31 Agustus 1969

Rocky Marciano: Petinju Legendaris yang Pensiun Tanpa Pernah Kalah

Ilustrasi Mozaik Rocky Marciano. tirto.id/Nauval
Oleh: Tyson Tirta - 31 Agustus 2020
Dibaca Normal 6 menit
Meski kariernya singkat, rekor tak terkalahkan Rocky Marciano belum terpecahkan sampai sekarang. Sempat dituduh dekat dengan mafia Italia.
Dunia olahraga di Amerika berkembang pesat pada periode antara dua Perang Dunia. Cabang-cabang populer seperti softball, football, bola basket, binaraga, dan tinju mulai dijalankan dengan lebih profesional. Seiring dengan makin banyaknya investor menanam modalnya dalam olahraga, beberapa aspek penting seperti regulasi, manajemen, hingga kompetisi dijalankan dengan lebih rapi dan ketat.

Khusus olahraga tinju, banyak atlet hebat lahir di era ini. Kita kenal di antaranya Jack Dempsey, Joe Louis, Archie Moore, Jersey Joe Walcott, atau Roland La Starza. Seorang lagi yang tak boleh dilupakan adalah sang legenda Rocky Marciano.

Nama-nama besar itu adalah representasi dari persaingan antarkelompok dan simbol perjuangan untuk melepaskan diri dari keadaan semrawut dunia di masa perang. Joe Louis, misalnya, sempat menghajar Max Schmeling yang merupakan petinju kebanggaan NAZI Jerman. Louis juga pernah dua kali bertarung sengit dengan petinju kebanggan Chile Arturo Godoy.

Sementara itu, petinju Ezzard Charles jadi kebanggaan kaum kulit hitam karena juara dunia kelas berat. Dia pun dikenal memiliki serangan presisi dan lihai bertahan. Para pengamat tinju bahkan menyebutnya sebagi salah satu petarung terkuat sepanjang masa.

Rocky Marciano punya posisi istimewa di antara para petinju pilih tanding itu. Pasalnya, sampai hari ini, belum ada yang bisa memecahkan rekor yang dibuatnya. Dia berhasil mencatatkan 49 kemenangan di arena tinju kelas berat profesional tanpa pernah kalah atau seri sekalipun.

Sayang sekali karier Marciano terbilang singkat. Pada 1955, saat usianya baru menginjak 32 tahun, Marciano memutuskan pensiun tanpa alasan yang jelas. Meski begitu, namanya harum sebagai legenda. Para pemerhati tinju dunia melalui NBC Sports menempatkannya di urutan ketiga petinju terbaik sepanjang masa—hanya kalah dari Sugar Ray Robinson dan Muhammad Ali.

Lalu, bagaimana kiprah singkat Marciano itu bisa membuat seorang Muhammad Ali menganggapnya sebagai idola?



Awal Karier yang Gemilang


Rocky Marciano lahir dengan nama asli Rocco Francis Marchegiano pada 1 September 1923. Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga imigran Italia di kota Brockton, Massachusetts, Amerika Serikat. Kota kecil ini belakangan mendapat sebutan city of champions karena kesuksesan dua petinjunya, Marvin Hagler dan tentu saja Marciano. Hagler adalah juara tinju kelas menengah pada kurun 1980-an, sementara Marciano di kelas berat pada dekade 1950-an.

Orang-orang yang mengenal Marciano kecil di Brockton hampir pasti tak ada yang menyangka dia bakal jadi kampiun di arena tinju kelas berat. Pasalnya, saat usianya baru 18 bulan, Marciano pernah hampir meninggal gara-gara pneumonia. Sadar pada kelemahan fisik ini, Marciano mengisi masa remajanya dengan menjajal berbagai cabang olahraga yang banyak mengandalkan kekuatan fisik. Dia bahkan sempat serius berlatih binaraga di bawah pelatih kenamaan Charles Atlas sambil bekerja serabutan.

Setelah sempat masuk militer selama dua tahun, Marciano lalu serius menekuni tinju profesional pada 1947. Prestasinya melesat dalam lima tahun pertamanya. Dia melakoni 16 pertandingan pertamanya dengan kemenangan KO secara beruntun. Dia pun tak terkalahkan dalam 26 pertarungan selanjutnya.

Jika kini regulasi hanya mengizinkan seorang petinju naik ring dua atau tiga kali dalam setahun karena pertimbangan medis, tidak demikian halnya di masa awal Marciano berkarier. Karenanya, Marciano bisa naik ring dalam frekuensi yang intens dalam setahun. Pada 1949, misalnya, dia menjalani 13 pertandingan. Lalu, pada 1950, dia enam kali naik ring dan tujuh kali pada 1951.

Kesempatan Marciano merebut gelar juara dunia kelas berat terbuka pada 1952. Lawannya adalah Jersey Joe Walcott, juara dunia saat itu yang punya rekor 51 kali menang, 16 kali kalah, dan dua kali seri. Di atas kertas, para pandit mengunggulkan Marciano 8:5 dibanding Walcott.

Gara-gara itu, Walcott geram dan melancarkan perang urat saraf di luar ring. Dalam satu kesempatan dia mengejek Marciano sebagai “inexperienced and unschooled brawler”.

"Tulis ini!", kata Walcott dengan jemawa kepada para jurnalis. “Rocky Marciano enggak bisa bertinju. Jika aku kalah, cabut namaku dari buku-buku tentang tinju!"



Merebut Titel Juara Dunia


Duel perebutan gelar juara tinju kelas berat antara Marciano dan Walcott akhirnya digelar di Municipal Stadium, Philadelphia, pada 23 September 1952.

Saat itu, Marciano berumur 29 tahun dan Walcott 38 tahun. Duet promotor Jim Norris dan Herman Taylor memasang target 50.000 penonton dan pendapatan dari tiket senilai $550.000 hingga $600.000—yang akan dibagi 40 persen untuk Walcott dan 20 persen untuk Marciano sebagai penantang.

Marciano dan Walcott saling jual-beli pukulan sejak lonceng ronde pertama berbunyi. Meski Walcott berkali-kali melayangkan pukulan keras yang cenderung brutal, Marciano hampir tak pernah bergerak mundur. Beberapa kali mereka saling rangkul dan harus dipisahkan wasit Charley Daggert.

Dalam satu momen Walcott berhasil menyarangkan satu pukulan telak yang membuat Marciano terhuyung. Dia lalu tersungkur dihantam hook kiri Walcott yang tepat mendarat di wajahnya. Rocky Marciano jatuh di ring untuk pertama kali dalam karier profesionalnya.

Penonton sontak bergemuruh. Wasit mengarahkan Walcott ke sudut netral dan mulai menghitung. Tak sampai hitungan kelima, Marciano kembali berdiri dan baku hantam dimulai lagi. Hingga ronde pertama usai, Marciano jadi lebih sering menurunkan kepalanya untuk menyulitkan Walcott memukul lurus.

Memasuki ronde kedua, bogem Walcott seperti tak berbekas pada Marciano. “Marciano tak tampak seperti habis dipukul sampai jatuh, kuat sekali,” sahut komentator.

Meski tampak lebih berhati-hati, duel di ronde ketiga justru semakin sengit. Baik Walcott maupun Marciano sama sekali tak mengandalkan kecepatan tangan. Mereka lebih banyak mengadu kekuatan dengan saling menerima dan melepas pukulan.

Marciano mulai menemukan irama dan menggerus dominasi Walcott di ronde keempat. Dia menunjukkan determinasi dan staminanya yang di atas rata-rata dengan terus mendesak maju. Walcott yang mulai kelelahan terpaksa melangkah mundur. Marciano pun beberapa kali sukses menyudutkan Walcott.

Charley Goldman, pelatih Marciano, mulai khawatir ketika pertandingan memasuki ronde ketujuh. Dari sudut ring dia mengamati Marciano yang penglihatannya mulai kabur gara-gara kucuran darah dari wajahnya yang luka. Padahal, sebelum pertandingan Goldman sesumbar kepada wartawan Rome-News Tribune bahwa jagoannya akan mengalahkan Walcott di antara ronde keenam hingga kedelapan.

Keadaan ini tak disia-siakan Walcott. Dia habis-habisan memberondong wajah Marciano dengan pukulan. Meski begitu, Marciano tetap menjaga iramanya.

Di titik itu, Marciano paham betul sudah ketinggalan banyak poin. Papan skor di tangan ketiga juri jelas mencatat keunggulan poin Walcott. Maka, hanya tersisa satu jalan baginya untuk merebut titel juara dunia: kemenangan KO.

Kesempatan bagi Marciano terbuka di ronde ke-13. Saat ronde sudah setengah jalan, dalam satu momen, Marciano menghantamkan hook kanan dari jarak dekat secara mendadak. Walcott yang kelelahan tak kuasa menahannya dan jatuh tak berdaya. Wasit mulai menghitung dan sampai hitungan kesepuluh Walcott tak sanggup bangkit lagi.

Duel dinyatakan berakhir dan Rocky Marciano didaulat jadi juara dunia tinju kelas berat versi National Boxing Association—sekarang ganti nama jadi World Boxing Association. Majalah The Ring menjadikan ronde ke-13 yang dramatis itu sebagai Round of the Year, sementara keseluruhan duel itu disebutnya Fight of the Year. Pertandingan ini juga dikenang sebagai salah satu duel paling legendaris dalam sejarah tinju dunia.




Kontroversi


Delapan bulan kemudian, Marciano dan Walcott kembali naik ring untuk tanding ulang yang merupakan kewajiban bagi juara baru. Kali ini Chicago Stadium jadi arenanya.

Marciano lagi-lagi difavoritkan menang dengan angka 15:6—lebih tinggi dari sebelumnya. Pun demikian, 34 dari 36 jurnalis olahraga menebak Marciano akan menang lagi. Meski begitu, pertandingan itu hanya mampu menyebot 13.000 penonton dan hampir semuanya kecewa.

Bagaimana tidak, Walcott sudah roboh saat ronde pertama baru berjalan 2 menit lebih 25 detik. Wasit Frank Sikora lantas mendaulat Marciano menang KO atas Walcott. Demi melihat hal itu, Felix Bocchicchio—manajer Walcott—ngomel kepada para juri di sisi ring karena wasit dianggapnya melakukan kesalahan.

kekisruhan rupanya tak berhenti begitu saja usai pertandingan. Surat kabar The Times-Picayune mengulas pertandingan dalam artikel sepanjang enam kolom. Artekel itu dilambari foto dengan keterangan, “Ancient Warrior Down.” Penulis artikel itu menganggap hook kiri Marciano sebenarnya tidak cukup keras, meski cukup membuat petinju veteran seperti Walcott sempoyongan.

Belakangan, Walcott membuat tiga pernyataan terkait kekalahannya itu. Pertama, wasit menghitung terlalu cepat. Kedua, saat hitungan wasit baru tiga, dia sudah berdiri dengan satu lutut—klaim yang kemudian tak terbukti. Ketiga, dia tak menyadari sudah sampai angka berapa wasit menghitung.

Jurnalis sekaligus sejarawan olahraga Herbert “Bert” Randolph Sugar lalu menyanggah pernyataan Walcott itu. Dia justru menduga Walcott sengaja cari cara untuk turun secepat mungkin, mengambil honornya, dan pulang. Bagi Bert Sugar, Walcott tak ingin mengambil risiko kalah lagi.

Pendapat serupa juga dilontarkan pelatih tinju legendari Angelo Dundee. Menurutnya, Walcott tampak tidak terlalu kesakitan oleh pukulan Marciano. Sejak awal, dia memang sudah trauma oleh kekalahan di laga sebelumnya. Bagi pelatih Mohammad Ali itu, trauma kekalahan memang sulit disembuhkan.

Setelah itu, beredar isu liar adanya tangan-tangan mafia Italia dibalik kemenangan Marciano. Di masa itu, mafia yang bermain-main di dunia olahraga memang sudah jadi rahasia umum di kalangan jurnalis. Terlebih, Marciano berasal dari keluarga imigran Italia dan Al Weill, managernya, terbukti dekat dengan Frank Carbo—salah satu anggota keluarga Lucchese yang merupakan salah satu dari lima keluarga mafia yang beroperasi di New York.

Seorang penyanyi tenor Amerika yang juga keturunan Italia Mario Lanza bercerita kepada para agen Federal Bureau of Narcotics tentang pengakuan Marciano pada 1956. Lanza menyebut Marciano mengaku kesal karena harus menyetor 50 persen penghasilannya dari tinju kepada sebuah sindikat kriminal melalui Al Weill.

Belakangan, Marty Weill—anak angkat Al Weill—membantah cerita ini karena sejak 1949 hingga 1952 Marciano justru dapat jaminan akan menerima bayaran sebesar dua pertiga dari honor gelaran tinju yang dia jalani.

Russell Sullivan dalam buku Rocky Marciano: The Rock of His Times menceritakan kiprah Al dan Marty Weill. Semula Al Weill bekerja sebagai pembina beberapa petinju sekaligus jadi organisator pertandingan. Ketika The New York State Athletic Commission menerbitkan larangan bagi seorang manajer tinju merangkap organisator pertandingan, Al Weill mengakalinya agar tetap bisa bekerjasama dengan Marciano.

Al Weill melepas semua petinju binaannya kecuali Marciano. Dia lantas menyodorkan sebuah kontrak baru kepada Marciano. Tapi, Marciano mengaku tak pernah benar-benar membaca apa yang ditulis dalam kontrak ini.

Terlepas dari segala kontroversi itu, cerita sukses Marciano terus berlanjut. Tak tanggung-tanggung dia berhasil mempertahankan gelarnya meski lawannya adalah petinju kuat macam Roland La Starza, Ezzard Charles (2 kali), Don Cockell.

Pada 21 September 1955, Marciano bertanding melawan petinju legendaris Archie Moore. Saat ronde kesembilan baru berjalan 1 menit lebih 19 detik, Marciano berhasil menjatuhkan Moore. Usai bertanding, keduanya mengaku gembira karena telah menampilkan duel yang baik. Tak ada low blow atau kecurangan minor lain mewarnai pertandingan ini. Mereka bertindak sangat profesional dan saling menghargai.

Pertandingan itu rupanya adalah penampilan terakhir Rocky Marciano di pentas tinju profesional. Beberapa waktu kemudian dia memutuskan pensiun. Pada 1959, dia dikabarkan akan comeback melawan petinju Swedia Ingemar Johansson. Tapi, dia membatalkan rencana itu karena kurangnya motivasi.

Di masa pensiunnya, Marciano menjadi pemandu acara tinju mingguan dan sesekali juga bermain peran dalam program televisi.

Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga nasib buruk mengampirinya pada 31 Agustus 1969—tepat hari ini 51 tahun silam. Kala itu, Marciano bersama seorang teman dekatnya Frankie Farrell bertolak dari Chicago menuju Iowa untuk menghadiri peresmian bisnis asuransi milik Farrell. Naasnya, dia tak pernah sampai di Iowa karena pesawat Cessna 172-H yang ditumpanginya jatuh di dekat bandara Newton. Semua penumpangnya, termasuk Marciano, tewas.


==========

Tyson Tirta adalah alumnus Program Studi Ilmu Sejarah UI dan master bidang sejarah dari Kingston University, London. Menulis tesis tentang masa kekuasaan Inggris di Jawa.

Baca juga artikel terkait ROCKY MARCIANO atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight