Menuju konten utama

8 Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Madura Beserta Maknanya

Pernikahan adat Madura memiliki keragaman sendiri dan membuatnya berbeda dari prosesi pernikahan daerah Jawa lainnya. Simak rangkaian prosesi dan maknanya.

8 Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Madura Beserta Maknanya
Ilustrasi Pernikahan tradisional dalam kegiatan Gebyar Pernikahan Indonesia-Pernikahan Adat Madura. ANTARA/HO-Tommy Yoewono

tirto.id - Dengan budaya yang begitu kaya, Indonesia memiliki ragam adat pernikahan berdasarkan sukunya, termasuk Madura. Proses pernikahan adat Madura, Jawa Timur, memiliki keragaman tersendiri yang membuatnya berbeda dari prosesi pernikahan daerah Jawa lainnya.

Secara garis besar, tradisi pernikahan adat Madura juga sangat identik dengan kebersamaan keluarga besar. Hal ini dikarenakan hampir di setiap prosesinya melibatkan banyak anggota keluarga.

Prosesi Pernikahan Adat Madura Beserta Maknanya

Pernikahan dalam adat Madura memiliki rangkaian prosesi yang unik dan penuh makna. Berikut ini adalah rangkaian prosesi pernikahan adat Madura beserta makna di setiap prosesinya.

1. Memberi Kabar atau Ngangene

Ngangene, yang berarti memberi kabar, merupakan langkah pertama dalam adat pernikahan Madura. Pada tahap ini, keluarga pria mengutus seseorang untuk mengetahui kemungkinan lamaran diterima oleh pihak keluarga wanita.

Selain itu, utusan ini juga bertugas menyampaikan keunggulan calon mempelai pria, seperti sifat, prestasi, serta tingkat ketakwaannya. Dalam adat nikah Madura, aspek ibadah menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikan.

2. Perkenalan Orang Tua atau Araba Pagar

Setelah kabar diterima dengan baik, pertemuan antara kedua keluarga akan dilakukan dalam prosesi nyedek temo. Di sini, kedua belah pihak berdiskusi mengenai persiapan lamaran atau pertunangan.

Sebagai simbol keseriusan, pihak pria membawa beberapa barang yang disebut ater telo, berisi kosmetik, beras, dan pakaian adat khas Madura.

3. Lamaran

Lamaran merupakan proses yang menegaskan janji pernikahan kedua calon mempelai. Pihak pria membawa tekket petton, yakni alat pinangan yang berisi ketan, kue cucur, pakaian lengkap, sirih pinang, dan perlengkapan lainnya.

Pada tahap ini, calon pengantin wanita akan bersimpuh atau sungkem di hadapan calon suami serta sesepuh. Hal tersebut dilakukan sebagai tanda hormat dalam pernikahan adat Madura.

4. Pingitan

Seperti halnya tradisi di banyak daerah, pernikahan Madura juga mengenal pingitan. Dalam tahap ini, calon pengantin wanita dilarang keluar rumah menjelang hari pernikahan.

Dahulu, masa pingitan bisa berlangsung hingga 40 hari, namun dalam tradisi pernikahan Madura saat ini, durasinya lebih fleksibel, berkisar antara 1-2 hari sebelum pernikahan.

5. Akad Nikah

Akad nikah menjadi inti dari prosesi pernikahan Madura, di mana ijab kabul diucapkan di hadapan penghulu. Setelah akad berlangsung, pasangan resmi menjadi suami istri dan siap melanjutkan ke tahapan adat berikutnya dalam adat pernikahan Madura.

6. Menghar Balabar

Setelah akad, pengantin pria akan menjalani prosesi menghar balabar, yang dikenal juga sebagai ritual "buka pintu." Ia harus melewati tali bunga melati sambil menjawab pertanyaan dalam bentuk dialog lagu Madura.

Jika berhasil menjawabnya, tali akan digunting, menandakan kesiapan mempelai pria dalam memimpin rumah tangga sesuai dengan nilai-nilai budaya Madura.

7. Mekalabah

Mekalabah adalah prosesi simbolis dalam nikah adat Madura, di mana perwakilan keluarga pria dan wanita akan bertanding secara seremonial dengan iringan musik khas Madura.

Jika perwakilan dari pihak pria menang, maka pengantin pria diperbolehkan naik ke pelaminan. Ritual ini melambangkan kesiapan mempelai pria dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan rumah tangga.

8. Putar Dulang

Sebagai bagian penutup dari prosesi adat Madura pernikahan, pengantin pria berjalan jongkok menuju pelaminan, sementara mempelai wanita duduk membelakangi arah kedatangannya.

Setelah sampai, pengantin pria harus memutar posisi istrinya hingga mereka saling berhadapan, sebelum akhirnya berjalan bersama menuju pelaminan. Ritual ini memiliki makna bahwa suami harus mampu membimbing istrinya dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Baca juga artikel terkait ADAT PERNIKAHAN atau tulisan lainnya dari Nisa Hayyu Rahmia

tirto.id - Diajeng
Kontributor: Nisa Hayyu Rahmia
Penulis: Nisa Hayyu Rahmia
Editor: Dhita Koesno