Pilihan Hidup dan Perjuangan NH Dini

Oleh: Irfan Teguh - 5 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Pilihan-pilihan hidup Nh. Dini hadir dalam sejumlah karyanya
tirto.id - Selasa siang, dalam perjalanan pulang dari pengobatan tusuk jarum atau akupuntur, Nh. Dini mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil yang ditumpanginya dihantam muatan truk. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth, Semarang. Petang sekitar pukul 16.00, nyawanya tak tertolong. Jenazahnya disemayamkan di Wisma Lansia Harapan Asri, Semarang. Rencananya, hari ini (5/12/2018), jenazah Nh. Dini akan dikremasi.

Perempuan kelahiran Semarang, 29 Februari 1936 itu, memang telah lama menjalani pengobatan lewat tusuk jarum. Dalam memoarnya yang bertajuk Pondok Baca Kembali ke Semarang (2011) ia menceritakan pertemuannya dengan Putu Oka Sukanta—pengarang dan ahli tanaman obat-obatan—yang membantu dirinya lewat cara tusuk jarum mengatasi pelbagai macam gangguan fisik seperti migren, pegal linu di bahu dan punggung, serta gangguan pencernaan.

Selain itu, Putu Oka Sukanta pun membantunya bertemu dengan Tjiong The Sin, ketua Yayasan Naturopathi, yang membantunya memulihkan kebugaran fisik. Nh. Dini pun menjadi pasien drg. Widya Adriana dan kerap berkonsultasi dengan ahli bedah mulut, Teguh Iman santoso, yang merupakan kemenakannya. Untuk urusan mata, ia percayakan kepada dr. Norma.

“Keluhan-keluhan lain di luar itu kupasrahkan kepada dr. Kusmiati, saudariku di Rotary Club Semarang Kunthi. Mereka merawatku sebagai pasien, lebih-lebih sebagai ibu, teman dan keluarga mereka,” imbuhnya.

Masalah kesehatan yang menggerogotinya sejalan dengan usianya yang makin senja, sejatinya tak menggoyahkan Nh. Dini dari keputusannya untuk mengemban tugas menegakkan kehormatan yang ia yakini.

Pada halaman awal Sekayu: Cerita Kenangan (1988), ia menerakan penggalan puisi WS. Rendra yang berjudul “Sajak Seorang Tua untuk Istrinya”, yang kiranya menjadi salah satu batu tapal bagi dirinya, atau barangkali penyemangat, untuk kukuh di setapak yang ia pilih:

“Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samodra/serta mencipta dan mengukir dunia/Kita menyandang tugas/kerna tugas adalah tugas/Bukan demi sorga atau neraka/Tetapi demi kehormatan seorang manusia”


Riwayat dan Arah Kepengarangan


Sekali waktu, seperti dikisahkan dalam Langit dan Bumi Sahabat Kami (1994) saat Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin alias Nh. Dini kecil berkumpul bersama keluarganya, tiba-tiba ayahnya berdiri dan pergi membawa beberapa buku tulis miliknya.

“Kalian tidak tahu, bahwa adikmu yang paling kecil seorang pengarang, bukan?” ucapnya sambil memberikan buku-buku itu kepada kakak-kakaknya. Mereka mendapatkan puisi, catatan harian, dan lain-lain yang semuanya ditulis olehnya. Sang ayah menambahkan bahwa anak bungsunya itu lebih banyak menulis puisi, meskipun tanpa memikirkan aturan jumlah kata dan barisnya.

“Dia (ayah) merupakan orang pertama dalam keluarga yang mempercayai bakatku sebagai penulis,” tulisnya.

Tuliskan awal Nh. Dini yang umumkan secara luas adalah “Pendurhaka” yang dimuat di majalah Kisah pimpinan H.B. Jassin. Dalam Dari Ngalian ke Sendowo (2015), Nh. Dini menuturkan di paruh pertama tahun 1950-an ia merasa sudah mantap di bidang kepengarangan. Sajak-sajaknya telah dimuat di beberapa media majalah Gajah Mada dan Basis, serta disiarkan di RRI Semarang dan RRI Jakarta.

