Menuju konten utama

Saat Wali Asrama Sekolah Rakyat Mendidik dengan Kasih dan Peduli

Seorang wali asrama Sekolah Rakyat di Aceh mengisahkan pengalamannya mendidik anak-anak dengan beragam masalah dan kisah hidup. 

Saat Wali Asrama Sekolah Rakyat Mendidik dengan Kasih dan Peduli
Kebersamaan Wali Asrama Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 1 Aceh Besar dengan beberapa siswinya. FOTO/dok.Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lina Maulidina Marza baru empat bulan berperan sebagai wali asrama putri Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 1 Aceh Besar. Meski belum lama, masa kerja yang singkat sudah memberikan banyak cerita dan pengalaman.

Mendampingi anak-anak dengan beragam karakter dan latar belakang tentu bukan urusan gampang. Namun, sosok yang sering disapa Bunda Lina itu justru menemukan makna mendidik yang sesungguhnya.

Berpengalaman sebagai Pendamping Rehabilitasi Sosial, ia sebenarnya hanya terbiasa mendampingi anak dalam hitungan jam. Kini, ia harus mengerahkan mayoritas waktunya untuk mengasuh 65 remaja putri dengan kisah hidup yang tidak jarang berliku.

Bunda Lina selalu siap menerima keluh kesah para siswa putri. Malam hari pun tak segan ia duduk di tepi ranjang, mendengarkan seorang siswi yang datang dengan mata sembab. Bagi dia, saat itulah jam kerja sebenarnya berjalan.

Menjadi wali asrama Sekolah Rakyat mengajarkan padanya bahwa ungkapan cinta tidak perlu muluk-muluk. Kadang cukup dengan duduk di tepi ranjang, mendengarkan cerita anak-anak, lalu memeluk mereka.

Tindakan yang terkesan biasa itu sudah bisa menyalakan harapan anak-anak sekaligus menumbuhkan semangat pada dirinya sendiri.

"Awalnya kami meraba, bingung sekali. Tugas wali asrama itu apa, bagaimana harus memulai," kenangnya.

Pelan-pelan keraguan tadi memudar, seiring makin banyak anak-anak yang berinteraksi erat dengannya. Bunda Lina mengenal betul wajah-wajah mereka, mengingat fragmen cerita yang mereka bawa. Di sanalah tekadnya tumbuh.

"Mengetahui latar belakang anak-anak itulah yang sebenarnya menjadi penyemangat," kata dia.

Pernah suatu kali seorang anak berkata lirih, "Bunda boleh tidak [jadi] ganti ibu saya?" Ternyata orang tuanya sudah bercerai. Momen itu terus membekas di ingatannya.

Di tengah gempuran curahan hati anak-anak, Bunda Lina bersyukur ditugaskan di SRMA 1 Aceh Besar. Dia merasa bahagia bisa membimbing mereka dengan baik meski anak-anak asuhnya punya beragam permasalahan.

"Bila anak-anak ini tidak mendapat kasih sayang, bagaimana ke depan ketika dia menjadi ibu dan ayah. Itulah yang kami ajarkan, supaya menjadi lebih baik ke depannya," ujar dia.

Bunda Lina juga punya cara unik untuk menghidupkan suasana keakraban di asrama putri SRMA 1 Aceh Besar. Guna merekatkan hubungan antaranak, sang wali asrama membuat kegiatan yang disebut amplop kebahagiaan.

Setiap anak diminta mengisi amplop dengan tulisan berisi apresiasi untuk temannya. Ketika amplop dibuka dan isinya dibacakan, banyak anak menangis karena baru menyadari bahwa orang lain melihat sisi baik dalam diri mereka.

"Mereka terharu karena baru tahu temannya melihat sisi baik mereka. Validasi kecil begitu sangat berarti," kata Bunda Lina.

Mendidik dengan Kasih Sayang

Peran wali asrama tak sekadar menangani urusan fasilitas. Ada tugas membentuk karakter, menanamkan kedisiplinan, hingga menyediakan ruang aman untuk anak-anak yang datang dengan beban masa lalu.

Untuk menjalankan tugas barunya, Bunda Lina bahkan harus mengubah ritme hidup sehari-hari. Jadwal piket membuat dia harus menjalani kehidupan keluarga yang berbeda dari orang kebanyakan.

Dua hari menginap di asrama, satu hari penuh bekerja, kemudian satu hari berjaga sampai pagi. Waktu liburnya sering terisi dengan mengurusi anak-anak yang butuh perhatian.

"Walaupun memang banyak hal berubah. Kadang dua hari tidak bertemu suami. Tapi beliau mendukung, karena tahu saya senang dengan anak," kata Bunda Lina.

Dia juga belajar memahami dinamika tugas pendampingan yang menuntut kekompakan seluruh anggota tim. "Ketika itu tidak dilakukan bersama oleh orang dewasa, yang mau kita bilang pembentukan karakter tidak jalan," jelas Bunda Lina.

Sekalipun tugasnya tidak ringan, Bunda Lina bisa menemukan semangat begitu melihat perkembangan positif anak-anak asuhnya.

Dia melihat perubahan jelas pada banyak anak. Mereka yang dulu menunduk kini menyapa dengan salam. Anak yang dulu sinis belajar tersenyum dan memeluk.

Bunda Lina mengingat ada satu anak yang dulu amat sulit didekati. Wajah datar, nada suara dingin, enggan menyapa.

Semua berubah setelah ia memuji kerapian kamar anak tersebut. Baju dan tempat tidur rapi dan kamar terlihat bersih.

"Besoknya dia mulai menyapa. Hari ini sudah memeluk," tuturnya sembari tersenyum.

Ternyata latar belakang anak itu dari keluarga dengan orang tua yang tidak punya banyak waktu untuk buah hatinya, bahkan sekadar memberikan apresiasi.

Pernah pula ada satu murid laki-laki ketahuan merokok. Pelanggaran itu bisa membuatnya dikeluarkan. Namun, sekolah memilih memberi kesempatan.

"Diberikanlah gitar dan mengganti [keinginan merokok] dengan permen. Rasa percaya dirinya muncul dan rokok ditinggalkan," kata Bunda Lina.

Anak-anak Ingin Didengar dan Dihargai

Menampung keluh-kesah anak-anak menjadi cerita harian bagi Bunda Lina.

Malam saat ia piket sering diisi dengan antrean anak yang hanya ingin menangis, didengar, dan divalidasi perasaannya. Hal sederhana yang jarang mereka dapat di rumah.

“Yang mereka butuhkan itu sederhana. Dipeluk, didengar, dihargai. Mereka ingin merasa aman dan diakui,” ujarnya.

Dari banyak percakapan, Bunda Lina melihat benang merah yang sama. Hampir semua anak mengalami kekosongan kasih sayang.

“Kalau saya tanya, di rumah dipeluk seperti ini atau tidak? Mereka jawab ingin, tapi tidak pernah,” katanya.

Sebagian anak tumbuh dalam keluarga berkonflik, sebagian kehilangan ibu, sebagian lagi dibesarkan oleh orang tua yang kelewat sibuk bekerja.

Maka, bagi Bunda Lina, sekolah rakyat harus menjadi ruang pemulihan sekaligus tempat membentuk kebiasaan baik dan rasa aman bagi anak.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis