Saham-Saham Asabri Tumbang, Berapa Triliun Uang yang Hilang?

Oleh: Hendra Friana - 11 Januari 2020
Dibaca Normal 1 menit
Tumbangnya nilai investasi Asabri di investasi saham mencuat dan disebut tak kalah gawat dibandingkan Jiwasraya.
tirto.id - Dugaan korupsi di PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri) mencuat di tengah ramainya kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD bahkan menyebut skandal di perusahaan pelat merah itu membawa kerugian hingga triliunan.

"Saya mendengar ada isu korupsi di Asabri yang mungkin itu tidak kalah fantastisnya dengan kasus Jiwasraya, di atas Rp10 triliun," ujar Mahfud di Kemenkopolhukan, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020) lalu.

Asabri adalah perusahaan asuransi jiwa yang memberikan perlindungan finansial untuk kepentingan prajurit TNI, anggota Polri dan PNS Kemhan/Polri. Mereka mengelola tabungan hari tua, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, serta dana pensiun.

Kemenkopolhukam segera memanggil Menteri BUMN dan Menteri Keuangan untuk membahas tersebut. "Tidak lama. Saya akan undang Bu Sri Mulyani (Menkeu), sebagai penyedia dana negara, dan Bapak Erick Thohir sebagai Menteri BUMN," lanjut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut.

Menteri BUMN Erick Thohir sendiri telah bergerak untuk memeriksa kasus yang mulai menjalar di perusahaan asuransi pengelola dana anggota TNI tersebut.

Ia memang mengaku belum tahu seberapa dalam kerugian ASBRI dan menunggu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit mendalam.


Kendati demikan, sejumlah jajaran direksi perusahaan tersebut dipanggil satu per satu ke Medan Merdeka Selatan.

"BPK sudah keluarkan audit untuk Jiwasraya, kalau Asabri belum ada. Saya belum siap bicara soal Asabri karena belum tahu," ujar Erick di Kementeran BUMN.

Berdasarkan catatan Pusat Kajian Kebijakan Publik Pemerintah Indonesia (PUSKAPPI), saham-saham yang menjadi portofolio Asabri tumbang karena mengalami penurunan harga mencapai lebih dari 90 persen sepanjang tahun.

Aset finansial Asabri di instrumen saham kini tersisa Rp30,8 triliun dari sebelumnya Rp52,538 triliun. Nilai saham Asabri yang ditempatkan pada 12 emiten anjlok hingga Rp21,65 triliun.

Jika dilihat dari portofolionya, rata-rata saham yang dibeli Asabri adalah saham-saham dengan kapitalisasi kecil atau biasa disebut small-cap stocks yang memiliki volatilitas harga sangat tinggi.

Beberapa di antaranya adalah PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL), PT Indofarma Tbk (INAF), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Yudha Bhakti (BBYB), PT Bumi Citra Permai Tbk (BCIB), dan PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LGCP).


Ada pula penempatan saham pada PT Hanson International Tbk (MYRX), PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU), PT Island Concepts Indonesia Tbk (ICON), PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK), PT Sigmagold Inti Perkasa Tbk (TMPI) dan PT Sugih Energy Tbk (SUGI).

Meski demikian, pada November 2019, Asabri sempat mengklaim bahwa kinerja perusahaannya masih berjalan normal dan optimistis dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Dilansir dari Harian Kontan Sekretaris Perusahaan Asabri kala itu, Djoko Rachmadi menyatakan, target investasi mereka masih dapat tumbuh 1 digit di tahun ini.

Untuk mencapai target tersebut, perusaahan akan lebih konservatif dalam memilih instrumen investasi, terutama pada instrumen high quality.

Sebanyak 30 persen Komposisi portofolio investasi mereka, kata Djoko, akan ditempatkan pada instrumen surat berharga negara (SBN).


Baca juga artikel terkait PT ASABRI atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight