Perebutan Kursi Ketua Umum Golkar Menyeret Nama Jokowi

Oleh: Felix Nathaniel - 3 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Dukungan dari Jokowi dinilai penting untuk memperkuat posisi Bamsoet atau Airlangga, terutama di mata kader akar rumput.
tirto.id - Persaingan antara Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo dalam memperebutkan kursi Ketua Umum Golkar terus berlanjut, dan bahkan menyeret-nyeret nama Presiden Joko Widodo.

Airlangga hingga kini masih menjabat ketua umum, tapi dia dianggap tidak becus oleh politikus senior Golkar Yorrys Raweyai. Lantas nama Bambang Soesatyo, yang kerap disapa Bamsoet, dimunculkan. Saat ini Bamsoet menjabat Ketua DPR.

Nama Jokowi muncul ketika dua hari lalu (1/6/2019) Airlangga memboyong 34 DPD Partai Golkar ke Istana Bogor untuk bertemu bekas Wali Kota Solo tersebut. Airlangga mengakui salah satu tema pembicaraan mereka adalah soal dinamika Golkar.

Menteri Perindustrian itu memastikan tak ada Musyawarah Nasional Luar Biasa (munaslub) Golkar sebelum Desember 2019--jadwal resmi Musyawarah Nasional (munas) yang salah satu agendanya adalah suksesi kepemimpinan. Ini ia utarakan untuk menepis isu DPD I Golkar meminta penyelenggaraan Munaslub dalam rangka mengganti Airlangga dengan Bamsoet.

"Beliau [Jokowi] mengharapkan kepemimpinan Golkar ke depan diperkuat," ujar Airlangga.

Ketua Bidang Ormas DPP Golkar, Sabil Rachman, menilai pertemuan ini menunjukkan sikap Jokowi mengakui Golkar berkontribusi dalam memenangkannya pada Pilpres 2019. Sabil juga menilai gestur Jokowi saat bersama Airlangga terlihat nyaman. Hal itu, katanya berspekulasi, adalah isyarat Jokowi memberikan dukungan terhadap Airlangga untuk memimpin kembali Golkar.

"Pertemuan itu sarat bahasa simbolik yang tidak sulit untuk dibaca. Sebuah pembelajaran yang sangat penting," kata Sabil.


Bambang Soesatyo lantas menanggapi santai pertemuan ini. Menurutnya, apa yang dilakukan Airlangga wajar belaka.

"Itu bukan manuver. Itu hal wajar bagi seorang ketua umum membawa para ketua DPD. Itu membuat DPD bangga dipertemukan dengan Presiden," kata pemilik mobil listrik Tesla itu, Selasa (2/7/2019) kemarin. "Bagi teman-teman daerah suatu kebanggaan... dipertemukan oleh orang yang mereka perjuangkan di Pilpres."


Sementara Yorrys Raweyai merespons pertemuan itu dengan mengatakan, Bamsoet sebagaimana Airlangga, juga dekat dengan Jokowi.

"Posisinya sebagai Ketua DPR, kurang dekat apalagi?" kata Yorrys kepada reporter Tirto, Selasa (2/7/2019).

Pengaruh Dukungan Jokowi


Pendiri lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio menilai Airlangga dan Bamsoet memang tengah berebut dukungan Jokowi, dan tidak ada yang salah dari itu. Dukungan dari seorang kepala negara penting untuk memperkuat posisi keduanya di mata kader partai lain, terutama di mata 'akar rumput'.

"Buat Golkar, dukungan penguasa itu penting. Kan, Golkar dicitrakan partai pengikut penguasa," tegas Hendri kepada reporter Tirto.


Sedangkan Direktur Indonesia Political Review Ujang Komarudin menilai siapa pun yang nanti terpilih, Golkar akan tetap ada di barisan petahana. "Tidak ada sejarahnya Golkar menjadi oposisi," ujarnya kepada reporter Tirto.

Tentu saja ini menguntungkan Jokowi yang pernah bilang dia sudah tak punya beban lagi untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Apalagi perolehan suara Golkar mencapai 17.229.789 suara atau setara 12,3 persen. Perolehan suara ini menempatkan mereka di posisi empat partai terbesar di Indonesia.

Jokowi tampaknya tak mau ambil pusing atas semua ribut-ribut di Golkar, setidaknya itu yang dikatakan Airlangga.

Memang Ketua DPP Partai Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini, Ace Hasan Syadzily, mengklaim kalau Jokowi berpesan agar Golkar "memperkuat kepemimpinan yang sekarang"--artinya kepemimpinan Airlangga. Tapi Airlangga sendiri mengatakan kalau Jokowi tidak mau ikut campur soal itu.

"Terkait internal Golkar, Presiden menyerahkan kepada Golkar," aku Airlangga.

===

PEMBERITAHUAN

Pada Kamis (4/7/2019), pukul 09.33 WIB, kami mengubah judul artikel. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan pembaca.

Baca juga artikel terkait MUNAS GOLKAR atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight