Piala Dunia Basket 2019: Cara Spanyol Juara dengan Skuat Kelas Dua

Anggota tim Spanyol merayakan dengan Naismith Trophy setelah mereka mengalahkan Argentina dalam pertandingan pertama mereka di FIBA ​​Basketball World Cup di Cadillac Arena di Beijing, Minggu, 15 September 2019. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Reporter: Felix Nathaniel - 24 September 2019
Dibaca Normal 5 menit
Spanyol mulai menggoyang dominasi Amerika Serikat dalam olahraga basket dengan menjadi juara dunia untuk kedua kalinya.
tirto.id - Untuk kedua kalinya dalam sejarah, Spanyol berhasil memenangi kejuaraan dunia bola basket 2019 (2019 FIBA Basketball World Cup). Terakhir kali negeri itu menjadi juara basket adalah 13 tahun yang lalu, yakni FIBA 2006 di Jepang. Kini mereka menguntit Amerika Serikat dalam perebutan pucuk pimpinan basket dunia.

Dalam turnamen yang digelar di Cina tersebut, Spanyol menjadi juara usai menundukkan Argentina 95-75 di partai final. Selain menjadi juara, Spanyol juga menutup turnamen sebagai satu-satunya tim yang tak pernah mengalami kekalahan sejak putaran final digelar mulai 31 Agustus, demikian catatan laman resmi FIBA.

AS sebagai juara bertahan sejatinya masih menjadi favorit di FIBA World Cup 2019. Meski ditinggal oleh sebagian pemain bintang liga domestiknya (NBA), seperti James Harden, Kevin Love, dan Kevin Durant, tetapi mereka optimistis bisa mempertahankan predikat juara. Tiga pemain yang telah berusia 30 tahun tersebut sebelumnya juga sudah pernah meraih medali emas di olimpiade atau kejuaraan dunia.

AS lantas mengandalkan pemain muda lain untuk menopang permainan mereka, seperti guard Utah Jazz, Donovan Mitchell, center Indiana Pacers Myles Turner, dan forward Boston Celtics, Jaylen Brown.

“Puji Tuhan kami diberkati dengan banyaknya talenta yang kami punya di Amerika. Kami menemukan orang yang mau bergabung dan kami akan menggunakan mereka,” kata Direktur Manajer AS, Jerry Colangelo.

Turner yang menjadi pemain utama di posisi center, misalnya, mencatatkan statistik sangat baik di musim NBA 2018/2019. Sebagai perbandingan, Rudy Gobert (center Utah Jazz yang bermain untuk Perancis) melakukan 2,3 block tiap pertandingan, sementara Turner mencetak rerata 2,7 block.

Menariknya lagi, catatan tersebut dicapai Turner dengan jatah rerata waktu bermain yang lebih sedikit dibanding Gobert, yakni 28,6 menit berbanding 31,8 menit tiap pertandingan. Ada pun yang agak kurang dari statistik Turner adalah ia kurang banyak merebut bola pantul (rebound) ketika posisi bertahan.

Berpindah ke Mitchell, meski usianya masih 23 tahun, tetapi ia sudah menjadi andalan Jazz dalam mencetak angka. Kepala pelatih tim Amerika, Gregg Popovich, turut menyanjung pemain berjuluk “laba-laba” itu.

“Saya tidak akan mengajarinya cara menembak, melompat, atau menggiring lebih baik lagi. Dia punya kecerdasan dan kemauan untuk menjadi pemimpin. Dan saya pikir itu bagus,” tegas Gregg.

Namun, dengan kekuatan seperti itu AS nyatanya tetap harus bertekuk lutut kala menghadapi Perancis lewat skor 79-89. Situasi mereka makin runyam setelah kembali menerima kekalahan dari Serbia dengan skor 94-89 di perebutan posisi 5-8.

Alhasil, AS yang selama ini dikenal sebagai raksasa dalam dunia basket harus puas di posisi ke tujuh. Pencapaian tersebut adalah yang terburuk semenjak FIBA World Cup tahun 2002 ketika mereka hanya menduduki di posisi ke enam.


Bagi guard Spanyol sekaligus mantan rekan satu tim Mitchell di Utah Jazz, Ricky Rubio, hasil yang didapat AS di FIBA World Cup 2019 sejatinya tidak terlalu mengejutkan. Ia sebelumnya telah memprediksi bahwa tim AS, termasuk Mitchell, memang kurang pengalaman di kejuaraan dunia.

Hal itu sempat diutarakannya usai AS menang susah payah dari Turki dengan skor 93-92.

Welcome to FIBA (merujuk pada penyelenggara kejuaraan dunia),” tulis Rubio.

Di sisi lain, Spanyol berhasil menjadi juara tanpa satu kali pun menderita kekalahan di 2019 FIBA Basketball World Cup. Lawan sengit mereka justru Australia, yang pada pertandingan babak semi-final harus diselesaikan dengan dua kali perpanjangan waktu.

Adaptasi AS vs Kekompakan Spanyol

Dalam kancah basket global, AS bukan sekadar memiliki segudang talenta berbakat yang melimpah: secara bayaran pun para pemain mereka juga jauh mengungguli negara lain, termasuk Spanyol.

Sebagai perbandingan, rerata bayaran tahunan 12 pemain Amerika di NBA adalah $USD 14,6 juta. Sedangkan gaji pemain Spanyol di setiap liga, jika disesuaikan dengan standar paling tinggi Eropa dan NBA, reratanya hanya $USD 6,14 juta.

Namun, segala ketersediaan tersebut tidak serta-merta menjadikan AS sebagai tim yang selalu mendominasi. Salah satu alasan terkait melempemnya timnas Paman Sam di kejuaraan dunia adalah tidak adanya kesesuaian gaya bermain.

Tim yang bagus tentunya hasil dari tempaan bertahun-tahun. Serbia, misalnya, punya enam pemain dari Olimpiade tiga tahun lalu, sementara sisanya pernah tampil di kejuaraan dunia. Spanyol pun demikian, lima pemain setidaknya pernah bermain di Olimpiade.

Selain itu, perbedaan aturan FIBA dengan NBA juga menjadi kendala lain bagi AS. Di NBA, pemain bertahan tidak boleh berada di lingkaran dalam dekat ring lebih dari 3 detik, sedangkan FIBA memperbolehkannya. Hal itu mempersulit para pemain NBA untuk melakukan gerakan lay-up atau pun tembakan jarak dekat.

Aturan lain: jarak tembakan tiga angka yang dipatok FIBA juga lebih dekat, yaitu 6,75 meter, sedangkan NBA adalah 7,24 meter.

Dengan segala perbedaan teknis tersebut, mau tidak mau, para pemain NBA tentu harus melakukan adaptasi. Gregg Popovich selaku pelatih AS menyadari kelemahan timnya tersebut. Sebab itu, dia juga tidak berani menjamin penyesuaian akan mudah dilakukan.

Dan terbukti: AS menuai hasil buruk.

“Sejak hari pertama saya telah memberitahu mereka tentang (kendala) itu, juga ketika berlatih di Las Vegas, Los Angeles, serta Australia. Kami bermaksud mengubah kebiasaan dan mempelajari perbedaan yang ada. Itulah usaha maksimal yang bisa kami lakukan. Kami sadar, kami sedang beradaptasi. Kita akan tahu saat nanti permainan dimulai,” ucap Gregg.


Lemahnya adaptasi pemain terbukti sejak AS melawan Turki. Negara yang bahkan tidak masuk dalam daftar 10 negara terbaik di olahraga basket itu berhasil mendesak “The Dream Team” hanya dengan mengandalkan pertahanan dalam lingkaran dekat dengan ring.

Melihat catatan statistik, dari delapan pertandingan AS di FIBA World Cup 2019, mereka hanya berhasil memasukan 83 tembakan tiga angka dari 238 tembakan yang dilakukan. Mereka juga kesulitan melakukan tembakan dua angka dan hanya ada satu orang yang berhasil mencapai persentase lebih dari 50 persen menceploskan bola dari jarak dekat, yakni guard Joe Harris.

Spanyol pun sebenarnya juga berada dalam kondisi yang buruk. Skuat mereka, misalnya, tidak memiliki banyak pemain bintang. Tercatat hanya empat orang yang pernah dan masih bermain di NBA: Marc Gasol, Rubio, Juancho Hernangomez, dan Willy Hernangomez. Pemain lainnya, Rudy Fernandez, juga pernah mencicipi NBA, tapi tidak bertahan lama.

Ada pun pemain paling dikenal di skuat Spanyol adalah center mereka, Marc Gasol, yang merupakan salah satu pemain bertahan terbaik di NBA. Dia berhasil ikut membawa timnya Toronto Raptors menjadi juara musim 2018/2019.

Bagaimana dengan sisanya? Sorry to say, hanyalah pemain NBA kelas dua. Hernangomez bersaudara, misalnya, dari 82 pertandingan musim 2018/2019, mereka hanya mendapat kesempatan bermain selama 20 menit di klub masing-masing: Charlotte Hornets dan Denver Nuggets.

Sementara Rubio malah lebih tragis lagi. Tahun 2015, ia pernah dipecundangi dengan telak oleh guard Houston Rockets, James Harden. Dengan keahliannya melakukan dribbling tricks, Harden membuat pantat Rubio mencium lantai lalu memungkasinya lewat tembakan tiga angka.

Kelak kisah tersebut selain membuat Rubio menjadi bahan olok-olok, juga diangkat media untuk membawa berita kemenangan Rockets saat itu.


Usia pemain Spanyol dalam FIBA World Cup 2019 berkisar antara 23-34 tahun, tertua di antara tim lain. Berbeda dengan AS yang sebagian besar diisi pemain di bawah 30 tahun, Spanyol justru memasukan delapan pemain dengan usia setara atau lebih dari 30 tahun.

Kebanyakan pemain telah pernah bermain bersama di kejuaraan dunia atau kancah internasional lainnya. Rubio, Victor Claver, Rudy Fernandez, dan Gasol, misalnya, telah menjadi langganan tim nasional setidaknya sejak 2011. Mereka hanya perlu beradaptasi dengan Juancho Hernangomez yang baru masuk tim nasional di 2017.

Pengalaman dan kekompakan inilah yang menjadi modal utama Spanyol dalam menjuarai FIBA World Cup 2019.

“Kami berjuang bersama-sama, kami bermain bersama-sama, dan kami bersatu. Inilah kekuatan kami paling besar, dan kami tidak akan menyerah, selamanya,” kata center Spanyol, Willy Hernangomez.

Kendati secara statistik Spanyol melakukan kesalahan (turn overs) sebanyak 99 kali, tetapi mereka mampu mencuri bola (steals) hingga 72 kali dari seluruh pertandingan atau kedua terbanyak dalam kejuaraan kali ini. Ikatan kuat di antara pemainlah yang menjadi fondasi utama tim untuk meraih juara.

“Kecocokan yang kuat seperti tim inilah yang membawa kami mengambil risiko lebih tinggi dan melewati batas,” demikian ucap pelatih Spanyol, Sergio Scariolo, setelah membawa pulang piala dunia.

Pembuktian Rubio

Masih ingat, kan, bagaimana kisah Rubio yang sempat menjadi bahan olok-olok usai dipermainkan Harden? Siapa sangka dalam turnamen FIBA World Cup 2019 ini ia justru terpilih menjadi Most Valuable Player (MVP)?

Catatan statistik Rubio sebenarnya tidak terlalu istimewa. Dari delapan laga, ia hanya membuat rerata poin 16,4 setiap pertandingan. Total poinnya berjumlah 131 dan masih berada di bawah perolehan lima orang lainnya.

Rubio pada dasarnya merupakan point guard klasik yang tidak punya banyak kemampuan mencetak angka ataupun menerobos pertahanan tim lawan.

Pernah suatu ketika dia berhasil mencetak 30 angka saat melawan Portland Trail Blazers. Hal tersebut bahkan sampai membuat pelatih Jazz, Quin Snyder, terheran-heran. Quin menganggap saat itu Rubio tidak seperti dirinya sendiri.

“Siapa itu?” ucap Quin seperti dilansir The Ringer pada 2017. “Saya kira kami mendapatkan point guard yang mengutamakan operan.”



Hingga akhir turnamen, Spanyol hanya berhasil mencetak 675 poin. Jumlah tersebut masih lebih rendah dibanding AS yang gugur dua fase sebelum final, yaitu 688 poin. Ada pun Rubio mencatatkan kegemilangannya saat Spanyol berjumpa Argentina di partai puncak dengan mencetak 20 poin.

Selain menjadi pencetak angka terbanyak di laga itu, Rubio juga memimpin perolehan poin perseorangan di tim Spanyol. Selain itu, ia juga berhasil membuat 48 assists dari total 182 assists, yang dicetak tim Spanyol secara keseluruhan.

Keberhasilan Rubio menggondol MVP turut membuat Kobe Bryant menyelamatinya. Melalui akun Twitter pribadinya, @kobebryant, ia menulis: "Final yang luar biasa. Kamu pantas mendapatkannya @rickyrubio9!! Selamat di tahun yang istimewa ini. Melihatmu berkembang sangat luar biasa. Terus maju MVP."

Rubio membuktikan bagaimana olok-olok tidak semestinya menjatuhkan mental seseorang. Ia bukan hanya bangkit dan membawa Spanyol menjadi juara, tapi juga sukses meraih MVP di FIBA World Cup 2019, sebagaimana Harden juga menyabet penghargaan MVP di NBA.

Baca juga artikel terkait NBA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Mild Report)

Reporter: Felix Nathaniel
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight