Rei Kawakubo Melawan Konvensi Fesyen dengan Comme des Garcons

Rei Kawakubo. Foto/CFDA/nitrolicious.com
Oleh: Joan Aurelia - 26 Oktober 2020
Dibaca Normal 4 menit
Rei Kawakubo tumbuh saat Jepang sedang mengalami perubahan sosial-politik. Karya-karyanya bertujuan membuat seseorang leluasa menjadi diri sendiri.
Rei Kawakubo, pendiri label busana Comme des Garcons, masuk ke dunia mode dengan amarah. Amarahnya menitik pada keseragaman pemaknaan tentang busana indah untuk perempuan. Bahwa yang indah itu mustilah berpotongan simetris dan pas badan sehingga menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu.

Kawakubo tidak pernah menyukai konsep “standardisasi” pada bidang apa pun. Ketika sekolah, dia memprotes kewajiban berseragam bagi semua siswa sekolah di Jepang. Dia melawan aturan itu dengan mengenakan kaus kaki pendek ke sekolah.

Sekira akhir dekade 1960-an, kala dia beranjak dewasa, Kawakubo melawan konvensi umum dengan mendesain busana yang potongannya asimetris, sangat longgar, pola jahitan yang terkesan sembarangan, dan menggunakan warna serba hitam. Kawakubo menciptakan busana uniseks jauh sebelum konsep itu populer.

Sebagian besar orang merasa desain semacam itu nyeleneh. Tapi, industri fesyen Barat menganggap karya Kawakubo memberi kesegaran karena nisbi hanya dia yang punya gaya sedemikian gila.

Salah satu bukti pamor Kawakubo bisa disimak dalam ekshibisi bertajuk Rei Kawakubo/Comme des Garçons: Art of the In-Between di Metropolitan Museum of Art (The Met), New York. Pameran yang digelar pada Mei hingga September 2017 itu menampilkan sekitar 140 busana rancangan Kawakubo dari kurun awal 1980-an hingga yang terbaru.

Kurator The Met Andrew Bolton menilai Kawakubo adalah sosok revolusioner karena konsistensinya menantang narasi mapan seputar busana, identitas, dan tubuh perempuan.

Bolton menganggap salah satu koleksi busana Kawakubo yang provokatif dan radikal adalah Dress Meet Body, Body Meet Dress. Koleksi tersebut terdiri dari beberapa gaun yang dibuat dari kain bermotif kotak-kotak dan berwarna pastel, “seperti warna dan model gaun anak-anak,” kata Bolton.

Yang membuat gaun-gaun itu istimewa adalah detail padding atau bantalan yang diletakkan secara asimetris. Ia pun muncul di bagian-bagian yang tak lazim, seperti bokong, pinggul, dan payudara. Padahal, padding biasanya hanya diletakkan pada bahu.

Koleksi lain yang juga menonjol menurut Bolton adalah busana siap pakai edisi musim gugur 2016. Kawakubo memadupadankan tutu yang megar dengan biker jacket, koleksi busana yang terinspirasi dari kultur punk. Di samping itu, ada pula koleksi yang terinspirasi dari busana pada abad 19.

“Rei bukan orang yang suka melihat ke belakang. Dan ia selalu konsisten menolak konsep nostalgia masa lampau. Sekalinya dia diberi kesempatan untuk melakukan itu, maka yang dilakukan adalah merombaknya,” tutur Bolton.

Cara paling mudah untuk mendeskripsikan koleksi busana musim gugur 2016 itu adalah dengan membayangkan gorden yang lumrah dipakai pada abad ke-19. Pada masa itu gorden biasanya bermotif floral atau polos, berwarna pastel, dan memiliki detail drape atau lipatan pada bagian atas.

Lalu, potonglah gorden itu jadi beberapa bagian kecil. Terserah dengan cara bagaimana, modifikasilah tiap-tiap potongan itu hingga membentuk sebuah busana. Tentu saja, jangan lupa mempertimbangkan berbagai detail bentuk dan tekstur. Seperti itulah busana-busana Kawakubo tercipta.

Tak hanya tekniknya, latar belakang pemikiran Kawakubo dalam berkreasi juga membuat penasaran para jurnalis, praktisi, dan akademisi fesyen. Tapi, dia adalah orang yang sangat irit bicara. Selama 51 tahun berkarya sebagai desainer, media yang pernah melakukan wawancara langsung dengannya bisa dihitung jari.

Sang suami Adrian Joffe bahkan pernah bilang kepada The New York Times bahwa dirinya khawatir dengan cara Kawakubo memperlakukan wartawan. “Dia teramat tidak biasa,” kata Joffe.


Representasi Zaman Bergerak

Rei Kawakubo lahir pada 1942 di Jepang. Ayahnya adalah pegawai di Keio University, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Sebelumnya, sang ibu pernah kursus mengajar bahasa Inggris. Setelah anak-anaknya mulai masuk sekolah, sang ibu ingin berkarier.

“Suaminya tidak setuju. Bagi hampir semua istri Jepang dari kelas sosial dan era itu, kata-kata suami laiknya hukum. Maka, ibu Kawakubo memilih berpisah dan dia lalu bekerja di sebuah sekolah menengah,” tulis Judith Thurman dalam artikel “The Misfit” yang tayang di majalah New Yorker.

Pada 1960, Kawakubo mulai kuliah di Keio University dengan mengambil studi sejarah estetika. Pada usia 22, Kawakubo memilih tinggal sendiri di Harajuku—distrik yang mulai dikenal sebagai kawasan kreatif dan tongkrongan pemuda-pemudi Tokyo.


Kawakubo memulai langkahnya di ranah fesyen pada pertengahan 1960-an. Dia membuka kariernya di perusahaan tekstil Asahi Kasei. Sebelum akhirnya mendirikan label Comme Des Garcons (CDG) pada 1969, dia sempat bekerja sebagai penata busana.

Perlahan CDG meraih sukses dan menjadi perusahaan mandiri pada 1973. Seturut Thurman, pada 1980, ia telah memiliki 150 gerai di seantero Jepang, 80 pegawai, dan mampu meraih pendapatan tahunan sekitar 30 juta dolar.

Masa awal karier Kawakubo berkelindan dengan eranya anak-anak muda Jepang jengah dengan sistem politik dan ekonomi negaranya. Pemerintah Jepang sedang getol membuka keran investasi yang kemudian memicu lonjakan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat.

Di saat yang sama, kota-kota besar macam Tokyo jadi tujuan urbanisasi pemuda pencari kerja. Sebagian kelompok muda lain juga membanjiri universitas. Anak-anak muda inilah yang pertama merasakan ekses dari pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang.

Mereka merasa tidak lagi bebas menikmati waktu karena mesti bergelut dengan ketatnya persaingan masuk universitas. Universitas yang kebanjiran mahasiswa pun kesulitan karena beban mengajar dosen-dosennya terlalu besar. Usai lulus pun, mereka masih harus berjibaku untuk mendapatkan pekerjaan.

Angkatan muda Jepang zaman itu juga terjebak konsumerisme. Dari sisi ideologi, orang muda ini mulai mempelajari Marxisme hingga filsafat eksistensial. Buahnya adalah kegandrungan pada ide dan gerakan pembebasan yang kerap diekspresikan lewat unjuk rasa.

Kawakubo dan karya-karya desainnya adalah salah satu representasi zaman bergerak itu. Sebagai desainer, dia melawan arus dengan membentuk identitas desain orisinalnya sendiri.




Identitas Kawakubo

Sedari awal berkarier, Kawakubo hanya ingin dikenal melalui karya busananya. Kawakubo juga tidak suka diidentifikasikan dengan apa pun. Dia tidak terima disebut desainer atau seniman. Tapi, setidaknya, dia bisa menerima bila orang menyebutnya seorang punk. Kawakubo pun mengakui bahwa ia menjalani hidup ala punk.

Bonnie English dalam Japanese Fashion Designers (2011) menyatakan Kawakubo adalah seorang feminis yang berani membuat narasi antifesyen. Menurut pengajar sejarah seni dari Griffith University itu, karya Kawakubo menantang eksklusifitas desain busana modern. Dia juga sepakat bahwa fesyen semestinya tidak hanya mengaksentuasi tubuh seseorang, melainkan membuat seseorang leluasa menjadi dirinya.

“Kawakubo menantang konsep kesempurnaan, ideal, keberlanjutan, dan perencanaan detail yang matang. Sebaliknya, karakteristiknya adalah antifesyen, asimetris, detail lipatan pada pakaian, memperlihatkan jahitan, serta pemaduan tekstur dan bahan yang kontras,” kata English.

Ide awal Kawakubo sering kali tidak tergambarkan. Dia biasa menemukan sebuah benda atau sebuah kata, menunjukkannya pada tim kreatif, lalu membebaskan mereka berkreasi. Mulanya, proses kreatif semacam itu kerap membuat para pekerjanya bingung. Tapi, lama-kelamaan mereka terbiasa dengan pola kerja itu.

Tak hanya desainnya, judul-judul koleksinya pun selalu menantang. Diksinya lebih bersifat reflektif ketimbang kata-kata promosi. Judul koleksi “Not Making Clothes” (2017), misalnya, dibuat saat Kawakubo merasa kehabisan ide. Dia lantas mencoba melihat apakah kebaruan bisa muncul bila dia tidak berpikir akan membuat baju.

Meski tidak berpretensi menciptakan judul dengan daya jual tinggi, “Not Making Clothes” justru laris dan banyak diperbincangkan orang. Sebagian dari mereka menyangka koleksi itu bakal jadi karya terakhir Kawakubo.

Kenyataannya, CDG masih eksis sampai hari ini. Tahun ini adalah tahun ke-39 CDG eksis di paris dan rutin mengikuti Paris Fashion Week. Selain CDG, Kawakubo juga punya label busana siap pakai lain seperti Junya Watanabe, Noir Kei Ninomiya, Tricot, Black Comme des Garcons, dan PLAY Comme des Garcons.

Sebagai pebisnis, Kawakubo paham bahwa dirinya tetap perlu mengeluarkan produk yang “cukup normal” dan bisa dipakai semua orang di berbagai kesempatan. Oleh karena itu, dia juga punya lini usaha yang menjual barang-barang streetwear seperti jaket dan kaus. Ada pula produk parfum dan aksesori seperti dompet dan sepatu.

Pada 2004, Kawakubo mendirikan Dover Street Market—sebuah concept store yang menjual produk fesyen dari label atau perancang independen. Awalnya, toko tersebut didirikan di London dan kini sudah ada di beberapa lokasi seperti New York, Tokyo, Beijing, dan Los Angeles. Model usaha DSM kemudian menginspirasi pebisnis fesyen di berbagai negara. Di Indonesia, The Goods Dept adalah salah satu contohnya.

Kawakubo tidak berniat menjual bisnisnya ke korporasi retail besar. Dia pun tidak berencana memindahtangankan bisnisnya bila suatu saat meninggal. Comme Des Garcons adalah nyawa Kawakubo Rei dan hanya akan ada selama dia hidup.
­­

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight