tirto.id - Mari kita bongkar sebuah miskonsepsi.
Bagi banyak orang di sekitar saya, Pengantar Purifikasi Pikir (PPP) adalah “album gagal”. Ia tidak semonumental Mantra Mantra—yang berhasil mendefinisikan genre bernama “Pop-eksistensial”.
Bagi saya, malah sebaliknya.
Menurut saya, setiap rilisan Kunto Aji adalah kronologi beban psikologis yang runut. Generation Y adalah gerbang awalnya untuk “masuk” ke so-called industri musik. Kalau Anda jeli, album itu sudah menunjukkan bibit-bibit kecanggihan Kunto. Liriknya ringan tapi tidak picisan, tegas tapi tidak kelewat kaku.
Visi itu menemukan muaranya di Mantra Mantra. Ia menjadi sebuah album yang begitu besar; mendefinisikan satu generasi sekaligus mengunci Kunto Aji Wibisono sebagai salah satu singer-songwritertokcer yang kita miliki. Barangkali, untuk pertama kalinya, dunia pop Indonesia membolehkan diri untuk membahas hal-hal kedirian yang sensitif: keresahan yang biasanya cuma nangkring di Twitter, Tumblr; hingga catatan pribadi di sudut ruang yang membusuk karena tangis sang auteur. Hindia & Nadin Amizah berutang banyak kepadanya.
Maka secara simbolik, Kunto Aji sudah tidak perlu meraih apa pun. Namun dia malah menggila, merekam sebuah album mutakhir, sampai-sampai belantika seperti tak siap menerimanya. Judulnya saja sudah canggih: Pengantar Purifikasi Pikir. Dan dalam hemat saya, isinya sama canggihnya dengan judul.
Siapa yang bisa—dan berani—bikin langgam psikologis dalam bentuk Drum and Bass kompleks macam “Asimetris”? “Melepas Pelukan Ibu” adalah sesuatu yang sangat liyan, groove-nya saja sudah begitu tricky; butuh lebih dari skill untuk mengeksekusi lagu macam itu. Bahkan reruang yang dihasilkan trek poppish macam “Rona Merah Langit” atau “Jangan Melamun Saat Hujan” itu ajaib.
Dan di tengah keriuhan aransemen tadi, vokal Kunto Aji tak pernah tenggelam sedikit pun. Tetap teknikal, sesekali akrobatik, namun selalu cut-through-the-mix.
Secara tata bahasa, tak ada yang perlu diragukan dari penulisan Kunto Aji. Saya kenal beliau baru-baru ini— itu pun via jaringan, namun saya bisa menangkap dia adalah penulis yang “hati-hati”. Tak perlu seisi album, kita ambil “Asimetris” saja sebagai contoh:
Dan cinta
Paling tinggi maknanya
Cara melihat dunia
Yang tak pernah sempurna
Jebakan dari lirik dekaratif macam ini adalah terdengar “sok tahu”. Preachy. Ketika ditulis serampangan lagu ini tak lebih dari sekadar masturbasi definisi yang final. Semacam, “Gini lho cinta!” Kunto Aji, dengan ketelitiannya berhasil lolos dari perangkap itu dengan caranya sendiri: membuatnya lucu. Komikal.
Ke-sok-tahu-an tadi ditawar oleh sebuah senggakan, “Aseeeekkk” yang bikin percakapan tadi terasa nge-warkop. Tak berjarak. Bahkan masuknya hitungan dalam bahasa Jawa (“ji… ro… lu… pat”) adalah keputusan artistik yang punya bobot politis. Menurut data salah satu gerai digital, pendengar terbesar Kunto Aji berasal dari Jakarta. Bagi para pendengar non-Jawa, kata-kata medhok macam itu menimbulkan sebuah efek jenaka. Kolonialisme-bahasa ini malah jadi poetic device dari Kunto Aji.
Untungnya, dia adalah orang Jogja, representasi (yang dianggap) sahih dari apa yang kita sebut sebagai “Wonk Jowo”. Maka dia punya tameng untuk melakukan ke-mbeling-an tadi. Sebuah hak prerogatif kultural, semacam tiket N-word dalam lelanggam hip hop. Fellow Javanese macam saya cuma bisa misuh-misuh—dengan senang hati, tentu saja—mengetahui kuda troya sialan macam itu.
Itu baru satu lagu. Belum yang lainnya.
Pendek kata, Pengantar Purifikasi Pikir adalah lompatan intelektual yang jauh dari Mantra Mantra. Saya pun curiga kalau album itu adalah aksi sabotase mandiri. Kunto Aji tak hanya bereksperimen secara musik dan lirik, namun cara rilisnya. Ketika gerai-gerai digital semakin single-oriented dan kembali ke cara-cara lama, ia datang dengan sebuah album penuh super-rumit. Tanpa kompromi, tanpa tedeng aling-aling. Ia menghancurkan ekspektasi massa, membuang formula pop ramah dengar (bahkan album keduanya sendiri), dan membiarkan pendengarnya menelan apa pun yang ia berikan.
Bagi saya, dia kelewat nekat. Tak usah jauh-jauh, kita bandingkan saja dengan Hindia dan Sal Priadi. Secara musik, sekilas mereka ada dalam kolam yang sama. Namun komposisi-komposisi Hindia sebenarnya cukup sederhana—terutama soal vokal. Di sisi lain, lewat “Kita Usahakan Rumah Itu” (yang akhirnya menjadi album MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISK) Sal memutuskan jalur lain: mencabut segala sofistikasi musiknya dan berceloteh dengan kemasan lebih sederhana: acoustic-driven. Ada dua kutub di sini dan Kunto Aji memilih berdiri di luarannya, nyaris tanpa persiapan apa pun sesederhana merilis single untuk mempersiapkan kuping para pendengarnya.
Apa kata yang tepat selain “nekat”?
Album PPP rendah secara angka, tapi secara mutu, dia juara. Skornya jelas jauh dibandingkan puluhan atau ratusan juta streams lelanggam Mantra Mantra, tapi dia adalah tipe album musicians’ musicians– mirip debut Velvet Underground & Nico atau katakanlah Five Leaves Left-nya Nick Drake. Sedikitnya ulasan kritikus akan album ini membuktikan dua hal: 1) kemalasan dan/atau 2) ketidakmampuan artistik para penulis atau media musik kita.
Jadi, kita sudahi saja perbincangan ini dengan sebuah kesimpulan: Kunto Aji sudah tak perlu membuktikan apa pun. Dia punya album yang ramah-dengar, LP monumental, dan rilisan penuh super-teknikal.
Utuh.
Jadi perkaranya bukan soal komparasi atau perbandingan lagi. Tapi lebih esensial, ke mana arah artistiknya setelah ini? Judul album keempatnya telah keluar: Kuda Hitam. Dan kita baru disuguhi satu single: “bERANI”.
Nah, pertanyaannya, “Se-bERANI apa sih Kunto Aji tanpa beban-beban di atas?” []
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id

































