Sebesar Apa Peluang Libra Facebook di Dunia Uang Kripto?

Infografik uang kripto facebook.
Facebook dan Bitcoin. FOTO/iStockphoto
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 25 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Libra disebut dapat menjadi mata uang kripto yang lebih stabil dibandingkan mata uang kripto yang lain. Apa yang membuatnya berbeda?
tirto.id - Pada Selasa (18/6/2019) Facebook mengumumkan bahwa mereka akan membentuk anak usaha Facebook bernama Calibra, yang menyediakan layanan keuangan digital, termasuk mata uang kripto baru bernama Libra.

Produk uang kripto pertama besutan Facebook ini didukung oleh teknologi blockchain. Facebook memperkirakan mata uang kripto Libra dapat meluncur pada 2020 dan tersedia di berbagai aplikasi seperti Messenger, WhatsApp, dan juga di Facebook.

"Aku yakin mengirim uang kepada seseorang seharusnya semudah mengirim foto," ucap CEO Facebook Mark Zuckerberg, seperti dilansir Wired. Ia menambahkan bahwa layanan keuangan ini akan fokus pada sistem yang tidak hanya sederhana namun juga aman.

Jika ambisi Zuckerberg dan Facebook menjadikan Libra sebagai 'pemain besar' uang kripto dalam keuangan digital berhasil, maka wajah WhatsApp, Facebook, dan Instagram jelas akan berubah. Keberhasilan Libra juga akan melengkapi bisnis periklanan Facebook dan bisa menjadi sumber penghasilan utama bagi perusahaan teknologi raksasa itu.

"Kami melihat pengenalan mata uang Libra oleh Facebook sebagai momen penting bagi perusahaan dan juga adopsi global uang kripto," tulis Mark Mahaney, analis di RBC Capital Markets kepada Bloomberg. "Dalam hal skala dan kepentingannya, kami percaya infrastruktur keuangan baru ini dapat menyerupai pengenalan Apple iOS kepada para pengembang lebih dari satu dekade yang lalu."


Faktor Pembeda


Pengumuman Facebook ini muncul di tengah suramnya industri mata uang kripto dalam beberapa tahun terakhir. Dilansir Reuters, Gubernur Bank of England Mark Carney pada 2018 lalu mengatakan bahwa mata uang kripto seperti Bitcoin telah gagal berlaku sebagai sebuah bentuk uang serta telah menunjukkan adanya tanda mengalami gelembung finansial (financial bubble).

Namun demikian, lanjut Carney, teknologi finansial mereka dapat membantu pengembangan sistem finansial di masa depan.

"Jawaban panjangnya adalah mata uang kripto sebagai bentuk uang, paling jauh, hanya dapat digunakan oleh sebagian orang dan sampai batas tertentu, dan itupun hanya sejajar dengan mata uang tradisional para penggunanya," katanya. "Jawaban singkatnya adalah mereka [mata uang kripto] gagal."

Nilai mata uang kripto yang sangat fluktuatif memang seolah menegaskan klaim Carney tersebut. Bitcoin, mata uang kripto yang paling terkenal di dunia, misalnya, nilainya melonjak dari sekitar 1.000 dolar AS pada awal 2017 menjadi hampir 20.000 dolar AS pada pertengahan Desember tahun yang sama, sebelum jatuh di bawah 6.000 dolar AS pada Februari 2018.

Ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab fluktuasi tersebut, dan minimnya regulasi merupakan salah satunya. Libra, sementara itu, digadang-gadang sebagai uang digital yang berbeda dengan mata uang kripto lainnya seperti Bitcoin. Salah satunya, Libra digembar-gemborkan akan lebih stabil dengan tingkat fluktuasi yang tidak terlalu ekstrem.

Harga Libra bisa lebih stabil, seperti dilaporkan Reuters, lantaran uang kripto Facebook ini disokong oleh cadangan aset di dunia nyata, termasuk deposito bank dan surat berharga pemerintah jangka pendek, yang dipegang oleh network of custodian alias jaringan kustodian yang terpercaya.

"Ini dilakukan untuk membantu menanamkan kepercayaan pada mata uang baru dan dapat diadopsi secara luas selama masa pertumbuhannya. Libra seperti uang kertas negara yang bisa diperdagangkan dengan aset nyata seperti pembelian emas," tulis perusahaan dalam buku putih mereka.

Selain itu, tidak seperti Bitcoin yang dibangun pada blockchain publik, blokchain Libra akan dikelola dan dikendalikan oleh lembaga nirlaba bernama Libra Association yang berpusat di Jenewa, Swiss.

Anggota dari asosiasi ini termasuk Mastercard, Visa, Paypal, eBay, Uber, Spotify, dan juga Facebook sendiri. Dengan demikian, dilansir Fortune, para developer yang ingin membangun fitur-fitur pada blockchain Libra, harus mendapat izin dari Facebook dan para mitranya.

Selain itu, keanggotaan tersebut juga menunjukkan bahwa Libra kemungkinan besar akan bisa digunakan sebagai pembayaran pada platform yang dimiliki oleh sejumlah perusahaan anggota itu. Sebagai catatan, untuk menjadi anggota Libra Association, para anggota telah "menanamkan modal" mereka senilai 10 juta dolar AS.

Nilai Libra sendiri rencananya akan dipatok pada nilai rata-rata sejumlah mata uang dunia, termasuk dolar AS, paun Inggris, euro dan franc Swiss.




Lebih Besar dari Bitcoin?


Lembaga analisis dan riset Binance Research dalam laporannya berjudul First Look: Libra menuliskan inisiatif Facebook atas pembentukan Libra ini akan memiliki dampak signifikan terhadap industri keuangan dan ekonomi global dari perspektif jangka menengah dan panjang.

"Jika perusahaan, platform, dan pasar keuangan mengadopsi token Libra sebagai mata uang dasar, dapat memungkinkan Facebook untuk bertindak sebagai pemain kunci dalam industri e-commerce di masa depan, sekaligus mengurangi biaya bagi perusahaan dan individu dalam melakukan transaksi keuangan dan bisnis,” tulis Binance Research.

Masih dari Bloomberg, Kepala Tim Blockchain Facebook David Marcus yang menjadi ujung tombak proyek Libra ini menyebut bahwa jumlah koin digital Libra dapat berubah dan orang dapat menukarkan koin Libra mereka kapan saja dengan mata uang fisik yang berlaku.

Misi Libra, seperti dituliskan dalam buku putih mereka, memang ingin menjangkau 1,7 miliar orang yang belum memiliki akses kepada sistem perbankan tradisional. Uang kripto Facebook ini ingin menjembatani transaksi keuangan digital dengan biaya yang mudah dan juga mudah.

Lantaran peranannya ini, Marcus bilang Libra juga akan diaudit selayaknya kinerja perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Langkah ini, lanjutnya, merupakan langkah penting dalam industri dengan transparansi yang terbatas.

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight