Menuju konten utama

Profil Pelaku Penembakan di Old Dominion University AS

Mohamed Bailor Jalloh menembak seorang instruktur Korps Pelatihan Petugas Cadangan (ROTC) di Old Dominion University, Virginia. Ini profil pelakunya.

Profil Pelaku Penembakan di Old Dominion University AS
OLD DOMINION UNIVERSITY.FOTO/odu.edu/visit-campus

tirto.id - Seorang pria yang diidentifikasi sebagai Mohamed Jalloh melakukan penembakan di Old Dominion University, Virginia, Amerika Serikat (AS) pada Kamis (12/3/2026). Bagaimana profil pelaku tersebut?

Insiden penembakan di instansi pendidikan kembali terjadi di AS. Kali ini, seorang pria melakukan penembakan di universitas di Virginia, menewaskan seorang instruktur dan melukai dua orang lainnya.

Seturut ABC News, penembakan tersebut terjadi di gedung akademik Constant Hall sekira pukul 10.43 waktu setempat. Tembakan yang dilesakkan pelaku dilaporkan membunuh seorang instruktur Korps Pelatihan Petugas Cadangan (ROTC) atas nama Letkol Brandon Shah.

Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh Gubernur Virginia Abigail Spanberger melalui pernyataan di media sosial miliknya. Virginia mendeskripsikan korban sebagai orang yang penuh pengabdian.

Berdasarkan kronologi yang beredar, pelaku penembakan diduga masuk dalam kelas program ROTC di universitas itu pada Kamis. Pelaku kemudian bertanya apakah itu adalah kelas ROTC. Ketika seseorang menjabat, "ya", pelaku lalu menembak instruktur beberapa kali.

Direktur FBI Kash Patel menyebut bahwa pihaknya telah menggolongkan insiden itu sebagai "tindakan terorisme". Satgas Terorisme Gabungan FBI juga ia sebut telah dikerahkan.

Pelaku, yang diidentifikasi sebagai Mohamed Bailor Jalloh, merupakan penduduk AS mantan pasukan cadangan militer yang pernah dipenjara dalam kasus desersi yang melibatkan kelompok teroris ISIS.

Profil Mohamed Bailor Jalloh, Pelaku Penembakan di Old Dominion University

Mohamed Bailor Jalloh sebenarnya tengah dalam masa percobaan atas tuduhan terkait terorisme saat ia melakukan penembakan di universitas Virginia pada Kamis. Ia adalah residivis yang pernah dipenjara karena terlibat dalam jejaring terorisme ISIS.

Menukil NBC News, Jalloh dihukum penjara satu dekade lalu, setelah pengadilan memvonisnya bersalah karena telah berupaya memberikan dukungan material kepada organisasi teroris ISIS.

Kasus itu sempat menjadi perhatian karena Jalloh adalah anggota unit cadangan militer AS di Virginia. Ia pernah bertugas di Garda Nasional Virginia dari tahun 2009 hingga 2015.

Sebelum ia diadili, Jalloh adalah insinyur tempur di unit komponen cadangan militer itu. Ia tak ditugaskan dalam operasi militer, kemudian pada 2015 Jalloh diberhentikan dengan hormat.

Namun, setahun setelah pemberhentian itu, Jalloh ditangkap atas tuduhan terorisme. Pihak berwenang mengendus bahwa Jalloh telah berupaya memberikan dukungan material kepada ISIS.

Dalam memo hukuman pemerintah AS, Jalloh terbukti telah mengontak agen FBI yang ia yakini sebagai teroris ISIS. Jalloh kemudian mencoba membeli senapan jenis AK-47 untuk digunakan dalam rencana pembunuhan personel militer AS.

Jalloh gagal mendapatkan AK-47, namun berhasil membeli senapan semi-otomatis AR-15 dari toko senjata. Ia lalu ditangkap sehari setelah pembelian senapan itu.

Dalam persidangan, Jalloh pada akhirnya mengakui tuduhan yang dilayangkan padanya. Ia dijatuhi hukuman 11 tahun penjara dan lima tahun masa percobaan oleh pengadilan.

Pendamping hukum Jalloh kala itu menggambarkan kliennya sebagai orang dengan sifat "yang mudah tertipu, mudah terpengaruh, kurang canggih, dan pasif". Pengacara Jalloh menyebut hal itu ketika menjelaskan bagaimana kliennya gampang terpengaruh oleh agen FBI yang menyamar sebagai teroris ISIS.

Pendamping hukum Jalloh kala itu juga menyebut bahwa kehidupan kliennya penuh dengan "perang, trauma, kekerasan, pelecehan seksual, dan dislokasi budaya dan keluarga yang signifikan".

"Saya telah melakukan banyak kesalahan dalam hidup saya, namun kesalahan dalam memberikan dukungan kepada organisasi kekerasan dan ekstrem ISIS ini adalah kesalahan paling menghancurkan yang pernah saya lakukan dalam hidup saya," kata Jalloh dalam sebuah keterangan untuk pengadilan.

Akan tetapi, setelah bebas pada 2024, Jalloh diidentifikasi melakukan penembakan pada 12 Maret 2026. Ia menembak mati seorang instruktur sebelum tewas dalam sergapan para mahasiswa di ruang kelas universitas di Virginia.

Baca juga artikel terkait PENEMBAKAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar