Rekomendasi Cara Mencegah Penularan Covid-19 di Pesantren

Oleh: Addi M Idhom - 25 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pengelola pesantren disarankan menerapkan sejumlah strategi yang bisa mencegah dan mengurangi risiko penularan Covid-19.
tirto.id - Penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona (Covid-19) penting untuk diterapkan di pesantren. Tanpa penerapan protokol kesehatan, pesantren berpotensi jadi klaster penularan Covid-19, dan contoh kasusnya di Indonesia sudah banyak.

Di sisi lain, pondok pesantren juga memiliki potensi untuk menjadi institusi pelopor pembangunan kualitas kesehatan. Pesantren sebagai institusi pendidikan kegamaan maupun para santri dapat mengambil peran tersebut.

Menurut Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr. Masdalina Pane, M.Si (Han), pesantren adalah salah satu lokasi penting untuk pencegahan COVID-19. Dia menyatakan hal ini dalam talkshow "Santri Sehat Indonesia Kuat" di Media Center Satgas Penanganan Covid-19, Graha BNPB Jakarta, pada 22 Oktober 2020 lalu.


Dia menyarankan lima langkah utama untuk diterapkan di pesantren selama pandemi corona. Lima strategi yang disarakan oleh Masdalina adalah sebagai berikut.

1. Test Covid-19

Masdalina menyarakan tes untuk memastikan para santri bebas Covid-19 perlu dilakukan sebelum mereka masuk ke wilayah pesantren. Hal ini untuk memastikan lingkungan pesantren bebas dari risiko penularan Covid-19.

2. Memastikan kebersihan

Menurut Masdalina, kebersihan lingkungan pesantren perlu sekali diperhatikan. Kebersihan kamar tidur para santri adalah salah satu yang harus dipastikan, kata dia. Peralatan makan dan beribadah para santri juga perlu dipastikan higienis, dan tidak dipakai bergantian.

3. Penerapan protokol kesehatan

Penerapan protokol kesehatan, menurut Masdalina, penting pula dilakukan di lingkungan pesantren secara disiplin. Protokol kesehatan yang dimaksud adalah: memakai masker; menjaga jarak fisik dengan orang lain minimal 2 meter; menghindari kerumunan; dan sering mencuci tangan memakai sabun dengan dibasuh air mengalir .

4. Penanganan cepat santri pemilik gejala Covid-19

Langkah selanjutnya, sesuai saran Masdalina, adalah memberikan penanganan yang cepat kepada santri dengan gejala Covid-19.


Oleh karena itu, santri yang mengalami gejala ringan yang mengindikasikan Covid-19 perlu segera melapor ke pengelola pesantren untuk mendapat tindakan cepat. Dengan begitu, jika memang ada santri mengalami gejala Covid-19, pencegahan potensi penularan bisa cepat dilakukan, dan proses perawatan pun bisa dilakukan lebih dini.

5. Pembatasan jumlah pengunjung

Langkah kelima, kata Masdalina, adalah membatasi jumlah pengunjung dari luar pesantren. Cara ini perlu dilakukan untuk mengurangi intensitas pertemuan antara santri dengan orang dari luar pesantren yang berisiko menularkan virus corona.

Jadwal kunjungan dari wali santri pun perlu dibatasi. Sementara ketika wali santri bertemu dengan anaknya, ketentuan menjaga jarak dan larangan bersentuhan fisik perlu diberlakukan.

"Agak sulit menerapkan aturan ini awalnya, karena kultur di Indonesia terbiasa berkumpul, guyub, dan berpelukan," Masdalina mengakui.

"Selama tujuh bulan ini kita harus jaga jarak, tak boleh bersalaman, hanya menangkupkan tangan saja," tambahnya.

Namun, protokol kesehatan seperti itu penting dilakukan untuk meminimalisasi risiko penularan virus corona di pesantren.

Cara Pesantren Darunnajah Mencegah Covid-19

Penerapan protokol kesehatan secara tepat bisa menjadikan pondok pesantren tempat yang aman dari risiko penularan Covid-19. Upaya memberlakukan protokol kesehatan tersebut selama ini juga sudah dilakukan Pesantren Darunnajah yang memiliki unit pendidikan di DKI Jakarta dan sejumlah wilayah lain di luar ibu kota.

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si menyampaikan sejumlah cara mencegah penularan Covid-19 yang selama ini sudah dilakukan oleh pesantrennya.

Menurut dia, ada lima strategi yang diterapkan oleh pengelola Pondok Pesantren Darunnajah. Dia mengatakan hal ini dalam talkshow "Sosialisasi Iman, Aman, dan Imun Hadapi COVID-19" di Media Center Satgas Penanganan Covid-19, Graha BNPB Jakarta, pada 16 Oktober lalu.

Pertama, Pesantren Darunnajah menerapkan kebijakan satu pintu masuk atau “one gate system” guna membatasi lalu lintas orang yang masuk ke lingkungan pondok. Aturan ini membuat interaksi santri dengan masyarakat dari luar pesantren, juga lebih menjadi mudah terpantau.


Kedua, pengelola Darunnajah mewajibkan pemakaian masker bagi semua orang selama mereka di lingkungan pondok pesantren. Santri, guru, maupun pengelola pesantren wajib mematuhi aturan ini. Mereka yang melanggar akan dikenakan denda Rp250.000.

Ketiga, pengelola Darunnajah mewajibkan para guru tinggal di pondok pesantren, atau memilih mengajar melalui sarana komunikasi online. Ketentuan ini diberlakukan untuk menghindari risiko ada guru yang bermukim di luar pesantren menularkan Covid-19 kepada para santri.

Keempat, pengelola Pesantren Darunnajah membatasi kunjungan orang tua santri selama masa pandemi, yakni hanya 80 orang per minggu. Para orang tua santri juga diharuskan melakukan pendaftaran online dahulu sebelum berkunjung ke pesantren.

"Saat berkunjung wali santri juga diberikan jarak dua meter saat bertemu santri dan tidak boleh bersentuhan badan," ungkap Sofwan.

Kelima, pengelola Pesantren Darunnajah mengharuskan para santri yang akan datang ke pondok pesantren melalui empat tahap. Salah satunya adalah menjalani pemeriksaan, seperti rapid test. Kemudian apabila hasilnya negatif, santri yang baru datang dari luar itu diwajibkan pula menjalani isolasi mandiri sebelum bergabung dengan santri lainnya.

----------

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight