Sejarah Akuntansi di Dunia dan Indonesia serta Perkembangannya

Oleh: Nika Halida Hashina - 13 Maret 2021
Dibaca Normal 4 menit
Sejarah akuntansi di dunia bermula sejak ribuan tahun lalu. Adapun sejarah akuntansi di Indonesia dimulai sejak masa kolonial Belanda.
tirto.id - Pada dasarnya, akuntansi merupakan seni pencatatan dari transaksi-transaksi keuangan. Namun, seiring dengan perkembangannya, akuntansi didefinisikan secara lebih detail.

Mengutip ulasan di buku Akuntansi untuk LSM dan Partai Politik (2007: 72), American Accounting Association pada 1966 membikin rumusan pengertian akuntansi sebagai berikut:

"Akuntansi adalah pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu organisasi, yang dijadikan sebagai informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi oleh pihak-pihak yang memerlukan. Pengertian ini juga dapat melingkupi penganalisisan atas laporan yang dihasilkan oleh akuntansi tersebut."

Definisi itu menunjukkan bahwa akuntansi berperan menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang berupa data keuangan. Informasi yang dihasilkan akuntansi tersebut bisa menjadi masukan yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan, khususnya terkait ekonomi.

Adapun dari segi keilmuan, seperti dijelaskan Iman Supriadi dalam Metode Riset Akuntansi (2020: 17), pengertian akuntansi ialah disiplin pengetahuan dasar yang bisa diaplikasikan dalam aktivitas pekerjaan perseorangan atau korporasi, yang membutuhkan kejelasan terkait informasi keuangan.


Sedangkan dalam arti luas, menurut uraian Muhammad Gade di buku Teori Akuntansi (2005:5), akuntansi meliputi pengetahuan tentang tata buku, pembuatan berbagai teknik pencatatan (sistem akuntansi), laporan keuangan (intrepetasi atau penyajian), pelaporan fakta-fakta usaha, dan juga kegiatan pengawasan jalannya organisasi dari segi keuangan maupun kuantitas.

Sementara dalam pengertian lebih ringkas, akuntansi ialah proses pengidentifikasian, pengukuran, dan pelaporan informasi ekonomi. Akuntansi bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan atau organisasi kepada pihak-pihak yang membutuhkannya, baik dari internal maupun eksternal.

Meskipun akuntansi identik dengan manajemen modern, bidang ini sebenarnya sudah berkembang sejak masa ratusan abad silam. Setidaknya, sejak manusia mengenal uang sebagai alat tukar dan aktivitas perdagangan tumbuh, cara-cara pembukuan mirip akuntansi sudah berkembang.


Sejarah Perkembangan Akuntansi di Dunia

Mengutip modul Ekonomi terbitan Kemdikbud, sejarah perkembangan akuntansi di dunia bisa dibagi menjadi empat, yaitu sejarah lahirnya praktik akuntansi dalam kehidupan manusia, sejarah sistem pencatatan akuntansi, perkembangan ilmu akuntansi, dan perkembangan akuntansi di Indonesia.

Mengenai sejarah lahirnya praktik akuntansi, riwayatnya bisa dilacak sejak masa Mesir Kuno pada tahun 3200 sebelum Masehi. Saat itu, telah dikenal dua teknik akuntansi yang berlaku pada waktu yang bersamaan.

Teknik pertama adalah sejenis koin dengan bentuk tertentu yang disimpan dan ditandai, serta kemudian di masukkan ke dalam amplop. Sementara teknik yang kedua menggunakan sejenis token yang disimpan dalam bentuk lebih besar dengan berbagai jenis yang lebih kompleks dibandingkan dengan koin.

Selain itu, berdasarkan penjelasan dalam buku Teori Akuntansi (2005: 27), catatan mirip akuntansi juga ditemukan di reruntuhan tembok bangunan dari peradaban Babilonia yang diperkirakan ditulis pada tahun 4000 SM. Catatan akuntansi dalam bentuk sederhana juga ditemukan pada sisa-sisa peninggalam peradaban Yunani Kuno dan Roma Kuno.

Namun, akuntansi pada masa ratusan abad silam tersebut masih bersifat pencatatan dan belum dapat disebut sebagai ilmu akuntansi.

Baru kemudian pada tahun 1494 sistem pencatatan akuntansi lebih sistematis diperkenalkan Luca Paciolo, seorang ahli matematika berkebangsaan Italia. Nama lengkapnya Fra Luca Bartolomeo de Pacioli, dan sering pula disebut dengan Luca Pacioli.


Luca memperkenalkan 2 kegiatan pencatatan. Pertama, kegiatan pencatatan penarikan pajak atau sewa. Kedua, kegiatan pencatatan perjalanan perdagangan per satu kali jalan.

Kegiatan itu dicatat dengan teratur dan berkelanjutan. Sistem pencacatan yang diperkenalkan oleh Luca itulah yang disebut dengan sistem pembukuan berpasangan (double entry).

Kegiatan pencatatan itu mengilhami Luca untuk menulis buku yang berjudul Summa d'Aritmetica, Geometria, Proportion, et Proportionalita. Buku ini menjelaskan kegiatan pembukuan di Venesia yang kemudian dikenal dengan Metode Venesia atau Metode Italia.

Menurut Luca, tujuan kegiatan pembukuan pada saat itu adalah untuk memberikan informasi yang tepat waktu bagi para pedagang soal aset yang dimiliki dan kewajiban yang harus dipenuhinya.

Meskipun begitu, kembali mengutip buku Teori Akuntansi (2005: 28-29), Luca Pacioli sebenarnya bukan orang pertama yang menemukan sistem pembukuan double entry accounting. Sebab, Luca mengakui bahwa sistem tersebut sudah berkembang paling tidak 100 tahun di Venesia ketika dia menulis bukunya.


Sistem akuntansi yang diperkenalkan Luca Pacioli bahkan sudah dikenal jauh sebelumnya. Hal ini karena matematika dan sistem angka sudah dikenal peradaban Islam dan India di beberapa abad sebelumnya, setidaknya mulai abad ke-9 Masehi.

Penggunaan sistem akuntansi yang lebih sistematis di Eropa mulai meluas pada akhir abad ke XV. Seiring menurunnya pengaruh Kekaisaran Romawi, pusat perdagangan bergeser ke Spanyol, Portugis, dan Belanda.

Akibatnya, sistem akuntansi yang telah dikembangkan Romawi juga ikut berpindah dan digunakan di negara-negara tersebut. Pada masa itu, laporan laba-rugi mulai dibuat secara tahunan yang lalu mendorong berkembangnya penyusunan neraca rutin pada jangka waktu tertentu.


Perkembangan akuntansi semakin pesat usai terjadi revolusi industri di Eropa. Tumbuhnya industri membuat kebutuhan akan informasi biaya produksi semakin tinggi. Ini kemudian mendorong kemunculan akuntansi biaya, untuk melengkapi administrasi keuangan yang sudah ada sebelumnya, yakni laporan laba-rugi dan neraca.

Buku Robert Hamilton yang berjudul Introduction to Merchandise (1798) menjadi sumber otoritatif pertama yang memuat informasi mengenai akuntasi biaya. Kemudian, perkembangan ilmu akuntansi menjadi semakin kompleks pada abad ke-19, yakni saat depreciation accounting (depresiasi dianggap biaya) dan industrial accounting mulai dikenal luas.

Demikianlah seiring dengan tumbuh pesatnya industri di dunia barat, akuntansi pun berkembang di Amerika Serikat dan Eropa. Memasuki abad 20, akuntansi yang dipratikkan di Inggris dan AS berkembang menjadi dua cabang, yakni financial accounting dan cost accounting. Cabang terakhir pada kenyataannya berpengaruh besar pada keputusan para manager.

Peran akuntansi juga semakin penting dalam ekonomi. Di tahun 1930, New York Stock Exchange dan American Institute of Certified Public Account membahas dan menetapkan prinsip-prinsip akuntansi bagi perusahaan-perusahaan yang sahamnya terdaftar di bursa saham.

Sejarah Perkembangan Akuntansi di Indonesia

Di Indonesia, Akuntansi disinyalir telah dikenal sejak tahun 1642. Namun, bukti jelas soal adanya penerapan akuntansi di tanah air baru ada dalam pembukuan Amphioen Sociateit yang berdiri di Jakarta tahun 1747.

Setelah itu, akuntansi di Indonesia berkembang setelah UU Tanam Paksa dihapuskan pada tahun 1870 oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pada masa itu, banyak pengusaha Belanda menanamkan modal di Indonesia. Mereka menerapkan sistem pembukuan yang dianjurkan oleh Luca Pacioli (double entry/pembukuan berpasangan).

Kegiatan perekonomian yang padat berakibat diperkenalkannya fungsi auditing di Indonesia pada tahun 1907.

Internal auditor yang pertama kali datang di Indonesia adalah J. W. Labrijin yang sudah berada di Indonesia pada tahun 1896. Sementara orang pertama yang melakukan pekerjaan audit di tahun 1907 adalah Van Schagen, demikian mengutip ulasan karya John F. Sonoto dalam Jurnal Akuntansi (Vol 1, No 1, 2013).


Kehadiran Van Schagen diikuti oleh berdirinya Jawatan Akuntan Negara yang dibentuk pemerintah kolonial Belanda di tahun 1915.

Sementara kantor akuntan di Indonesia didirikan pada 1918 oleh Frese dan Hogeweg. Setelah itu, berdiri pula kantor akuntan H. Y. Vorens pada tahun 1920 dan Jawatan Akuntan Pajak.

Baru pada 1929, terdapat orang Indonesia pertama yang tercatat bekerja di bidang akuntansi. Dia adalah J. D. Massie, yang bekerja sebagai pemegang buku Jawatan Akuntan Pajak.

Setelah kemerdekaan RI, pemerintah Republik Indonesia memiliki kesempatan untuk mengirimkan anak-anak bangsa untuk belajar akuntansi ke luar negeri. Hal ini mendukung perintisan pendidikan akuntansi di tanah air.

Pendidikan akuntansi di Indonesia mulai dirintis pada tahun 1952 oleh Universitas Indonesia (UI) dengan membuka Program Studi Akuntansi.


Pada tahun yang sama, pemerintah RI juga menerbitkan UU Nomor 34 Tahun 1952 yang mengatur pemberian gelar akuntan.

Lima tahun kemudian, organisasi profesi akuntan di Indonesia bernama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) didirikan pada 23 Desember 1957. Organisasi ini mendirikan seksi akuntan publik pada tahun 1978 dan seksi akuntan pendidik di tahun 1986.

Pemerintah RI juga mengeluarkan UU Penanaman Modal Asing di tahun 1967 dan UU Penanaman Modal Dalam Negeri tahun 1968 yang mendorong berdirinya perusahaan-perusahaan baru. Iklim investasi yang mendorong industri tumbuh turut memacu perkembangan akuntansi di RI.

Sebagaimana dijelaskan di modul Ekonomi terbitan Kemdikbud, ada dualisme praktik akuntansi di Indonesia yang sempat terjadi. Sebagian perusahaan menerapkan sistem akuntansi Belanda, dan banyak lainnya mulai memakai sistem akuntansi Amerika.

Dualisme tersebut sempat berpengaruh di dunia pendidikan, terutama di level menengah. Lantas, dalam sebuah lokakarya bertajuk "Pendidikan Akuntansi di Indonesia" yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Akuntansi Fakultas Ekonomi UI, lahir kesepakatan bahwa sistem pendidikan akuntansi untuk pendidikan menengah dan tinggi di Indonesia menggunakan sistem Amerika.

Baca juga artikel terkait AKUNTANSI atau tulisan menarik lainnya Nika Halida Hashina
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Nika Halida Hashina
Penulis: Nika Halida Hashina
Editor: Addi M Idhom
DarkLight