Baru dapat memenangkan Pemilihan Umum tahun 1997 dengan raihan 418 kursi. Ini adalah raihan kursi terbesar dalam sejarah Pemilu Inggris. Kemenangan Partai Buruh Baru ini juga adalah kemenangan pertama sejak 23 tahun. Parlemen Inggris yang biasanya diisi oleh orang-orang Partai Oposisi kini berbalik diisi Partai Buruh.
Pada 2 Mei 1997, Blair kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri Inggris. Ia menjadi perdana menteri termuda abad ke-20 dan memimpin Inggris selama 10 tahun. Blair juga merupakan perdana menteri terlama kedua dalam sejarah Inggris pascaperang setelah Margaret Thatcher.
Setelah tak lagi menjabat, Tony Blair kemudian diangkat menjadi utusan Timur Tengah untuk PBB, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia. Blair juga mendirikan Tony Blair Associates, sebuah badan yang memberikan nasihat-nasihat politik, ekonomi, dan reformasi pemerintahan.
Namun, belakangan hubungan Blair dengan Pemerintah Indonesia juga tampak cukup baik. Blair kerap menyambangi Istana Negara sejak kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kunjungan ke Istana Negara terakhir membahas mengenai isu-isu global, termasuk meminta masukan pada Blair tentang investasi di Indonesia.
Blair belakangan juga berperan memberikan saran dan masukan mengenai pembangunan IKN, dengan fokus pada transformasi digital dan pembangunan berkelanjutan. Ia bahkan dilibatkan oleh Jokowi sebagai anggota dewan pengarah pembangunan ibu kota baru. Tugasnya membantu mempromosikan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ke dunia.
Dalam upaya membangun IKN sebagai kota modern yang berkelanjutan, Blair melalui Tony Blair Institute for Global Change, telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Otorita IKN. Kerja sama ini bertujuan untuk mengembangkan pusat riset dan inovasi di IKN, yang diharapkan dapat meningkatkan citra Indonesia di mata dunia. Investasi ini juga melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina, yang menunjukkan kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam proyek ini.
“Kita ingin ada figur internasional lah di situ,” ucap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, yang saat itu dijabat Luhut Binsar Pandjaitan.
Terlepas dari sosok figur, masuknya Tony Blair kembali ke dalam pengurus Danantara tentu saja menyisakan pertanyaan publik. Menurut Manajer Riset Sekretaris Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi, perlu ada justifikasi transparansi terkait pemilihan Blair dan bagaimana pengawasan kinerjanya.
“Dan tidak kalah penting ini terkait kedaulatan kebijakan, bahkan bisa saja publik mempertanyakan rasa nasionalisme penunjukannya,” jelas dia kepada Tirto, Selasa (25/2/2025).
Apabila tujuannya adalah untuk menarik investor terutama investor asing, pada kenyataannya IKN sampai hari ini juga minim dari investor asing yang masuk. Ini seolah menjadi pertanyaan seksama mengenai urgensi dari keterlibatan Blair dalam Danantara. “Karena publik tau sebulmnya Blair masuk daftar pengarah IKN. Efektivitas kehadiran dia untuk investasi ke IKN jauh api dari panggang,” jelas Badiul.
Direktur Eksekutif Sinergi BUMN Institute, Achmad Yunus, mengatakan siapapun yang dipilih sejatinya menunjukkan arah investasi Indonesia ke depan. Jadi memang semestinya semua harus didasarkan pada pertimbangan bisnis, tapi tetap pada rambu ideologi pemerintah.
“Kita tau Tony Blair adalah tokoh politik, sepak terjangnya selama ini banyak di politik. Dia bukan orang baru, karena pernah diisukan jadi penasehat IKN. Tapi apakah ini masih ada relasi dengan investasi di IKN? yang kita tahu tidak berhasil,” jelas Yunus, kepada Tirto, Selasa (25/2/2025).
Upaya Memuluskan Citra Danantara
Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, justru melihat keterlibatan Tony Blair dalam Danantara kali ini menjadi upaya pemerintah untuk memberi kesan positif terhadap Danantara. Karena sederhana, dengan kehadiran tokoh internasional, diharapkan dapat menggaet investor asing masuk ke Indonesia.
“Bisa jadi memang niatnya untuk memuluskan image dari Denantara ini sebagai SWF yang berkelas internasional pertama. Kedua membangun image bahwa karena kelasnya internasional, ada sosok yang secara internasional dikenal baik juga. Maka Danantara diasumsikan sebagai SWF yang laik untuk tempat berinvestasi bagi investor global,” jelas dia kepada Tirto, Selasa (25/2/2025).
Menurut Ronny, kehadiran Tony Blair hanya semacam ‘politik simbol’ atau sebatas memunculkan nama untuk membangun image Danantara saja. Tony Blair pun menurutnya tidak akan berperan banyak karena yang dilihat orang bukan hanya simbolnya saja. Ini berbeda dengan dengan Temasek di Singapura yang memang sudah punya reputasi internasional baik dalam kinerja maupun efektivitas dan efisiensi manajemennya.
“Danantara kan belum teruji disitu. Jadi investor juga akan melihat bukan hanya dari sosok Tony Blair-nya. Tapi pertama dari sosok Danantara itu sendiri,” imbuhnya.
Investor sendiri, kata Ronny, sejatinya akan melihat Danantara itu apakah ia akan mewakili BUMN yang bagus. Kemudian bagaimana investor ini melihat prospek Danantara yang disebut akan menjadi Sovereign Wealth Fund (SWF). Belum lagi soal pengelolaannya yang harus dilakukan secara profesional hingga tidak ada kepentingan politik di situ.
Secara pribadi, ia bahkan meragukan bahwa investor akan tanam uang di Danantara, terutama untuk investor-investor yang lebih banyak mempertimbangkan profesionalisme. Kecuali, bagi investor-investor yang ingin dapat jaminan pemerintah atau investor yang berasal dari jejaring oligarki ada dalam pemerintahan dan punya kepentingan dalam Danantara.
“Jadi politik simbol ini dianggap penting, tapi tidak terlalu penting-penting. Padahal investor itu melihat bukan hanya dari sisi simbol itu Tapi juga melihat dari seberapa profesional ini akan dikelola ke depannya,” ujarnya.
Terlebih lagi, kata Ronny kehadiran Danantara ini juga tidak direspons cukup baik oleh pasar. Hal ini ditandai dengan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tidak terlalu menguat sepanjang Senin (24/2/2025) kemarin.
Sebelum diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto, IHSG memang sempat menguat hijau di level 6.803 pada pembukaan perdagangan pagi pukul 09.00 WIB. Namun tak berlangsung lama, IHSG justru bergerak fluktuatif berada di zona merah hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan grafik RTI Business yang dilihat Tirto, pukul 11.00 WIB atau selepas pidato Prabowo dalam peluncuran Danantara, IHSG berada di level 6.766 (-0,53 persen). Sebanyak 333 saham melemah, 220 menguat, dan 223 stagnan. Indeks kembali melorot 55,77 poin (0,82 persen) ke level 6.747 pada sesi I penutupan atau pukul 12.00 WIB. Hingga penutupan sore pukul 16.00 WIB, IHSG masih tercatat merah atau berada di 6.749 (-078 persen).
Seharian, IHSG bergerak variatif dari batas bawah di level 6.732 hingga batas atas pada level 6.818 setelah dibuka pada level 6.803. Hingga penutupan sebanyak 351 saham tercatat melemah, 223 saham menguat, dan sisanya 218 stagnan.
“Jadi kalau kita lihat tidak terlalu banyak respons pasar sejak pengumuman kemarin itu. Bahkan kita melihat ada beberapa net sale dari asing juga di bursa untuk menanggapi itu. Artinya bahwa berdirinya Danantara sekalipun dicantumkan oleh Tony Blair di situ market berjalan biasa saja tidak ada yang spesial juga dari pasar menanggapi,” pungkas Ronny.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang