Sensasi Jadi Raja Jalanan dengan Supercar BMW i8

Mobil listrik BMW i8 tampil dalam Festival Mobil Listrik, IIMS 2018 di JIExpo, Jakarta, Jumat (20/4/2018). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Yudistira Perdana Imandiar - 23 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Menyelami hal teknis supercar BMW i8 seharga hampir Rp4 miliar tentu tak mudah mendapati kekurangannya. Bagaimana soal sensasi pengalaman sosial dengan mobil ini?
“Semua manusia ingin mobil mewah!”

Hotman Paris Hutapea, pengacara kondang pernah berkoar bagaimana supercar adalah bagian hidupnya yang menyenangkan. Bisa mengendarai supercar adalah sensasi yang tak bisa dirasakan oleh orang kebanyakan. Pilihannya bisa dengan membeli dan memilikinya, tapi ini tentu tak mudah bagi mereka yang berkantong tipis. Bisa juga sekadar meminjam kepada kolega yang tajir.

Tirto berkesempatan menjajal BMW i8, mobil plug-in hybrid yang dipasarkan BMW Indonesia. Kami tidak mengulas secara mendalam aspek teknis dari mobil buatan Jerman ini. Yang jadi tantangan adalah bagaimana mengujinya berdasarkan pengalaman sosial ketika berada di balik kemudi sambil menikmati tatapan dari banyak pasang mata orang-orang di jalan raya.

Pintu model kupu-kupu yang terbuka ke atas menjadi salah satu ciri khas BMW i8. Dengan bentuk pintu tersebut, mobil ini tidak bisa diparkir di tempat sempit, karena butuh ruang sekitar 1 meter di kanan dan kiri untuk membentangkan kedua pintu.

BMW i8 yang punya tinggi hanya sekitar 1,2 meter cukup membuat yang berpostur tinggi lebih dari 170 cm kesulitan buat masuk kabin. Agar bisa menceploskan seluruh badan dengan mudah ke ruang kemudi, hal pertama yang dilakukan ialah duduk di jok dengan arah badan memunggungi mobil, baru kemudian memasukkan kaki. Namun, yang mencoba memasukkan kaki terlebih dahulu, malah jadi sulit karena badan harus sangat membungkuk.


Di ruang kemudi BMW i8 tak ada yang istimewa. Setir model sport memuat tombol cruise control dan konvektivitas, serta paddle shifter menyembul di baliknya. Kenop engine start-stop tombol pengaturan mode berkendara (comfort dan ecopro), kamera parkir, dan stability control, dan rem tangan elektronik terletak di konsol tengah dekat perseneling. Letak penyetelan multimedia terintegrasi dengan perangkat BMW iDrive yang juga berada di konsol sentral.

Visibilitas kaca depan BMW i8 cukup luas, sehingga memudahkan pengemudi melihat kondisi di depan mobil. Kamera 360 derajat pun sangat membantu ketika harus berhadapan dengan kondisi jalan sempit. Selain itu, ada driving assistant berikut kamera monitor yang mampu mendeteksi dan memberi peringatan keberadaan objek di sekeliling mobil agar tidak terjadi benturan. Fitur ini sangat krusial, mengingat goresan kecil saja bisa menjadi momok buat mobil berharga hampir Rp4 miliar ini.

Kolaborasi motor listrik yang menggerakkan roda depan dan mesin bensin 1.500 cc twin power turbo 3-silinder untuk menggerakkan roda belakang membuat laju BMW i8 terasa mengentak sejak awal pedal gas diinjak. Total tenaga yang dihasilkan kedua perangkat tersebut mencapai 362 dk.

Tatapan Mata dan Rasa Sungkan Pengendara


Kami mulai dari parkir basement The Plaza, Jakarta Pusat, mobil yang dijual di Indonesia sejak Agustus 2016 ini sudah jadi pusat perhatian orang-orang saat meluncur belum genap 1 Km membelah aspal jantung ibukota, dari mulai Bundaran Hotel Indonesia (HI) sampai ke jalan Medan Merdeka Barat. Sorot mata kagum nampak terasa dari para pejalan kaki hingga para pengendara di jalan.



Kami mencoba tiga mode berkendara pada BMW i8. Di setelan “comfort”, distribusi tenaga mobil relatif halus, entakan baru terasa saat gas diinjak penuh. Berbeda rasanya kala tuas perseneling di geser ke kiri untuk masuk ke mode “sport”. Putaran mesin langsung meningkat, dan sesuai perkiraan, laju mobil menjadi lebih “buas”. Pada mode sport transmisi bisa diatur manual dari tuas perseneling maupun paddle shifter.


Saat situasi jalanan padat, kami beralih ke mode “eco pro” agar lebih efisien bahan bakar. Sengaja mobil kami gulirkan dengan kecepatan sedang untuk memastikan reaksi para pengguna jalan lain. Respons sosial dari mobil berharga Rp3,9 miliar ini begitu terasa ketika kami kemacetan di kawasan Warung Buncit.

Di tengah padatnya lalu lintas, para pengendara sepeda motor kompak melihat ke arah BMW i8. Pengendara roda empat lain di balik kemudi juga tak mau melewatkan mencuci matanya ke arah mobil ini. Wajah-wajah kagum nampak dari mata mereka.

BMW i8 punya desain futuristik dengan lekuk bodi tajam dibalut kelir silver diseling hitam dan lis biru pastinya akan mengundang kagum. Para pengendara sepeda motor dengan sukarela minggir begitu BMW i8 melintas. Barang kali di benak mereka berpikir “di dalam mobil super mahal itu pasti ada orang berduit yang bisa berbuat apapun jika mobilnya tersentuh sedikit saja”. Atau kira-kira "mereka tak mau berisiko merogoh kantong dalam untuk mengganti rugi karena bikin lecet".

Pengendara sepeda motor dengan sukarela memberi kami jalan ketika kami ingin berpindah jalur. Sesuatu yang sulit sekali didapatkan saat mengemudi mobil “pasaran”.

Kami pun berkesempatan berkunjung ke sebuah restoran cepat saji di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. BMW i8 yang kami tunggangi mengantre di belakang sebuah mobil MPV. Setelah mobil tersebut beranjak, tiba giliran kami mengambil karcis. Lagi-lagi di luar ekspektasi, seorang petugas keamanan menghampiri dan langsung mengambilkan karcis dengan raut wajah penuh hormat. Perlakuan istimewa oleh petugas keamanan itu tidak diberikan kepada pengendara MPV tadi.



Mobil listrik BMW i8 IIMS


Kami juga pernah melakukan simulasi berkendara dengan kendaraan berbeda dalam waktu yang hampir berdekatan. Satu jam berkendara kami melintasi jalan yang sama dengan BMW i8 dan satu jam berikutnya kami mengendarai mobil city car buatan Jepang yang sudah uzur.

Sensasinya sudah dapat ditebak, dengan BMW i8 banyak pengendara lain mengalah untuk memberi jalan, atau pengendara roda dua nampak "khawatir" bila terlalu dekat dengan BMW i8. Tidak satupun sepeda motor atau mobil di belakang yang membunyikan klakson kala kami berjalan dengan kecepatan sangat rendah. Mereka dengan sabar mengikuti laju BMW i8.

Namun, sensasi bagai bumi dengan langit terjadi, kala berkendara dengan city car perlakukan yang jauh berbeda, tak ada yang peduli. Pengendara di belakang sangat sewot waktu kami berjalan pelan menggunakan city car.

Selama tiga hari merasakan bepergian dalam balutan kemewahan dengan BMW i8, terasa betul perlakuan orang di sekitar terhadap pemilik mobil supercar. Ada citra martabat dan kuasa bagi orang yang berada di balik kemudi mobil ini. Mobil mewah macam BMW i8 bisa menjadi simbol supremasi bagi para pemiliknya, termasuk mereka yang cuma berkesempatan berada di balik kemudi mobil ini.

Ucapan Hotman Paris Hutapea bukan hanya isapan jempol belaka.

Baca juga artikel terkait BMW atau tulisan menarik lainnya Yudistira Perdana Imandiar
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Suhendra
DarkLight