Menuju konten utama

Little Home: Petinju, Pelatih, Bapak

Tinju adalah hidup Little Home. Ia pernah menjadi juara dan telah menciptakan sejumlah juara. Tinju, baginya, meliputi dan melampaui urusan di dalam ring.

Little Home: Petinju, Pelatih, Bapak
Sasana petinju KPJ (Komunitas Penyanyi Jalanan) Bulungan Jakarta Selatan menampung anak-anak jalanan untuk menjadi petinju profesional. [TIRTO/Andrey Gromico]

tirto.id - “Latihan, Mas?”

“Saya mau ketemu Pak Hom. Liputan.”

“Dulu bukannya sudah pernah datang, ya?”

Kami berdiri di atas panggung setinggi satu meter lebih dengan luas sekitar enam kali empat meter. Saya bersandar pada tiang di sisi kanan panggung sementara lawan bicara saya, seorang laki-laki berkaus lecap, wira-wiri seperti mandor kebun karet. Rambutnya tipis dan agak surut ke belakang. Sesekali dia menekuk lengannya yang penuh keringat atau mengadu sepasang bogemnya yang terbungkus sarung tinju. Bicaranya putus-putus tersela napas.

“Satu menit!” teriak seorang pemuda dari tepi seberang.

Waktu istirahat berakhir. Pria lain muncul dari balik panggung. Ia mengenakan punching mitts atau sarung tangan peredam pukulan. Berkebalikan dari Mike, orang yang sedang dilatihnya, pria itu kecil, tua, dan berkulit gelap. Dialah Pak Hom atau Misyanto, pengelola sekaligus pelatih di sasana tinju Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Bulungan sejak 15 tahun lalu.

Dugaan Mike bahwa saya pernah berkunjung tidaklah mengherankan. Pak Hom kerap didatangi wartawan, baik dari media cetak, daring, maupun televisi, dan beberapa di antara mereka mungkin datang sewaktu ia berlatih. Penampilan dan gerak-gerik reporter tentu begitu-begitu saja.

Selain atlet, Pak Hom melatih banyak peminat tinju kasual seperti Mike. Ia menyebut mereka member. “Ada pekerja kantoran, mahasiswa, dan lain-lain. Mereka keluar keringat, senang. Kita juga senang,” ujar Pak Hom setelah Mike berlalu.

“Kalau saya, yang utama bukan uang,” kata Pak Hom, menjawab pertanyaan saya tentang tarif latihan. “Buat apa orang bayar untuk berlatih sebulan, misalnya, tapi cuma datang satu atau dua kali? Saya lebih suka orang bayar per latihan saja. Nggak ada yang rugi. Tapi, ya, nggak semua gym begitu.”

Terdengar bunyi sarung tinju yang menghantam badan, berkali-kali dan nyaris berirama, dari belakang kami. Pak Hom menoleh, tertawa, dan berpesan kepada dua orang pemuda yang saling jotos itu supaya jangan terlalu serius. Salah seorang pemuda ikut tertawa, sedangkan teman berlatihnya memasang tampang kesakitan dan mengadu kepada sang pelatih: “Serius dia, Pak. Sakit ini.”

Member, Pak?” tanya saya.

“Yang itu petinju,” kata Pak Hom sambil menunjuk pemuda yang tertawa.

Saya melihat orang yang dimaksud Pak Hom. Di punggungnya ada tato sayap malaikat.

Dulu, kata Pak Hom, sasana KPJ menampung puluhan petinju, tapi sekarang hanya ada 14 orang, 8 profesional dan 6 amatir, dan sebagian di antara mereka membantu Pak Hom melatih. “Tapi saya tetap bersyukur,” katanya. “Banyak sasana yang tutup karena kehabisan petinju.” Ia menyebutkan beberapa contoh, antara lain Garuda Jaya (aktif sejak 1970an) yang tutup pada 2004 dan Benteng Asmi pada 2007. Pada 2010, Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) DKI Jakarta, Harianto Badjoeri, menyatakan bahwa dari 100 sasana tinju di Jakarta, tinggal 38 saja yang aktif.

Jauh sebelum melatih, Pak Hom memulai kariernya sebagai petinju amatir. Nama ringnya, Little Home (ia bilang, suatu kali Jawa Pos keliru menyebutnya Little Holmes dan malah nama itu yang menempel sampai sekarang), ia peroleh dalam periode tersebut, tak lama setelah memenangkan kejuaraan tingkat provinsi di Jawa Timur.

Dalam debut profesionalnya, 30 Juli 1985 di Timor Leste, Pak Hom menang angka atas Azadin Anhar. Dua pertandingan setelahnya, melawan petinju berpengalaman Somboonyod Singsamang dan mantan juara dunia IBF kelas terbang super Ju-Do Chun, juga ia menangkan dengan gemilang.

Tiga tahun kemudian Pak Hom meraih juara nasional kelas bulu yunior. Pada 1989, setelah berturut-turut mengungguli Hilbert Aragon, Joe Hiyas, dan Wongso Indrajit, Pak Hom mendapat kesempatan istimewa, yaitu perebutan sabuk internasional WBC melawan Paquito Openo dari Filipina. Gelar itu adalah batu pijakan penting. Sejumlah petinju terbaik, termasuk Naseem “Prince” Hamed dan Manny “Pacman” Pacquiao, adalah pemilik gelar tersebut sebelum jadi juara dunia.

Setelah bertanding selama 12 ronde, Pak Hom dinyatakan kalah oleh juri (split decision). Menurut catatan situs Boxrec.com, setelah itu ia hanya bertanding satu kali lagi, melawan Junai Ramayana di Malang pada 1990 dengan hasil imbang, sebelum menghilang selama satu dekade.

Tahun 2000, Pak Hom berusaha rujuk dengan boksen yang pernah jadi bagian penting dalam hidupnya. Ia bergabung dengan sasana tinju Extra Joss di Jakarta dan kembali berlatih. Januari 2001, ia melakukan pertandingan comeback melawan petinju berumur 20 tahun asal Thailand yang baru sekali bertanding, Weerachai Chuwatana. “Saya yakin menang angka,” kata Pak Hom. “Tapi di ronde kedelapan saya lengah, kena hantam, dan langsung KO.”

Keterampilan Weerachai Chuwatana yang bernama asli Phoonsri Surachai itu sebetulnya di bawah Pak Hom. Sejak debutnya pada 2000 hingga tutup buku pada 2010, Chuwatana hanya menang dua kali. Selain Pak Hom tua, lawan lain yang ia pernah kalahkan hanya petinju debutan Phetrasee Sor Thiebkhun.

“Hampir mati saya,” kata Pak Hom dengan nada yang tidak berubah. Saya tertawa. “Saya dilarikan ke rumah sakit UKI [Universitas Kristen Indonesia] dalam keadaan tidak sadar dan dirawat selama dua minggu.” Sadar bahwa “hampir mati” itu bukan kiasan alias hampir mati dalam arti yang sebenar-benarnya, saya merasa ekspresi wajah saya berubah secara mendadak. Hasilnya, mengingat cara Pak Hom menatap saya waktu itu, kemungkinan besar serupa karbon lecek.

Dalam keadaan terpuruk itulah Pak Hom berjumpa Anto S. Trisno atau Anto Baret, pendiri Komunitas Penyanyi Jalanan dan Warung Apresiasi Bulungan yang memiliki minat besar terhadap tinju. Ia berencana mendirikan sasana. Dalam sebuah video dokumenter, Anto Baret mengatakan: “Sejak didirikan sampai sekarang, pelatih KPJ Boxing Camp adalah Pak Little Home. Tidak pernah ganti. Alasannya, menurut saya, dia adalah salah satu petinju Indonesia yang penguasaan tekniknya tinggi.”

Di bawah asuhan pengagum Sugar Ray Leonard itu, sasana KPJ telah menghasilkan sejumlah petinju cemerlang, antara lain Untung Ortega, juara interim Pan Asian Boxing Association (PABA) kelas bulu super 2003; Jack Macan alias Jonatan Simamora, juara nasional Komisi Tinju Indonesia (KTI) kelas ringan super tahun 2009; Jimmy Gobel alias Boom Boom, juara nasional Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) kelas terbang super 2011; dan Tubagus Sakti, petinju muda berbakat yang pernah menduduki peringkat 1 nasional untuk kelas terbang yunior.

Selain sasana dan anak-anak didik yang berprestasi, sumber kebanggaan terbesar Pak Hom adalah putra bungsunya, Aji Satrio Febrianto (12 tahun) yang sudah meraih medali dari sejumlah kompetisi tinju kelas kadet. Malam itu Pak Hom bercerita banyak tentang sang anak. Ia mengatakan Aji sudah menyatakan ketertarikan dan mulai berlatih tinju sejak usia 5 tahun.

“Ada yang tanya, apa saya ini gila, kok tega membiarkan anak dipukuli begitu? Waduh, mereka itu nggak ngerti, Mas. Saya ini yang melatih dia, mendampingi di ring, mengelap mukanya. Tapi saya tidak mau jadi orang tua yang melarang impian dan tekad anak,” kata Pak Hom.

“Ibunya bagaimana, Pak?” tanya saya.

“Ya, berak-berak, Mas.”

Karena tidak yakin itu kiasan atau bukan, saya tidak tertawa.

Kami kemudian mengobrol tentang keadaan tinju di Indonesia. Menurut Pak Hom, dibandingkan dengan periode 1970-1980an, popularitas tinju kini telah jauh menurun. Pada masa itu kompetisi tingkat nasional bisa diadakan hingga belasan kali per tahun, dengan penyelenggara bermacam-macam, mulai dari pemerintah hingga Komando daerah militer atau Kodam. Sekarang petinju Indonesia banyak yang bergantung pada undangan bertanding dari luar negeri. Promotor juga tinggal sedikit. Dari 78 promotor Indonesia yang tercatat dalam database situs Boxrec.com, saat ini hanya 17 yang aktif.

“Itu masalah,” katanya. “Karena jadwal sedikit, petinju tidak bisa berlatih secara penuh. Mereka harus mencari nafkah dari tempat lain. Kadang ada petinju yang minta dibawa bertanding, tapi badannya sudah jelek.”

“Saya dengar banyak petinju yang bekerja jadi penagih utang dan bodyguard. Benar begitu, Pak?” tanya saya.

“Ada, tapi anak didik saya tidak begitu. Banyak yang pekerjaannya melatih, ada juga yang malah sekalian berhenti bertinju dan cari pekerjaan lain,” ujar Pak Hom. “Saya selalu menekankan ke anak-anak: di atas ring silakan meninju sepuasnya, tapi di luar itu tidak boleh.”

“Mereka menurut?”

Pak Hom mengiyakan. “Kalau pelatihnya senang membentak dan memukul, wajar petinju petantang-petenteng dan kasar di luar. Tapi kalau mereka diperlakukan dengan baik, ya, tidak bakal. Saya dan anak-anak sering mengobrol. Saya tanyakan apakah ada kesulitan dan lain-lain. Banyak petinju yang menganggap saya seperti bapak. Kalau Mas nggak percaya, tanya saja ke orang-orang tinju bagaimana Pak Hom KPJ Bulungan,” katanya.

Baca juga artikel terkait TINJU atau tulisan lainnya dari Dea Anugrah

tirto.id - Olahraga
Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti