30 Maret 1950

Sejarah Hari Film Nasional dan Restorasi Film Usmar Ismail

Oleh: Hasya Nindita - 30 Maret 2021
Dibaca Normal 5 menit
Lewat Djam Malam (1954) adalah karya terbaik Usmar Ismail dan salah satu film terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
tirto.id - Sebuah jam yang bertengger di atas rak dinding berdentang 10 kali, menandakan waktu tepat pukul 10 malam. Seorang wanita berjalan mondar-mandir di rumahnya, terlihat begitu gelisah. Sementara di luar, sekelompok prajurit tengah berpatroli, memastikan tidak ada warga yang masih berkeliaran selepas pukul 10 malam.

Itu adalah cuplikan dari adegan pembuka film Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail. Berkisah tentang seorang eks-prajurit, Iskandar (AN Alcaff), yang kembali ke masyarakat dan berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan yang sudah asing baginya. Berlatarkan Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaannya, di Bandung, Iskandar berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan dirinya.

Mulanya, Iskandar meminta tolong kepada kekasihnya, Norma (Netty Herawati) dan keluarganya. Iskandar diceritakan tidak cocok bekerja di kantor gubernur, sebagaimana yang disarankan oleh calon mertuanya. Ia lalu bertemu kawan lamanya, Gafar (Awaludin), seorang pemborong. Lagi-lagi juga tidak cocok. Dari satu tempat ke tempat lain, Iskandar mengetahui bahwa korupsi telah merajalela di berbagai tempat.

Kemarahan Iskandar memuncak ketika bertemu dengan Gunawan (Rd Ismail). Iskandar merasa muak melihat cara berbisnis dan kekayaan bekas komandannya tersebut. Ia memaksa Gunawan mengakui kesalahan dan korupsi yang ia lakukan, tetapi Gunawan menolak. Hal ini membuat Iskandar frustasi dan akhirnya melanggar jam malam. Ia dikejar pasukan jaga malam hingga tertembak.

Menurut JB Kristanto--kritikus film dan penulis buku Katalog Film Indonesia--Lewat Djam Malam yang dinobatkan sebagai film terbaik Festival Film Indonesia tahun 1955, adalah karya terbaik Usmar Ismail dan salah satu film terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Maka itu, film ini dipilih sebagai proyek pertama restorasi film Indonesia secara penuh.

Lewat Djam Malam dianggap memenuhi kualitas naratif dan estetika dengan standar yang tinggi. Dari segi cerita, film ini memiliki signifikansi historis yang penting karena berhasil menggambarkan kondisi masyarakat saat masa transisi setelah merdeka. Ditambah kritik sosial yang tajam akan korupsi yang mulai merajalela.

“Dari segi estetik, film ini mencapai posisi tertinggi dalam sejarah film Indonesia,” kata JB Kristanto seperti dikutip BBC Indonesia.

Proyek restorasi ini dilakukan untuk memulihkan warisan bersama sinema Asia Tenggara. Berangkat dari kesadaran bahwa medium film tidak abadi, juga kondisi iklim tropis di wilayah Asia Tenggara dengan kelembaban yang berpotensi merusak film jika tidak dijaga dengan tepat, maka proyek restorasi pun diinisasi.

“Proses restorasi ini, kalau buat sejarah film Indonesia adalah momen penting, bersejarah, karena sebelumnya film kita belum pernah direstorasi sedetail ini,” kata Lisabona Rahman yang turut berkontribusi dalam pemulihan film ini, seperti dilansir BBC Indonesia.

Proses Restorasi Lewat Djam Malam

Proses pemulihan film Lewat Djam Malam diabadikan dalam buku berjudul Lewat Djam Malam Diselamatkan (2012) yang ditulis oleh sejumlah kritikus, pengamat, dan orang-orang yang terlibat dalam proses restorasi. Davide Pozzi, direktur L’Immagine Ritrovata, pada buku tersebut menulis bahwa restorasi film ini adalah sebuah proyek internasional ambisius yang melibatkan banyak orang dan lembaga.

Mulanya, Philip Cheah dan JB Kristanto berkolaborasi dengan Yayasan Konfiden dan National Museum Singapore untuk menerjemahkan Katalog Film Indonesia ke Bahasa Inggris ketika ide untuk merestorasi film Indonesia muncul. Setelah Lewat Djam Malam terpilih, Cheah bersama Yayasan Konfiden dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta mengevaluasi kondisi film di Sinematek Indonesia.

Setelah diperiksa, elemen-elemen film ini menunjukkan bahwa kopi negatif gambar dan suara dinyatakan komplit. Meski demikian, ada beberapa hal yang kondisinya buruk. Bagi yang pernah menyaksikan kopi original Lewat Djam Malam, pasti menonton film dengan gambar goyang, pencahayaan yang tidak konsisten, goresan, dan suara yang buruk.

“Elemen-elemen film ini mengalami beberapa goresan, jamur dan jejak-jejak kelembaban, bagian-bagian yang rusak parah, frame yang hilang, serta vinegar syndrome, yakni sejenis pembusukan yang lazim terjadi pada film yang disimpan dalam kondisi ruang yang lembab. Terjadi penyusutan pita, tekukan emulsi film, dan pembusukan sehingga sepanjang gambar di pita menjadi nyaris transparan,” tulis Davide Pozzi dalam Lewat Djam Malam Diselamatkan (2012).

Restorasi kemudian ditangani oleh L’Immagine Ritrovata, sebuah laboratorium restorasi film terkemuka di Bologna, Italia. Prosesnya dimulai pada Agustus 2011 dan memakan waktu tujuh setengah bulan dengan lebih dari 2.500 jam reparasi digital. Restorasi menghasilkan dua produk, yakni seluloid 35mm yang baru dan paket format kamera digital.

Hasil pemulihan ini sempat ditayangkan di National Museum of Singapore pada 28 Maret 2012. Kala itu, restorasi baru rampung sekitar 90 persen. Sementara restorasi Lewat Djam Malam yang sudah selesai sepenuhnya pertama kali tayang pada World Premiere dalam program Cannes Classics pada hari kedua Festival Film Cannes ke-65, 17 Mei 2012.

Cannes Clasics adalah program yang dikhususkan untuk memutar restorasi karya-karya klasik monumental dari seluruh dunia. Lewat Djam Malam diputar atas pilihan dari Martin Scorsese yang saat itu mengepalai World Cinema Foundation (WCF).

Setelahnya, film ini diputar di Indonesia pada 18 Juni 2012. Lewat Djam Malam menjadi pembuka program Merdeka!, yakni pemutaran enam film karya Usmar Ismail dan Garin Nugroho yang dianggap merintis dan memperbarui sinema Indonesia modern. Film ini juga ditayangkan sebagai bagian dari konferensi Association for Southeast Asia Cinema Conference di Singapura pada 19 Juni 2012 dan program Il Cinema Ritrovata di Bologna 2012 pada 23-30 Juni 2012.

Lewat Djam Malam terkurasi sebagai salah satu koleksi Criterion Collection 2020. Film ini akan direstorasi kembali pada proyek yang digagas Martin Scorsese, Martin Scorsese’s World Cinema Project, yang bekerjasama dengan Criterion Collection, perusahaan asal Amerika Serikat yang memiliki reputasi sebagai label home video dengan spesialisasi perizinan film klasik legendaris.

Usmar Ismail dan Sejarah Film Indonesia

Usmar Ismail (1921-1971) tidak dapat dipisahkan dari sejarah sinema Indonesia. Hari pertama pengambilan gambar film perdananya, Darah dan Doa (1950), pada 30 Maret 1950, tepat hari ini 71 tahun lalu, diperingati sebagai Hari Film Nasional.

Film ini bercerita tentang perjalanan pulang TNI Divisi Siliwangi dan keluarganya dari Yogyakarta menuju Jawa Barat. Dipimpin oleh Kapten Sudarto (Del Juzar), pasukan ini memulai perjalanan setelah Yogyakarta dikuasai oleh Belanda lewat aksi polisionil. Film ini menggambarkan ketegangan akan ancaman serangan Belanda. Juga penggambaran karakter Kapten Sudarto yang cukup berlapis. Sebagai pemimpin pasukan yang sudah beristri, ia jatuh cinta pada seorang wanita Indo-Belanda.

Jika mengacu pada penetapan tanggal Hari Film Nasional, sejarah film Indonesia masih cukup belia. Namun, jejak panjang sinema Indonesia sebenarnya dapat ditelusuri sejak masa kolonialisme Belanda, ditandai dengan berdirinya bioskop pertama di Jalan Kebon Jahe, Tanah Abang pada 5 Desember 1900.

Industri ini kemudian berkembang setelah pedagang Cina masuk ke bisnis tersebut dan mulai mengimpor film-film Hollywood, Jerman, dan Cina. Pada 1926, film pertama Indonesia yang disutradarai oleh sutradara Belanda, G. Krugers dan L. Heuveldorp, Loetoeng Kasaroeng (1926) dirilis. Keterlibatan sutradara Belanda menyebabkan film ini tidak dirayakan sebagai momentum tertentu.


Pergerakan produksi film Indonesia sedikit mengendur kala Jepang menggantikan kekuasaan Belanda. Jepang memanfaatkan film sebagai alat propaganda dan tidak mengeluarkan izin produksi film sehingga melemahkan pertumbuhan produksi film nasional.

Setelah merdeka, Usmar Ismail memproduksi Darah dan Doa dengan modal sendiri dan dukungan dari sejumlah pemilik bioskop. Film ini dinobatkan sebagai film pertama Indonesia karena disutradai oleh orang Indonesia, diproduksi oleh perusahaan film Indonesia, dan pengambilan gambarnya di Indonesia.

Dikutip dari Lewat Djam Malam Diselamatkan (2012), sejumlah pengamat dan peneliti film sebenarnya tidak sepakat dengan hal tersebut karena dianggap menafikan keberadaan dan kontribusi produser serta sutradara lain yang telah membangun infrastruktur perfilman Indonesia sejak 25 tahun sebelumnya. Berkat kerja keras mereka, banyak bintang dan pekerja film berkualitas lahir, salah satunya Usmar Ismail.

Infografik Mozaik Hari Film Nasional
Infografik Mozaik Hari Film Nasional. tirto.id/Sabit


Terdapat tiga motif besar yang mendasari pengakuan Darah dan Doa sebagai film Indonesia pertama, yakni: sentimen nasionalisme, politik identitas, dan hasrat idealisme yang sangat kuat. Film-film Usmar Ismail berikutnya juga dianggap memuat kegelisahan akan ketiga hal tersebut. Isu nasionalisme bertema revolusi terasa kental pada karya-karyanya.

Usmar memiliki kecendurungan anti-hero dengan menggambarkan para pejuang--yang dalam sejarah kerap disebut pahlawan--sebagai manusia biasa. Pada sebagian besar filmnya, Usmar juga gemar mengemas sentilan atau kritik sosial mengenai kecenderungan kebarat-baratan terutama bagi kelas menengah Indonesia.

Hal-hal di atas menguatkan alasan mengapa Darah dan Doa, Lewat Djam Malam, serta film-film Usmar lainnya secara estetika layak dianggap sebagai prototipe film Indonesia. Usmar berhasil memotret kegelisahan dari berbagai persoalan faktual bangsa dan masyarakatnya yang kemudian dinarasikan dengan gagasan yang kuat.

Selain Lewat Djam Malam, Darah dan Doa juga direstorasi dan diputar ulang pada rangkaian Hari Film Nasional ke-64 pada 2016. Begitu pula dengan film Usmar Ismail yang sukses besar, Tiga Dara (1956) yang direstorasi dan dikonversi dalam bentuk digital pada 2015 serta dibuat ulang oleh Nia Dinata pada 2016.


Peran Sinematek

Restorasi film klasik menjadi salah satu isu penting bagi industri film Indonesia. Melalui Sinematek Indonesia yang didirikan oleh Misbach Jusa Biran pada 1975, Indonesia berusaha mengarsipkan film-film klasik. Sinematek mengoleksi setidaknya 14 persen dari sekitar 3.000 film Indonesia yang diproduksi sejak 1926 hingga 2012.

Saat mendirikan Sinematek, Misbach menginginkan suatu medium di mana orang-orang bisa menonton dan belajar dari film-film klasik Indonesia. Sayangnya, keterbatasan dana menyebabkan sebagian koleksi film Indonesia milik Sinematek tidak terurus dengan baik dan berujung pada kerusakan parah.

Pada buku Lewat Djam Malam Diselamatkan (2012), Lisabona Rahman menulis bahwa restorasi bukanlah upaya yang mudah karena kendala dana. Untuk melakukan restorasi satu film saja dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi jika elemen film dalam kondisi tidak baik.

Pada 2016, melalui wawancara dengan Kompas.com, Adi Surya Abdi yang kala itu menjabat sebagai Kepala Sinematek menyebutkan bahwa Sinematek sudah mengalihmediakan setidaknya sebanyak 150 judul film. Dalam wawancara dengan BBC, Lisabona menjelaskan bahwa sejak kelahiran film pertama Indonesia pada 1926, setidaknya lebih dari 60 persen konsumsi kebudayaan manusia modern berupa moving image.

Jika sejarah tersebut tidak diarsipkan dengan baik, maka kita akan kehilangan salah satu sumber pengetahuan sosiologis kebudayaan orang-orang dari tahun-tahun yang telah lalu.

Baca juga artikel terkait SEJARAH HARI FILM NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Film)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Irfan Teguh
DarkLight