Petikan Musik Surgawi di Festival Batara Endah Sora

Penulis: Zulkifli Songyanan, tirto.id - 3 Nov 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Festival Batara Sora Endah: Instrumen dari Sorga merupakan pertunjukan 5 alat musik petik Indonesia yang diadakan di Museum Multatuli, Rangkasbitung.
tirto.id - Sabtu malam, 22 Oktober 2022, pelataran Museum Multatuli Rangkasbitung diubah menjadi panggung pertunjukan. Bukan panggung besar, tentu saja, hanya panggung sederhana dari level setinggi 40 sentimeter dan luas 3x2 meter, dibungkus kain hitam. Empat bilah kayu menyangga beberapa bilah kayu lain di bagian atas—yang bersambungan sedemikian rupa menyerupai kerangka rumah atau tenda—dengan sehelai kain putih sebagai atap atau naungannya.

Lewat pukul 19.00, dalam guyuran lighting warna jingga, Ilham Nurwansyah bersila di sisi kanan panggung, menghadap penonton, dengan kecapi di depannya. Sedangkan agak ke tengah, Rizal khidmat menembangkan rajah.

Penampilan kedua urang Cianjur itu mengawali pertunjukan Festival Batara Sora Endah: Instrumen dari Sorga, pertunjukan 5 alat musik petik Indonesia. Sebelum pertunjukan, siang harinya, seminar “Instrumen dari Sorga” dan diskusi “Batara Endah Sora” digelar di lokasi yang sama. Ilham Nurwansyah, filolog dan peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, adalah salah satu pembicara.

Menurut Endin Saparudin, pendiri sekaligus ketua Komunitas Aing, pertunjukan malam itu tak ubahnya sebuah etalase. Dua bulan sebelum festival digelar, lima anak muda dari Jawa Barat dan Banten melakukan residensi di kediaman Ayah Anirah di Kadu Gede, Baduy Luar, mempelajari kacapi buhun. Dua peserta berasal dari Baduy, yakni Andri dan Aja, sedangkan tiga peserta lain berasal dari luar Baduy, yakni Susmita Afriyani (Malingping, Lebak), Recky Hutama (Tasikmalaya), dan Hady Prastya (Gunung Halu, Bandung Barat).

“Pertunjukan ini dimaksudkan untuk menunjukkan hasil berproses mereka bersama Ayah Anirah. Selain belajar memetik kacapi buhun, beberapa peserta malah belajar juga cara membuatnya, di samping belajar cara hidup ala masyarakat Baduy,” ungkap Endin.

Selain kacapi buhun, alat musik petik lain yang malam itu dimainkan adalah sapeh, kulcapi, setar, dan sasando. Setelah tampil sendiri-sendiri, para pemain kelima alat musik itu menampilkan pertunjukan bersama.

"Kami padukan pertunjukan lima alat musik petik yang berbeda dari berbagai daerah untuk menampilkan kekayaan alat musik Nusantara dalam satu panggung yang sama," pungkas Endin, novelis cum mahasiswa doktoral Universitas Indonesia, yang lebih dikenal dengan nama panggung Niduparas Erlang.

Ritmis dan Harmonis

Setelah Kang Jamal (perwakilan orang tua peserta residensi) dan Ubaidillah Muchtar (Kepala Museum Multatuli) memberi sambutan, mata dan telinga penonton tertuju kepada Ki Pantun Ayah Anirah. Duduk di panggung kecil sebelah kiri panggung utama, Ayah Anirah meletakkan kacapi buhun pada paha dan betisnya, sebelum memainkan alat musik tradisional itu selama enam menitan.

Jentrengan yang dihasilkan petikan Ayah Anirah terdengar konstan dengan tempo yang makin ke sini makin cepat. Meski sekilas terlihat sederhana, penampilan Ayah Anirah menorehkan kesan di benak penonton.

“Bisa menyaksikan penampilan Ayah Anirah adalah pengalaman berharga. Untuk melihat pertunjukan kacapi buhun memang harus langsung ke Baduy, itu pun ada waktunya. Jika dimainkan di luar waktu yang seharusnya, seperti malam ini, Ayah Anirah hanya bisa main instrumental tanpa melantunkan syair,” ungkap Hilman Ahmad Hidayat, penonton yang sengaja datang bersama istrinya dari Cawang, Jakarta.

Berikutnya, di panggung kecil sebelah kanan panggung utama, Florentini Deliana Winki berdiri. Mahasiswi Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti asal Kalimantan Barat ini mendekap sapeh, “gitar lokal” masyarakat Dayak, membawakan satu lagu bikinannya. Mata penonton kemudian kembali fokus ke panggung kecil di sisi kiri panggung, kali ini buat menyaksikan Ramanta Alkaro Sinulingga memainkan kulcapi, alat musik tradisional dari Sumatera Utara, yang juga menyerupai gitar.

Menurut Deliana, sapeh lazim dimainkan masyarakat Dayak dalam sejumlah situasi, mulai dari upacara pernikahan, musik pengiring tarian atau sansangan, hingga prosesi pemakaman. Pendek kata, selain pada momen ritual, alat musik ini juga berfungsi sebagi hiburan.

“Sekarang, sapeh juga bisa dimainkan untuk semua jenis lagu: pop, dangdut, malah lagu-lagu luar juga bisa, tanpa kehilangan sentuhan tradisionalnya,” ungkap Deliana pada sesi diskusi “Batara Endah Sora” yang berlangsung sore hari.

Infografik Memetik Nusantara
Infografik Memetik Nusantara. tirto.id/Fuad


Senada dengan Deliana, Ramanta juga menyebut kalcapi sebagai alat musik ritual yang biasa dimainkan di sekitar sungai untuk pengobatan dan menghaturkan syukur kepada Tuhan. Kini, seiring perubahan zaman, kalcapi bisa dimainkan kapan dan di mana saja, untuk musik apa saja.

“Apalagi setelah para akademisi meneliti kalcapi, alat musik ini jadi sering dipanggungkan di mana-mana.”

Ketika Endah Sulistyorini mendapat giliran dan memilih duduk di panggung utama, suasana di pelataran Museum Multatuli Kabupaten Lebak mendadak berubah menjadi lebih mirip suasana di pelataran keraton Mataram atau di pusat-pusat perbelanjaan di Yogyakarta.

Betapa tidak, Endah memainkan siter, alat musik yang identik dengan gamelan Jawa. Nada demi nada yang berdentingan dari jemari Endah memang mudah mengingatkan penonton pada musik keraton: lembut, lamban, sesekali melengking (malah terdengar magis), tapi bagi beberapa orang malah bikin betah dan membuai. Bentuk siter mirip kecapi. Bedanya, jika kecapi dimainkan secara horizontal, siter secara vertikal.

Pertunjukan yang mulanya terasa hangat tapi sekaligus asing bagi penonton itu—sebab lagu yang dibawakan para penampil tidak karib di telinga—menjadi sepenuhnya hangat dan lebur setelah duo Berto Pah dan John Pah membawakan lagu "Tanah Airku" dengan sasando, alat musik dari Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Diakui atau tidak, bagi penonton yang tumbuh remaja di awal tahun 2000-an, menyaksikan Berto dan John Pah memetik dawai-dawai sasando cukup mengingatkan mereka pada penampilan Maya Hasan dengan harpanya. Benar-benar menawan. Sasando dan harpa memang dimainkan dengan cara yang sama, bahkan nada-nada yang dihasilkan keduanya juga terdengar tiada berbeda, sekalipun ukuran harpa lebih besar.

Penampilan Berto dan John membuktikan keterangan Deliana dan Ramanta bahwa alat musik tradisional adaptif—bahkan tidak kalah merdu—dengan alat musik modern, termasuk dengan orkestra sekalipun.

Kesan di atas mengemuka setelah petikan jemari Berto dan John mengeluarkan beragam bunyi yang demikian ritmis dan harmonis. Jika kamu menutup mata, tidak salah-salah amat kalau kamu menduga bahwa bunyi-bunyian itu muncul dari harpa, piano, gitar, bahkan kajon sekaligus (iya, John beberapa kali menepuk leher sasando, tidak hanya memetik dawainya).

Tiba di lagu "Sempurna" karya Andra and The Backbone, para penonton bernyanyi bersama, mengiringi permainan Berto dan John. Di momen ini, bunyi yang dihasilkan sasando tak kalah memukau ketimbang petikan gitar Andra dan Stevie Item di versi aslinya, petikan yang begitu lincah dan familiar di telinga penikmat musik Indonesia.

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan menarik lainnya Zulkifli Songyanan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Zulkifli Songyanan
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight