Pernikahan Antar-Ras yang Berperan Mengubah Peradaban

Richard P. Loving dan istrinya, Mildred (26/1/65). FOTO/AP
Oleh: Eddward S Kennedy - 22 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Mereka berbeda ras, mereka saling mencintai. Mereka pun mengubah dunia di sekitarnya.
tirto.id - Pada Selasa (18/12/2018), ramai diberitakan seorang pemuda asal Muntilan, Magelang, bernama Karna Radheya (26 tahun), menikah dengan Polly Alexandria Robinson (21 tahun), perempuan berkewarganegaraan Inggris Raya. Sebagaimana lazimnya, pemberitaan tersebut dikemas dengan ketakjuban yang menyiratkan inferioritas rasial.

Pada akun Instagram Polly, @pollyoddsocks, tampaknya kedua sejoli tersebut telah menjalin hubungan asmara selama kurang lebih satu tahun. Sebermula dipertemukan di Bali, mereka akhirnya memutuskan untuk mengikat janji pernikahan dengan resepsi sederhana di kediaman Karna di Dusun Gaten, Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Magelang.

Tiga tahun lalu, pernikahan antara laki-laki Indonesia dengan perempuan berkewarganegaraan asing juga terjadi. Bayu Kumbara, seorang tour guide asal Padang, menikah dengan Jennifer Brocklehurst, perempuan yang juga berasal dari Inggris Raya. Keduanya bertemu ketika Jennifer tengah berwisata dan menggunakan jasa Bayu. Kini, keduanya masih bersama dan telah memiliki seorang anak bernama Olivia.

Narasi pemberitaan Bayu-Jennifer dan Karna-Polly pun tak jauh berbeda: inferioritas rasial. Mentalitas inferior—atau dalam istilah akademik disebut Inferiority Complex Syndrome—ini tidak hanya tampak dalam berbagai berita pernikahan antara warga lokal Indonesia dengan “bule”—yang selalu distereotipkan menarik secara fisik, mapan dalam ekonomi, dan unggul untuk urusan intelektualitas—tapi nyaris dalam segala hal.

Sebatas itukah nilai positif yang bisa didapat dari pernikahan antar-ras (interracial marriage)? Tentu saja tidak. Sejarah mencatat, ada beberapa pernikahan antar-ras yang tidak hanya menyuguhkan kisah cinta yang romantis, tetapi juga mampu mengubah fondasi suatu peradaban.

Beberapa Pernikahan Antar-ras yang Menggemparkan


Pada medio 1940-an, ada seorang laki-laki bernama Seretse Khama. Dia adalah pangeran suku Bamangwato, suatu suku yang mendiami daerah Bechuanaland—sebuah wilayah pendudukan Inggris yang terletak di Afrika Selatan.

Seretse dipersiapkan sebagai calon pemimpin suku tersebut, sebab itu ia pun dikirim ke Oxford University di Inggris oleh pamannya, Tshekedi Khama, untuk belajar ilmu hukum. Kelak, keluarganya pun telah memilihkan seorang istri untuk dinikahi Seretse seusai ia menamatkan studinya di Inggris.

Namun, selama di sana Seretse justru kesengsem perempuan kulit putih kelahiran Blackheath, tenggara London, bernama Ruth Williams. Ia bekerja sebagai juru tulis di perusahaan asuransi Lloyd. Ayah Ruth, namanya George, seorang mantan tentara yang kemudian bekerja di bidang perdagangan teh.

Seretse dan Ruth bertemu dalam sebuah acara pesta dansa besutan London Missionary Society pada 1947. Ketika itu Ruth diajak saudara perempuannya, Muriel. Seretse segera terpana melihat kecantikan Ruth untuk kali pertama. Ia pun membesarkan nyali untuk mengajak perempuan itu berdansa menikmati alunan musik jazz yang ternyata juga sama-sama mereka sukai.

Kurang lebih setahun kemudian, Seretse akhirnya menyelesaikan studinya. Seharusnya ia segera pulang ke rumah, tapi jatuh cinta membuatnya berubah pikiran: pada usianya yang ke-27 saat itu, Seretse ingin menikahi Ruth yang tiga tahun lebih muda darinya.

Seretse sengaja tidak meminta restu pamannya karena tahu pasti akan ditolak. Berbeda dengan calon suaminya, Ruth masih berusaha meminta izin ayahnya, kendati kemudian juga melarang perrnikahan tersebut. Alasannya: Seretse adalah pria kulit hitam.

Karena saat itu politik apartheid masih kuat, George mengingatkan anaknya tentang risiko dan tantangan yang akan mereka hadapi. Besar kemungkinan pemerintah Inggris akan menekannya karena pernikahan beda ras tersebut dapat menimbulkan krisis konstitusional di Negara Persemakmuran Inggris dan kelak berujung pada keruntuhan kerajaan Inggris di Afrika.

Namun, apa boleh bikin, pasangan tersebut sudah kadung dimabuk asmara. Maka, seperti Seretse, Ruth pun memilih mengabaikan larangan sang ayah.

Benar saja, tak hanya pihak Inggris yang menentang pernikahan mereka, suku Bamangwato dari keluarga Seretse pun bersikap sama. Bahkan mereka akhirnya bekerja sama untuk mendesak Seretse memilih di antara dua opsi: menceraikan Ruth atau keluar dari sukunya dan meninggalkan Bechuanaland.

Lagi-lagi, Seretse dan Ruth ogah kompromi. Api cinta di antara pasangan ini kelewat besar, mereka pun diasingkan.

Paman Seretse terus mendesak Kantor Kolonial agar kedua insan tersebut dipisah paksa. Bahkan, ia juga mengancam pendeta yang sedianya akan menikahkan Seretse dan Ruth. Kendati pemberkatan dari pendeta memang tak dilangsungkan, namun Seretse dan Ruth berhasil mencatatkan pernikahan mereka di kantor catatan sipil.

Setahun berada dalam pengasingan, Seretse dan Ruth mengira konflik sudah mereda. Mereka pun memberanikan diri kembali ke Bechuanaland. Perkiraan itu salah, Tshekedi, sang paman, masih marah besar dan mengumpulkan para tetua suku dalam sebuah rapat akbar. Keputusannya: mereka tetap menentang pernikahan tersebut dan Ruth tidak akan diakui sebagai ratu.

Satu hal yang dilupakan Tshekedi dan para tetua lain adalah: Seretse, walau bagaimanapun, tetaplah seorang calon pangeran yang juga punya pengikut fanatik. Suara-suara yang mendukung pernikahan Seretse dan Ruth mulai bermunculan. Selain itu, mereka juga turut menyerang Tshekedi yang dinilai tengah berpolitik demi memuluskan dirinya menjadi raja. Sebagian lain berpikir Tshekedi hanyalah orang yang konservatif dan terperangkap dalam cara pandang kuno.

Perang dingin antara kubu Seretse dan Tshekedi pun berlangsung hingga berbulan-bulan. Sepanjang itu pula terus terjadi rapat akbar guna mencari jawaban bersama. Akhirnya, pada rapat terakhir yang dihadiri sekitar 9.000 orang, hanya 40 orang yang keberatan Seretse dan Ruth menjadi pasangan raja dan ratu. Hanya saja, suara mayoritas suku tersebut tidak digubris oleh pemerintah Inggris maupun Afrika Selatan masih menganggap bahwa pernikahan Seretse dan Ruth melanggar hukum ras.

Saat Ruth hamil, perdana menteri Inggris meminta Seretse datang ke London untuk bertemu dengannya di Kantor Persemakmuran, sementara istrinya tetap diminta tinggal di Bechaunaland. Ketika tiba di tujuan, perdana menteri mendesak Seretse agar meletakkan semua hak kepemimpinannya sebagai kepala suku. Ia pun segera menyadari bahwa undangan tersebut jebakan belaka.

Seretse menolak. Akibatnya, ia dihukum tidak boleh kembali ke tanah airnya selama lima tahun. Kabar ini sontak menyita perhatian masyarakat, baik di Inggris maupun Afrika Selatan. Pendukung politik Seretse bahkan sampai membentuk komite untuk menangani kasus ini.

Pada 1956, para pemimpin suku Bamangwato mengirimkan telegram ke ratu Inggris dan meminta agar Seretse diizinkan pulang. Permintaan tersebut dipenuhi. Setibanya di Tanah Air, Seretse menyerahkan semua haknya atas tahta kepala suku, lalu berinisiatif menggelar pemilihan umum.

Hasilnya: ia terpilih sebagai presiden pertama dari sebuah negara yang kemudian bernama Botswana dan menjabat sepanjang 1966-1980.

Seretse meninggal tepat di pelukan Ruth pada tahun 1980, ketika usianya 50 tahun, sementara Ruth menghembuskan napas terakhir pada 2002 di usia 78 tahun. Dari pernikahan mereka, Seretse dan Ruth memiliki seorang putri dan tiga putra. Anak pertama Seretse dan Ruth, Ian Khama, bahkan juga terpilih menjadi presiden keempat Botswana menggantikan Festus Mogae.



Dalam waktu yang sebetulnya tidak berbeda jauh, di Amerika juga ada kisah pernikahan antar-ras yang penuh perjuangan serta berhasil melahirkan narasi baru peradaban. Pernikahan yang dimaksud adalah antara laki-laki kulit putih bernama Richard Loving dan Mildred Jeter, perempuan berkulit hitam, pada tahun 1958. Kengototan keduanya untuk menikah berhasil membuat AS menghilangkan aturan yang melarang pernikahan antar-ras di seluruh negara bagian.

Mundur ratusan tahun sebelumnya, ada pernikahan Gonzalo Guerrero dan Zazil Ha (sekitar tahun 1500-an) yang tak kalah bersejarahnya. Guerrero adalah serdadu Spanyol yang terdampar di semenanjung Peninsula ketika kapal pasukan Spanyol tenggelam. Dia diculik oleh Suku Maya lalu dijadikan budak. Tapi dengan kemampuannya yang cepat memahami bahasa dan kultur Maya, sekaligus berinisiatif mengajarkan taktik perang bangsa Spanyol, kelak Guerrero justru menjadi salah satu raja di sana usai mengajarkan taktik perang bangsa Spanyol.

Guerrero kemudian menikahi Zazil Ha, anak perempuan dari salah satu tetua adat dan melahirkan tiga anak. Anak pertama mereka konon dianggap sebagai anak pertama yang merupakan Mestizo—istilah untuk percampuran antara ras Spanyol dengan suku asli Amerika (Native-American)—di Meksiko.

Beberapa kisah pernikahan antar-ras yang berhasil mengubah fondasi peradaban seperti di atas memberi suatu pelajaran penting: inferioritas rasial adalah omong kosong.

Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight