Menuju konten utama
Piala Dunia 2018

Senjata Jerman di Piala Dunia: Fleksibilitas Permainan

Pepatah Jerman yang bisa menggambarkan timnasnya: memulai sesuatu itu mudah, ketekunan (mempertahankannya) adalah seni.

Senjata Jerman di Piala Dunia: Fleksibilitas Permainan
Ilustrasi taktik Jerman di World Cup 2018. AP Photo/Ronald Zak

tirto.id - Jerman lolos ke Piala Dunia 2018 dengan rekor sempurna: 10 kemenangan dalam 10 pertandingan babak kualifikasi. Rekor tersebut menjadikan mereka sebagai tim kedua setelah Spanyol pada 2010 yang berhasil meraih kemenangan 100% di babak kualifikasi. Ditambah status sebagai juara bertahan, Jerman sudah pasti menjadi salah satu unggulan dalam pagelaran Piala Dunia 2018.

Terdapat beberapa perubahan signifikan yang dilakukan pelatih Joachim Loew. Salah satu kejutan adalah tidak memanggil nama Leroy Sane. Winger 22 tahun itu sejatinya telah menunjukkan performa gemilang bersama Manchester City yang menjadi juara liga musim lalu.

Catatan statistik Sane memperlihatkan hal tersebut: Bermain dalam 58 laga di Premier League, ia mencetak 15 gol dan 18 assists. Selain itu, Sane juga menggondol sejumlah penghargaan individual seperti Men's PFA Young Player of the Year dan Premier League Player of the Month pada Oktober 2017 lalu.

Lowe pun memberi penjelasan: "Situasi sangat ketat, keduanya (Sane dan Brandt) memiliki kualitas yang sangat baik, terutama dalam hal kecepatan dan menggiring. Julian Brandt bermain bagus saat Piala Konfederasi dan juga sangat bagus saat latihan. Sungguh, sangat ketat."

Ia menambahkan: "Leroy memiliki talenta luar biasa dan dia akan kembali berada di sini (bersama skuat Jerman) dan kami akan bekerja sama kembali dengannya mulai September. Dia bermain bagus saat melawan Austria; ikut membantu pertahanan dan berpindah posisi sangat cepat. Kami harus memutuskan; skuat harus memiliki keseimbangan, kami tak dapat memanggil pemain bertahan dan menarik pemain menyerang. Jika sesuatu terjadi dengan pertahanan, kami perlu alternatif, jadi saya harus menentukan pilihan sulit."

Sebagai ganti Sane, Loew memilih Julian Brandt, winger Bayern Leverkusen yang juga berusia 22 tahun. Dilansir Whoscored, Brandt telah memainkan total 44 laga bersama Leverkusen musim lalu dan sukses mencetak 12 gol serta 3 assist. Dua nama lain yang tidak dibawa Joachim Loew adalah Mario Goetze, pencetak gol kemenangan Jerman di Piala Dunia 2014 silam, serta Emre Can yang baru saja resmi pindah ke Juventus dari Liverpool. Namun, mengingat performa keduanya tak terlalu mengesankan musim lalu, alasan Loew terkait hal ini lebih mudah diterima.

Dua jangkar di lini tengah Jerman juga sudah pasti akan ditempati oleh duet Toni Kroos dan Sami Khedira: kedua pemain yang di klub masing-masing (Real Madrid dan Juventus) selalu menjadi pilihan utama tiap musimnya. Tiga nama baru di sektor gelandang yang dipanggil Loew adalah Sebastian Rudy, Leon Goretzka dan Ilkay Guendogan (baca: Suporter Timnas Jerman Cemooh Gundogan di Laga Kontra Arab Saudi).

Rudy adalah alternatif terbaik untuk mendampingi Kroos atau Khedira. Saat Jerman mengalahkan Irlandia Utara 3-1 dalam babak kualifikasi, pemain Bayern Munich tersebut juga turut mencetak gol cepat pada menit ke-2. Sementara Guendogan, yang pada pertengahan musim 2017/18 mulai tampil secara kompetitif bersama Manchester City setelah cedera panjang, dapat menjadi pelapis potensial jika Jerman hendak bermain dengan bola-bola pendek.

Untuk melapis Mesut Oezil yang sudah pasti akan menjadi pengatur serangan Jerman, Goretzka jadi sosok yang tepat, mengingat ia juga berposisi sebagai gelandang serang. Kendati baru memulai debut di tim nasional Jerman sejak Piala Konfederasi 2017 lalu, gelandang Schalke 04 yang baru berusia 23 tahun tersebut telah menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Selain Goretzka, ada pula Julian Draxler. Ia memang masih belum konsisten menjadi pemain utama Paris Saint Germain, tapi tak dapat dipungkiri bahwa Draxler adalah gelandang serang berbakat yang dapat bermain multisisi: tengah, kiri, kanan. Dengan kemampuan tersebut, ia memiliki kapabilitas untuk menjadi pelapis baik Oezil, Marco Reus, atau Thomas Mueller. Musim ini Draxler memainkan 52 laga bersama PSG dengan raihan 4 gol dan 6 assists.

Perubahan yang paling banyak dilakukan Loew terjadi di lini belakang. Praktis hanya Jerome Boateng dan Mats Hummels yang tersisa dari skuat juara Jerman di Piala Dunia 2914 lalu. Beberapa nama baru antara lain: Matthias Ginter (Borussia Monchengladbach), Jonas Hector (Cologne), Joshua Kimmich (Bayern Muenchen), Marvin Plattenhardt (Hertha Berlin), Antonio Rudiger (Chelsea), serta Niklas Sule (Bayern Muenchen).

Sebagaimana di Piala Dunia 2014, Hummels dan Boateng akan kembali menjadi duet utama bek tengah Jerman. Pada musim ini, kekompakan keduanya di musim ini membuat Munich menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit di Bundesliga (22 gol). Hummels bahkan menjadi pemain Munich tersukses dalam melakukan passing (1539) dengan akurasi 87%.

Sementara dua bek sayap akan diplot Joshua Kimmich dan Jonas Hector. Kimmich, yang baru berusia 23 tahun, dianggap sebagai suksesor terbaik Philipp Lahm di pos bek kanan Jerman. Bersama Munich musim ini, ia bermain sepanjang 3231 menit dengan raihan 13 assists dan 6 gol--sebuah bentuk produktivitas yang cukup tajam bagi seorang pemain bertahan. Sementara itu, Hector selalu menjadi pilihan utama Loew sejak November 2014 di sektor bek kiri.

Di lini depan, Loew hanya memanggil dua penyerang murni “nomor 9”, yakni Mario Gomez (Stuttgart) dan Timo Werner (RB Leipzig). Khusus Werner, dengan usianya yang masih belia, 22 tahun, ia adalah striker masa depan timnas Jerman. Dalam 52 penampilannya bersama Leipzig musim ini, ia mencetak 23 gol serta 9 assists.

Sedangkan penjaga gawang, Loew masih mempercayai Manuel Neuer sebagai pilihan utama kendati ia baru saja sembuh dari cedera panjang. Sementara untuk pelapisnya, ada Marc-Andre ter Stegen (Barcelona) dan Kevin Trapp (Paris Saint-Germain).

Dari 4-2-3-1, 4-3-3, hingga 3-5-1-1

Melihat komposisi skuat Jerman di Piala Dunia 2018, ada beberapa formasi yang diperkirakan dapat digunakan Loew. Mulai dari 4-2-3-1, 4-3-3, hingga 3-5-1-1.

Sejak Piala Dunia 2014, 4-2-3-1 memang selalu menjadi formasi ideal bagi Jerman. Di final kontra Argentina, misalnya, Loew menggunakan 4-2-3-1 dengan memplot Goetze sebagai false 9. Melihat skuat yang ada kini, 4-2-3-1 sepertinya akan tetap menjadi pilihan utama dengan pilihan pemain: (B) Hector - Hummels - Boateng - Kimmich; (T) Kroos - Khedira - Reus - Oezil - Mueller; (D) Brandt.

4-2-3-1 dalam pendekatan Loew bersifat dinamis. Dalam praktiknya, 4-2-3-1 Jerman berubah menjadi 2-4-3-1 dengan Hector dan Kimmich yang ikut naik membantu serangan. Kala bertahan, Jerman memainkan 5-1-4-1 dengan skema counter attack cepat sejak bola berhasil direbut. Sementara jika kembali menggunakan false 9, Loew mengadaptasi 4-6-0 strikerless alias tanpa pemain nomor 9. Dengan ketiadaan Goetze, false 9 dalam skema Loew saat ini dapat diisi oleh Mueller atau Draxler.

Infografik Jerman Favorit Juara piala dunia

Namun demikian, Loew juga beberapa kali mencoba formasi dengan skema tiga bek, 3-5-1-1. Hal tersebut terlihat, misalnya, dalam tiga laga kualifikasi kontra San Marino, Republik Ceska, dan Azerbaijan yang semuanya berakhir dengan kemenangan besar: 8-0, 3-0, 5-1. Catatan khusus dalam laga kontra Azerbaijan, formasi 3-5-1-1 Jerman tampak berubah menjadi 2-3-5 centering tiap menyerang, di mana konsentrasi permainan selalu berada di tengah.

Melihat berbagai formasi yang digunakan Jerman sejak babak kualifikasi hingga keikutsertaan mereka di Piala Konfederasi, dapat dikatakan kunci kekuatan Jerman terletak pada kemampuan pemain beradaptasi dengan sistem apapun. Dalam kata lain: fleksibilitas (dalam memahami) permainan.

Sebagai contoh lain, ketika melumat Brazil 7-1 di Piala Dunia 2014 lalu Loew menggunakan 4-2-3-1 dengan pendekatan serangan balik cepat. Di final kontra Argentina, mereka memainkan 4-2-3-1 dengan false 9 dan tampak lebih berhati-hati dalam menyerang. Sementara dalam partai perempat final Piala Eropa 2016 kontra Italia, Loew menerapkan skema tiga bek dalam formasi 3-5-2. Saat itu, Loew disebut memang sengaja menjiplak taktik Italia untuk mengatasi taktik Conte yang dengan jitu menggunakan 3-5-2 untuk menyingkirkan Spanyol di babak sebelumnya.

Jika pun ada yang ajeg dalam filosofi Loew adalah pressing dan permainan tik-tak yang cepat. Berbeda dengan tiki-taka ala Spanyol atau Pep Guardiola, skema operan satu-dua Loew dimaksudkan bukan demi penguasaan bola, namun justru untuk efisiensi serangan. Selain itu, kemampuan individu pemain pun juga mutlak menjadi salah satu faktor penting penentu permainan.

Dikutip dari Sportskeeda, ia berargumen: "Sekarang ruang di lapangan semakin sempit, waktu untuk melakukan sesuatu semakin jarang. Kemampuan individu, oleh karenanya, merupakan hal terpenting yang harus terus ditingkatkan dalam latihan, lebih penting dari sistemnya sendiri."

"Kami harus membuat hal sederhana menjadi lebih spesial; permainan operan, ketepatan waktu, penekanan, irama permainan, permainan tanpa bola, bagaimana caranya menghadapi situasi satu lawan satu, serta bagaimana menemukan solusi dengan cepat dalam ruang sempit. Yang paling penting jika Anda ingin memenangkan gelar di level tertinggi adalah membuat para pemain Anda mengerti peran masing-masing."

Ada pepatah Jerman yang menarik: Anfangen ist leicht, Beharren eine Kunst. Artinya kurang lebih: Memulai sesuatu adalah hal mudah, namun ketekunan (mempertahankannya) adalah sebuah seni. Di Piala Dunia 2018 nanti, menarik melihat apakah (fleksibilitas) Jerman berhasil membuat mereka mempertahankan gelar juara atau justru sebaliknya.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan lainnya dari Eddward S Kennedy

tirto.id - Olahraga
Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS