Perempuan, Jangan Membebek Norma demi Disukai Laki-Laki

Oleh: Yulaika Ramadhani - 22 Oktober 2017
Dibaca Normal 2 menit
Kata penelitian, laki-laki kini menyukai perempuan yang tidak biasa-biasa saja.
tirto.id - Well-behaved women seldom make history.

Anda mungkin pernah membaca kalimat itu sebagai ucapan pesohor terkenal 1950-an Marilyn Monroe. Tapi bukan. Kalimat itu adalah milik Laurel Thatcher Ulrich yang ia pakai dalam paper ilmiahnya (1976) dan menjadi judul bukunya pada 2007.

Dalam buku ini, Ulrich berkisah tentang sederet kaum perempuan berani, berdaya, dan bertindak dalam cara yang tak biasa. Ada Christine de Pizan perempuan Perancis abad ke-15 yang menulis biografi banyak perempuan dalam The City of Ladies, Cady Stanton yang memperjuangkan hak politik perempuan di abad ke-19, serta Virginia Woolf, novelis yang hidup di abad ke-20.

Di luar perempuan-perempuan yang ditulis Ulrich, ada pula kisah Amantine Lucile Aurore Dupin, atau lebih dikenal dengan nama pena George Sand, novelis Perancis yang juga seorang sosialis. Sand mengejutkan masyarakat di zamannya dengan mengenakan pakaian laki-laki di depan umum. Sebagai seorang sosialis, dia juga berani memulai surat kabar sendiri yang diterbitkan di koperasi pekerja.

Selain Sand, kita juga mengenal Amelia Earhart, perempuan pertama yang pernah terbang melintasi Atlantik pada 1932, setelah penerbangan solonya dari Hawaii ke California. Sebelumnya, Earhart kerja serabutan, menjadi fotografer lepas sampai melakukan "pekerjaan laki-laki" lainnya: mengemudi truk. Ia akhirnya bisa mengumpulkan uang sebanyak 1.000 dolar yang dipakainya untuk ikut kursus penerbangan di Kinner Field.

"Saya menyadari bahaya dari apa yang saya lakukan. Saya ingin melakukannya karena saya ingin melakukannya. Perempuan harus mencoba melakukan hal-hal seperti yang telah dicoba laki-laki. Ketika mereka gagal, kegagalan mereka harus menjadi tantangan dan batu loncatan untuk orang lain," kata Amelia Earhart.

Baca juga: 80 Tahun Pencarian Jawaban Misteri Amelia Earhart

Karakter tidak biasa seperti dicontohkan beberapa nama di atas sebenarnya bisa dimiliki setiap perempuan. Namun, potensi itu kerap tenggelam karena umumnya perempuan harus menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat di sekitarnya: berada di sektor domestik, tidak menonjolkan diri, dan jadi "perempuan baik-baik". Pendeknya, perempuan kerap dibonsai sesuai definisi "perempuan baik-baik" menurut masyarakat, sebab mereka bisa didiskreditkan jika berlaku sebaliknya.

Ancaman agar perempuan ikut norma bisa berupa banyak bentuk, dari mulai kecaman hingga pengucilan. Atau, Anda ditakut-takuti: "Kalau kau tidak jaga kelakuanmu, tak ada laki-laki yang mau denganmu."

Tentu saja ancaman dalam bentuk kalimat semacam itu bisa dikritik dari berbagai segi. Kalimat itu mengandaikan perempuan tidak bisa berdiri sebagai manusia, selain menyiratkan heteronormativitas. Namun, di luar dua hal tadi, ada hal sederhana yang juga patut dipertanyakan: Benarkah laki-laki menyukai "perempuan baik-baik"?

Baca juga: Kartika Jahja dan Yacko Bicara Masalah Perempuan di Dunia Musik

Matthew J. Hornsey, profesor psikologi di University of Queensland di Australia, mencari jawaban atas pertanyaan itu.

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, Hornsey dan tim peneliti melakukan serangkaian percobaan yang dirancang untuk mengetahui bagaimana laki-laki dan perempuan heteroseksual memilih pasangan. Penelitian ini kemudian dipublikasikan di Personality and Social Psychology Journal pada 2015.

Hasil penelitian berjudul "A Critical Test of the Assumption That Men Prefer Conformist Women and Women Prefer Nonconformist Men" ini menemukan mayoritas peserta perempuan memang menganggap laki-laki non-konformis lebih menarik daripada tipe konformis dan patuh. Ternyata, begitu pula sebaliknya: laki-laki lebih menyukai perempuan yang non-konformis.

Dalam satu percobaan, laki-laki dan perempuan diminta membaca profil dua akun yang menunjukkan sifat konformis dan non-konformis: Amy dan Jess.

Pernyataan dalam profil Amy berbunyi: "Amy selalu suka bergaul dengan keluarga dan teman-temannya, ia juga suka menjadi bagian dari kelompok ini. Amy sangat senang bisa mengikuti apa yang sedang dilakukan orang lain."

Sebagai pembanding, ditunjukkan juga profil akun perempuan bernama Jess. “Jess cenderung menonjol di keramaian. Ia berani mengekspresikan pendapat berbeda dari teman-temannya, dan juga piawai membuat keputusan untuk dirinya sendiri."

Kebanyakan perempuan berpikir Amy yang patuh dan tidak rumit akan lebih menonjol dan lebih dipilih laki-laki dibandingkan dengan Jess. Namun, mereka salah. Laki-laki ternyata lebih menyukai Jess.

Dalam eksperimen lain, ketika laki-laki dan perempuan dilibatkan dalam obrolan online tentang preferensi seni, peserta laki-laki ternyata lebih menyukai perempuan yang lebih sering tidak setuju dengan pendapat kelompok tersebut dibanding yang selalu bersepakat.

Maka, Hornsey pun berkesimpulan: pernyataan ‘laki-laki lebih suka perempuan patuh dan konformis’ ternyata tidak selamanya benar.

"Stereotip gender kuno yang menyatakan bahwa laki-laki mencari perempuan yang konformis dan patuh, telah perlahan hilang," kata Hornsey.

infografik kamu tuh unik


Hornsey juga menyatakan ketertarikan orang terhadap perempuan yang tidak peduli jam malam dan berani keluar malam. Menurutnya, perempuan macam ini punya daya tariknya sendiri. Mereka menyadari bahwa mereka berani dan merasa bisa menjaga dirinya sendiri tanpa laki-laki di sekitarnya.

“Mengapa kamu menyimpan karakter bagus ini [mandiri dan berani tanpa penjagaan dari laki-laki] untuk dirimu sendiri? Laki-laki akan menyukainya!” lanjut Hornsey.

Hal ini disepakati juga oleh Matthew Hutson. Ia menulis, “Perempuan maupun laki-laki cenderung menyukai pasangan yang bersikap ‘tidak biasa-biasa saja’, baik dalam pilihan berpakaian, berpendapat, maupun dalam caranya menjalani kehidupan."

Baca juga: Hierarki Perempuan di Tanah Mama

Anda ingat perdana menteri fenomenal dari Inggris Raya, Margaret Thatcher?

Anda boleh tidak menyukainya untuk alasan politik atau ideologis atau kemanusiaan, tapi apa yang pernah dikatakannya relevan dalam perkara ini: "Jika Anda memulai sesuatu demi disukai [orang], Anda akan berkompromi dalam segala hal setiap saat, dan tidak akan mencapai apa pun."

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Maulida Sri Handayani