Saat Grup Modern Menyerah Mengelola 7-Eleven

Infografik Sevel Tutup
Ilustrasi. Konsumen sedang mengantri untuk membayar belanjaan mereka dikasir Gerai Seven Eleven, Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 25 April 2017
Dibaca Normal 3 menit
7-Eleven di bawah kendali Grup Modern awalnya begitu meyakinkan dengan ekspansi bisnis yang begitu masif. Namun belum sampai satu dekade, bisnis 7-Eleven mulai rontok, satu per satu gerai-gerai mereka berguguran. Bendera putih pun akhirnya dikibarkan.
tirto.id - Henri Honoris hampir putus asa, dua tahun lamanya usahanya tak membuahkan hasil. Email-email yang berisi proposal pengajuan lisensi yang dikirimnya berkali-kali tak mendapat jawaban dari pemegang lisensi 7-Eleven.

Henri salah satu putra mahkota Grup Modern sedang berupaya memboyong lisensi 7-Eleven ke Indonesia. Ketika itu, Grup Modern sedang mencoba peruntungan baru setelah bisnis cetak film mulai terjun bebas, tergerus kecanggihan ponsel. Perusahaan yang didirikan pada 12 Mei 1971 dengan nama PT Modern Photo Film Company itu kena dampak perubahan zaman seiring dengan pudarnya bisnis fotografi, termasuk Fujifilm.

Peluang bisnis baru seperti 7-Eleven tentu akan menjadi salah satu harapan bagi bisnis mereka selain bisnis properti. Sampai suatu saat, momen yang ditunggu-tunggu itu pun tiba, sang prinsipal 7-Eleven menjawab email dari Henri, panggilan wawancara pun datang. Namun mendapat panggilan bukan berarti masalah sudah beres, butuh beberapa bulan bagi Henri untuk mendapatkan lampu hijau dari prinsipal untuk membuka gerai 7-Eleven di Indonesia.

Hingga akhirnya pada 2008, Modern mendapatkan lisensi master franchise 7-Eleven, untuk mendirikan convenience store di Indonesia hingga gerai pertama berdiri di Bulungan Jaksel setahun setelahnya. 7-Eleven sempat menikmati kejayaannya di kota besar di Indonesia. Gerai-gerai baru nan modern, sempat menjadi tempat nongkrong favorit anak muda.

Awalnya, konsep ini sempat menuai pro dan kontra, tampilan fisik dan barang yang dijual 7-Eleven melekat sebagai sebuah ritel minimarket, di sisi lain izin yang dikantonginya sebagai restoran. Sehingga mereka pelan-pelan mulai konsisten dengan menyediakan kursi dan meja termasuk ragam makanan siap saji.

Konsep 7-Eleven di Indonesia yang menyediakan tempat duduk dan meja dengan harga barang yang sedikit lebih mahal memang berbeda jauh dengan negara lainnya. Di Australia, 7-Eleven hanya sekadar minimarket pada umumnya, tetapi harganya sama saja, tidak lebih mahal. Di Malaysia, beberapa gerai 7-Eleven mulai menerapkan konsep yang sama dengan Indonesia, tetapi kursi dan meja yang disediakan tak sebanyak gerai-gerai di Jakarta.

Setiap tahun, ada sekitar 30 sampai 60 gerai 7-Eleven baru dibuka di Jakarta. Ini membuat jumlah gerai 7-Eleven terus bertambah. Tahun 2011, hanya ada 50-an gerai 7-Eleven. Tahun 2012, jumlahnya bertambah hampir dua kali lipat.

Sampai tahun 2014, jumlah gerai 7-Eleven di Jakarta mencapai 190. Di tahun itu juga, sebanyak 40 gerai baru 7-Eleven dibuka. Penjualan bersih pun naik 24,5 persen menjadi Rp971,7 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp778,3 miliar. Tahun itu bisa disebut sebagai puncak kejayaan 7-Eleven.

Tahun berikutnya, penjualan 7-Eleven menurun, pun begitu dengan jumlah gerainya. Tahun 2015 itu, total penjualan bersih 7-Eleven turun menjadi Rp886,84 miliar. Untuk pertama kalinya 7-Eleven melakukan penutupan gerai. Tahun itu, ada 20 gerai yang ditutup. Sementara gerai baru hanya dibuka 18, angka terkecil penambahan gerai sejak 2011.

Henri Honoris sebagai nakhoda yang menjabat sebagai Presdir PT Modern Sevel Indonesia, pengelola 7-Eleven Indonesia tak tinggal diam, ia mencoba berkreasi dengan mengembangkan gerai yang tak hanya mengandalkan penjualan barang tapi juga jasa. Ia mengembangkan konsep kios digital di gerai-gerai 7-Eleven yang melayani pembelian pulsa, tiket konser hingga tiket perjalananan.

"Kami percaya dengan bertambahnya kebutuhan masyarakat akan layanan-layanan transaksi digital semacam itu, karena masyarakat Indonesia kian aktif di dunia digital dan mengutamakan kepraktisan serta harga yang terjangkau," kata Henri dikutip dari Antara, Juni 2015.

Apa yang dilakukan oleh Henri sejatinya sejalan dengan perkembangan zaman, saat dunia digital makin berkembang tentu peluang sangat besar. Sayangnya layanan-layanan jasa semacam ini, sudah dikembangkan masif, bahkan lebih lengkap oleh minimarket konvensional seperti jaringan Alfarmart dan Indomart yang tersebar luas di berbagai pelosok wilayah Jakarta.

Hingga sampai akhirnya pada 2016, tanda-tanda kemerosotan 7-Eleven makin nyata. Mereka hanya berencana menambah 11 gerai baru. Ini adalah tambahan gerai baru paling sedikit sepanjang sejarah 7-Eleven selama kiprahnya di Jakarta.



Kejayaan 7-Eleven tidak berjalan lama. Pengunjungnya terus berkurang, seiring persaingan yang semakin tajam seperti kehadiran dari Lawson dari Grup Alfamart yang juga berkonsep convenience store. Ditambah adanya aturan yang memperketat penjualan minuman beralkohol yang sedikit banyak menggerus pendapatan 7-Eleven Indonesia.

Mulai 16 April 2015, minimarket dilarang menjual minuman beralkohol. Larangan itu tertuang dalam Peraturan menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol.

Sejak pelarangan itu, gerai-gerai 7-Eleven dan sejenisnya tak bisa lagi menjual bir. Bir dan minuman beralkohol lainnya hanya boleh dijual di supermarket. Aturan ini dibuat untuk menghindari konsumsi alkohol oleh anak-anak dan remaja.
Kerugian Modern terus meningkat. Pada semester I-2016 mencatat kerugian hingga Rp52,429 miliar, dibandingkan keuntungan sebesar Rp15,119 miliar yang dicetak pada semester I-2015. Imbasnya kepada tunggakan pajak oleh 7-Eleven.

Pada 19 April 2017, Modern akhirnya menyerah mengelola 7-Eleven. Mereka menjualnya kepada PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk (CPIN), perusahaan yang bergerak di bidang pakan ternak, peternakan unggas, makanan olahan dan bidang usaha lainnya itu.

PT Charoen Pokphan Restu Indonesia (CPRI) yang merupakan perusahaan terkendali dari CPIN menandatangani Business Acquisition Agreement dengan PT Modern Sevel Indonesia, perusahaan terkendali dari PT Modern International Tbk (MI).

“CPRI sepakat mengambil alih kegiatan usaha MSI di bidang rumah makan dan toko moderen (convenience store) beserta aset-aset terkait berdasarkan sistem waralaba.,” jelas Presiden Direktur CPIN, Tjiu Thomas Effendy, dalam surat keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia.

Transaksi ini diharapkan tuntas sebelum 30 Juni 2017, setelah memenuhi sejumlah persyaratan.
CPIN sendiri sedang mengalami masa kejayaannya. Pada tahun 2016, CPIN berhasil mencetak laba hingga Rp2,225 triliun, meningkat dibandingkan laba tahun 2015 sebesar Rp1,832 triliun.

7-Eleven juga bukan barang baru bagi CPIN. Charoen Pokphan (CP) All Plc, yang merupakan induk usaha, sebelumnya telah mengelola 7-Eleven di Thailand. Di Negeri Gajah Putih itu, CP membuat gerai 7-Eleven sebagai gerai untuk seluruh produk dan jasa secara inklusif, terutama untuk produk konsumer dan makanan. Kita tunggu kiprah “singa biru” apakah bisa melanjutkan gurita gerai 7-Eleven.

Baca juga artikel terkait 7-ELEVEN atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Nurul Qomariyah Pramisti
Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Suhendra
DarkLight