tirto.id - Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim baru-baru ini menyatakan telah menghubungi Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendiskusikan penanggulangan kabut asap yang semakin membahayakan warga. Pembicaraan itu disebutnya menghasilkan sejumlah kesepakatan.
Menukil Free Malaysia Today, Anwar Ibrahim menyinggung pembicaraan dengan Prabowo itu pada Kamis (8/10/2026). Menurutnya, hal itu ia lakukan seiring situasi dampak kabut asap yang semakin “mengkhawatirkan”.
“Saya pribadi telah menghubungi Presiden Prabowo dan ia setuju untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” tuturnya.
PM Malaysia itu juga menyebut bahwa pembicaraan juga telah dilakukan pada tingkat kementerian kedua negara. Kementerian bidang urusan luar negeri dan lingkungan disebutnya telah saling berkontak terkait persoalan tersebut.
Tak hanya Indonesia, Anwar Ibrahim juga menyatakan telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan untuk mendorong pertemuan para menteri lingkungan hidup negara-negara ASEAN. Pertemuan ini disebutnya perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kabut asap.
“Seperti yang telah kami nyatakan beberapa minggu lalu, kami siap bekerja sama karena kabut asap berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan memengaruhi kesehatan masyarakat,” katanya.
Sementara kerja sama penanggulangan kabut asap lintas negara tengah diupayakan, Anwar Ibrahim menyebut bahwa pihaknya kini berupaya untuk meningkatkan frekuensi “penyemaian awan”. Modifikasi cuaca itu disebutnya merupakan upaya pemerintahannya untuk menanggulangi dampak kabut asap di Malaysia.
Karhutla Memasuki Bulan Keempat
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai provinsi di Indonesia masih terus berlangsung hingga kini. Operasi pengendalian titik panas (hotspot) kini telah memasuki bulan keempat.

Kementerian Kehutanan RI, melalui siaran pers pada Jumat (9/10/2026), menyebut bahwa jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi masih mencapai lebih dari 380 titik. Jumlah tersebut tersebar di lima provinsi di Pulau Kalimantan dan Sumatra.
Per Kamis, Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 130 titik. Kalimantan Tengah berada di peringkat kedua dengan 86 titik, diikuti Kalimantan Selatan (37 titik), Kalimantan Barat (12 titik), dan Jambi (3 titik).
Kementerian menyebut bahwa operasi penanggulangan karhutla lintas lembaga hingga kini masih dilakukan. Pemerintah juga disebutnya telah menyiagakan 61 unit armada udara untuk membantu penanggulangan titik api.
“Operasi udara berjalan bersama penanganan di darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan,” tulis keterangan tertulis Kementerian Kehutanan RI.
Pada 2 Oktober lalu, kabut asap karhutla telah menyebabkan satu korban jiwa di Palembang. Paparan kabut asap dilaporkan telah membuat seorang pengemudi ojek online bernama Hardiansyah (41) meninggal dunia usai mengeluhkan sesak napas berat.
Sementara itu, pada Senin (5/10/2026), lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang lingkungan Greenpeace merilis dugaan keterkaitan 20 korporasi lintas negara dalam fenomena karhutla tahun ini. Sebanyak 20 perusahaan itu disebut berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Dalam siaran pers mereka, LSM itu menyebut bahwa lebih dari seribu titik api yang teridentifikasi pada 8 Agustus hingga 20 September terletak di lahan konsesi. Temuan Greenpeace menyebut 859 titik terdeteksi berada di 115 konsesi izin pemanfaatan hutan dan 774 titik api berada di 210 lahan konsesi perkebunan kelapa sawit.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