Saat itu, ia merasa sajak jarang peminatnya sehingga mulai menulis cerita pendek. Setelah dimuat di sejumlah media daerah, ia memberanikan diri untuk mengirim cerita pendeknya ke majalah Kisah, dan dimuat. Bukan hanya itu, karyanya pun menjadi sorotan redaksi.

“Tiap kali terbit, seorang anggota redaksi majalah [Kisah] selalu membahas satu cerita yang dimuat. Istilah yang digunakan oleh majalah itu ialah ‘disorot’, maksudnya dibicarakan atau diteliti. Pembahas paling sering adalah H.B. Jassin, tokoh yang bagi kami siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama merupakan ‘dewa’ tak terjangkau,” tulisnya yang waktu itu masih duduk di kelas II SMP.

Memasuki usia SMA, kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Dua Dunia diterbitkan pada tahun 1956. Selepas sekolah, ia bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia. Tahun 1960, seorang diplomat Prancis menikahinya dan membawanya tinggal berpindah-pindah negara. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai dua orang anak.

Meski sibuk sebagai istri diplomat dan ibu dari dua orang anak, Nh. Dini rupanya tidak melupakan minatnya pada menulis. Pasca bercerai pada 1984, karya-karyanya mulai hadir lagi dan membanjiri ruang baca masyarakat Indonesia.

Oleh masyarakat luas, Nh. Dini kerap didapuk sebagai pengarang yang memancangkan tonggak feminisme. Karya-karyanya banyak menyuarakan perlawanan perempuan terhadap tradisi patriark yang mendominasi pelbagai segi kehidupan. Pada Sebuah Kapal, Kemayoran, dan Orang-orang Tran adalah sebagian kecil dari karyanya yang menyoroti ketimpangan perlakuan yang menimpa perempuan.

Dalam sebuah acara diskusi sastra di Australia pada 1991, seperti dituturkannya dalam Pondok Baca Kembali ke Semarang (2011), Nh. Dini baru menyadari jika dirinya digolongkan sebagai perempuan pengarang penganut paham feminisme. Baginya, hal itu cukup mengagetkan.

“Aku menulis tanpa dasar pikiran ‘isme-isme’ apa pun. Yang menjadi arah kepengaranganku adalah keadilan. Dengan sendirinya di dalamnya tercakup kemanusiaan,” imbuhnya.

Barangkali hanya soal istilah, sebab keadilan yang diperjuangkannya adalah nasib perempuan yang kerap menjadi manusia nomor dua dalam kehidupan sehari-hari.

“Oleh tradisi, juga didukung agama dan salah kaprah, manusia lelaki selalu dimenangkan dalam semua bidang,” tulisnya.

Ia amat menentang keras ungkapan-ungkapan yang hidup di masyarakat yang selalu menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap laki-laki. Menurutnya, ungkapan seperti “kodrat perempuan adalah tinggal di rumah serta mendidik anak” atau “kodrat perempuan adalah menuruti perintah suami” adalah keliru.

Nh. Dini menegaskan, kodrat adalah sesuatu yang berhubungan dengan hukum alam. Dalam konteks perempuan, imbuhnya, kodrat perempuan adalah haid setiap bulan, mengandung, dan melahirkan. Di luar itu, seperti membereskan rumah, mengawasi dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara perempuan dan laki-laki.

“Aku selalu menyesali kelahiranku sebagai perempuan,” ungkapnya saat ia remaja.

Kekecewaan terhadap ketidakadilan inilah yang kemudian mendorongnya untuk terus-menerus menggedor tembok tradisi lewat kisah-kisah yang tajam.


Pondok Baca dan Pengarang Pasang Tarif


Tak lama setelah bercerai dan kembali ke Semarang, Nh. Dini mendirikan taman bacaan untuk anak-anak dan remaja di rumah warisan orangtunya yang bernama “Pondok Baca Nh. Dini”. Renovasi rumah dikerjakan saat ia masih tinggal di Jakarta. Menggunakan bis malam, ia sering bolak-balik Jakarta-Semarang demi memantau renovasi tersebut.

“Berbagai pengalaman [dalam perjalanan dan mengontrol perbaikan rumah] kudapatkan. Semuanya kucatat dan menjadi bahan renunganku. Beberapa darinya kuabadikan ke dalam cerita-cerita pendek yang kutulis di kemudian hari,” tulisnya.

Untuk melengkapi koleksi bacaan, ia mengirim surat ke sejumlah penerbit meminta sumbangan buku. Namun, dari 16 surat yang ia kirim hanya 4 penerbit yang menanggapinya, itu pun sebagian hanya mengirimkan beberapa eksemplar komik terbitan lama yang tidak laku dijual.

Kekecewaannya sedikit terobati karena penerbit BPK (Badan Penerbit Kristen) yang paling pertama menanggapi suratnya, memberinya sejumlah buku yang ia nilai berkualitas, baik secara isi maupun harga.

“Pengalaman ini akan kuingat seumur sisa hidupku,” ungkapnya.

Pendapatannya yang terbatas sebagai pengarang untuk menghidupi diri dan taman bacaannya, membuat Nh. Dini selalu meminta honorarium dalam setiap undangan sebagai pembicara dalam seminar, diskusi sastra, juri perlombaan, dan kegiatan lainnya.

Hal ini membuat dirinya sempat dicap oleh wartawan sebagai “pengarang yang pasang tarif”. Tegas ia ungkapkan, bahwa dirinya tidak malu dilabeli seperti itu. Menurutnya, hal itu wajar karena ia bekerja secara jujur dan menggunakan kemampuannya sendiri, serta tidak merugikan orang lain.

Sikapnya ini kerap dipandang sinis oleh sebagian orang. Pernah sekali waktu seorang wartawan memintanya untuk wawancara. Saat imbalan uang yang ditawarkan wartawan itu ia nilai kecil, Nh. Dini membatalkannya. Wartawan tersebut tersenyum sinis sambil mengatakan bahwa seharusnya Nh. Dini bersyukur diwawancarai surat kabar besar karena dirinya akan dipromosikan lewat distribusi media.

Nh. Dini mengakui soal promosi itu, tapi menurutnya budaya membaca di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan, berbeda dengan di negeri-negeri Barat atau di Jepang. Artinya, promosi dirinya lewat surat kabar terasa agak sia-sia, sehingga ia meminta bayaran yang tinggi.

Di lain kesempatan, ia diundang dalam sebuah acara nasional. Angka imbalan yang disodorkan panitia ia nilai kurang besar sehingga ia minta ditambahi. Namun, panitia menjawabnya bahwa angka diharapkan Nh. Dini adalah bayaran untuk seorang profesor.

“Dia melecehkan aku! Dia menganggap rendah profesiku sebagai pengarang,” tulisnya.

Nh. Dini menjelaskan kenapa ia selalu memasang tarif, karena pengarang penuh waktu seperti dirinya pada tahun 80-an dan 90-an tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhannya, termasuk menghidupi taman bacaan, hanya dengan menulis.

Dalam perjalanannya, Pondok Baca Nh. Dini mengalami pelbagai musibah yang disebabkan oleh alam seperti banjir dan longsor. Sementara dirinya sebagai pengarang, terutama saat terjadi krisis ekonomi jelang reformasi 1998, kesulitan karena barang-barang penunjang untuk menulis mulai susah didapatkan.

Sampai ajal menjemputnya pada 4 Desember 2018, kiranya Nh. Dini tidak bergeser dari posisinya yang secara luas didapuk sebagai pengarang yang konsisten menyuarakan hak-hak perempuan.

Ketegarannya dalam menulis, juga ia jalani dalam kehidupannya sehari-hari. Di usia senja, saat kesehatannya menurun, jatuh bangun mengelola pondok baca, juga kebutuhan keuangan yang terus-menerus harus ia penuhi, tak membuatnya lemah. Bahkan karena tak ingin merepotkan keluarga dan orang-orang terdekatnya, ia memilih untuk tinggal di panti jompo.

Di halaman persembahan buku Pondok Baca Kembali ke Semarang (2011), ia lagi-lagi mengutip puisi Rendra. Kali ini, meski penggalan puisi yang dipilihnya masih menyalakan semangat, tapi terasa ada yang hendak ia endapkan:

“Yang diharap tidak ada/Yang ada tidak diharapkan/Kesadaran hidup adalah pemberontakan/Hidup tidak hanya untuk hidup/Kita harus belajar berdamai dengan mimpi-mimpi kita/Kita harus berkaca di dalam sepi” .

Baca juga artikel terkait OBITUARI atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti