Piala Dunia 2018

Perbandingan Strategi Argentina di Era Messi dan Maradona

Oleh: Eddward S Kennedy - 21 Juni 2018
Dibaca Normal 8 menit
Perbandingan antara Argentina 1986 yang diperkuat Maradona dan Argentina 2018 yang diperkuat Lionel Messi.
tirto.id - Kasihan betul Lionel Messi. Labelnya sebagai pesakitan di tanah air sendiri belum juga enyah setelah di laga pembuka Piala Dunia 2018 kontra Islandia ia gagal mengeksekusi penalti. Perbandingannya dengan Diego Maradona kian tak menarik lagi. Sebab dengan melihat bagaimana aksinya bersama timnas sejak awal hingga sekarang, jawabannya nyaris pasti: Messi bukanlah Maradona selanjutnya.

Memang sulit untuk tidak menganggap betapa Messi dan Maradona memiliki kemiripan. Sama-sama pemain kidal, sama-sama berperan sebagai pemain nomor 10, bahkan ada pula dua gol Messi yang nyaris serupa dengan gol yang dicetak Maradona saat Argentia melawan Inggris di perempatfinal Piala Dunia 1986. Tak sedikit pula uraian statistik yang mencoba membandingkan keduanya.

Tapi kemiripan itu hanya ada di atas lapangan. Di luar itu, keduanya adalah pribadi yang sangat bertolak belakang. Hidup mereka, perangai mereka, sikap mereka, semua berbeda 180 derajat. Sebagaimana dikemukakan Cesar Luis Menotti, pelatih legendaris Argentina yang membawa Albiceleste meraih Piala Dunia 1978.

"Diego lebih memiliki jiwa pemberontak ketimbang Messi. Ketika sesuatu tidak sesuai dengan pandangannya, dia akan marah kepada dirinya sendiri. Rekan setim yang sangat suportif. Dia datang dari lingkungan yang berbeda dengan Leo. Diego mengalami lebih banyak kesulitan, tidak hanya di lapangan, tetapi juga dalam kehidupan. Ia lebih mirip seperti seorang petarung. Mereka karakter yang berbeda."


Komentar Menotti betul adanya. Dengan tato Che Guevara di lengan kanan dan kedekatannya dengan para pemimpin sosialis seperti Fidel Castro dan Hugo Chavez, sudah lebih dari cukup menggambarkan bagaimana perangai "rebel" Maradona. Hal tersebut belum ditambah kebiasaannya yang suka main perempuan dan minum-minuman keras, bahkan kokain.

Sedangkan Messi anak baik-baik. Pada usia 14 tahun dia sudah pindah dari rumahnya di Rosario, Argentina, menuju Barcelona untuk sekolah di La Masia dan bermain di klub tersebut hingga sekarang. Rumor kepindahan Messi sempat mencuat pada 2015, tapi hal tersebut dianggap tak lebih dari sekadar pepesan kosong. Jika pun pindah, Messi mengaku hanya ingin melakukannya saat menjelang pensiun untuk kembali ke klub masa kanaknya: Newell’s Old Boy.

Ketika banyak pesepakbola papan atas memiliki gosip miring, hidup Messi pun lurus belaka. Bahkan istrinya saja, Antonella Roccuzzo, adalah sosok wanita yang sudah dikenal Messi sejak usia mereka lima tahun. Sesekali Messi memang sempat bertikai dengan lawan di lapangan, tapi, ya, pesepakbola mana pun juga pernah melakukannya, bukan?

Dari segenap upaya perbandingan tersebut, Messi dan Maradona paling sering diadu kala berseragam timnas. Maradona jelas masih unggul segalanya, mengingat ia pernah meraih Piala Dunia 1986 bersama Argentina.

Namun yang jarang diperlihatkan adalah bagaimana strategi Argentina ketika masing-masing dari mereka (masih) bermain? Pertanyaan ini dirasa penting untuk menjawab apakah keduanya memang "one man team" atau bukan.


Argentina 1986 di Bawah Arahan Carlos Billardo

Pada Piala Dunia 1986, Argentina berada di grup A yang tergolong maut bersama Italia, Bulgaria, dan Korea Selatan. Albiceleste melaju ke babak 16 besar tanpa menderita kekalahan setelah menang lawan Bulgaria (2-0) dan Korea Selatan (3-1), lalu bermain seri dengan Italia (1-1). Di babak 16 besar, mereka bertemu Uruguay dan menang dengan skor tipis 1-0 berkat gol tunggal Pedro Pasculli.

Kisah monumental Argentina terjadi di perempatfinal kala berjumpa dengan Inggris. Dengan ketegangan politik yang terjadi antara kedua negara saat itu, Maradona mencetak dua gol yang kelak akan tercatat sebagai momen paling spektakuler dalam lembaran sejarah sepakbola. Argentina pun menang 2-1 dan melaju ke semifinal untuk bertemu Belgia. Di babak tersebut, Maradona kembali mencetak dua gol untuk kemenangan Albiceleste 2-0.



Dalam laga puncak kontra Jerman Barat, Argentina harus melakoni laga sengit. Keunggulan dua gol lewat Jose Brown (menit 23) dan Jorge Valdano (menit 56), dapat disamakan Jerman Barat melalui Karl-Heinz Rummenigge (menit 74) dan pemain pengganti, Rudi Voeller (menit 81). Namun, cukup berselang tiga menit saja, Argentina kembali membalas lewat sontekan Jorge Burruchaga setelah memanfaatkan umpan terukur Maradona. Argentina pun berhasil menjadi juara dunia untuk kedua kalinya sejak 1978.

Sepanjang dekade 1930-an hingga 1950-an, sepakbola Argentina terobsesi dengan gaya bermain artistik nan elegan. Mereka menyebutnya La Nuestra. Gaya ini pula yang turut dipegang teguh oleh Menotti saat ia membawa Argentina juara pada 1978. Memasuki periode 80-an, La Nuestra perlahan ditinggalkan. Terutama sejak Billardo mulai menangani Albiceleste sejak 1983.

Billardo adalah antitesa total dari Menotti. Jika Menotti adalah seorang libertarian-romantis dan menggemari sisi keindahan sepakbola, Billardo adalah tipikal unapologetic pragmatist yang hanya punya dua pandangan terkait permainan tersebut: menang atau kalah, lain tidak. Untuk melihat lebih jauh bagaimana filosofi dari kedua ideolog sepakbola ini, simak saja komentar mereka masing-masing.

Billardo: "Saya suka menjadi yang pertama. Anda harus memikirkan agar dapat menjadi seperti itu. Sebab menjadi yang kedua adalah kegagalan. Bagi saya, adalah bagus jika Anda merasa kecewa setelah mengalami kekalahan. Jika Anda mau, Anda dapat menangis, menutup diri, merasa sia-sia. Anda tak dapat membiarkan orang-orang bersedih: para suporter, mereka yang telah mendukung Anda, semuanya. Sepakbola adalah untuk dimenangkan. Pertunjukan (artistik) hanya ada di teater."

Menotti: "Seorang pesepakbola adalah penerjemah istimewa dari mimpi dan perasaan ribuan orang. Anda dapat kalah dalam pertandingan, tapi yang tidak mungkin lenyap adalah martabat yang didapat karena memainkan sepakbola indah."


Di Piala Dunia 1986, Billardo menggunakan dua formasi: 4-4-2 berlian (4-3-1-2) dan 3-5-2 (3-5-1-1). 4-4-2 berlian dipakai Billardo sejak babak grup dan 16 besar. Susunan pemainnya antara lain: (K) Nery Pumpido; (B) Jose Luis Brown, Oscar Garre, Nestor Clausen, Oscar Ruggeri; (T) Sergio Batista, Ricardo Giusti, Jorge Burruchaga, Diego Maradona; (D) Pedro Pasculli, Jorge Valdano.

Sedangkan untuk 3-5-2, skuat Billardo menjadi: (K) Nery Pumpido; (B) Jose Luis Brown, Jose Luis Cuciuffo, Oscar Ruggeri; (T) Hector Enrique, Ricardo Giusti, Sergio Batista, Jorge Burruchaga, Julio Olarticoechea; (D) Diego Maradona, Jorge Valdano.

Saat menggunakan 4-4-2 berlian, Billardo menggunakan Brown sebagai defensive libero, sementara Garre diplot sebagai man marker dengan posisi sedikit maju ke depan menemani Batista sebagai gelandang bertahan. Dua gelandang tengah lain diisi Giusti dan Burruchaga. Maradona berperan sebagai pemain nomor 10 dengan kebebasan mutlak. Di depan, Billardo memilih duet Pasculli dan Valdano.

Perubahan strategi Billardo dimulai saat bertemu Inggris di perempatfinal. Ia dengan lugas mendobrak pakem pola empat bek yang selalu nyaris digunakan timnas Argentina. Dahsyatnya lagi, perjudian itu ia lakukan dalam turnamen selevel Piala Dunia. Inilah peninggalan revolusioner Billardo dalam jazirah taktik dunia.

Dalam 3-5-2, Brown masih berperan menjadi defensive libero, namun kini ia “dilindungi” oleh Ruggeri and Cuciuffo yang berpen sebagai stopper dengan tugas menjaga ke mana pun dua striker lawan bergerak. Batista berada di depan mereka sebagai ball-winer, ditemani oleh Olarticoechea yang beroperasi di sisi kiri dengan peran lebih bertahan.

Di sisi kanan, Giusti bermain melebar, sementara Burruchaga diplot sebagai katalis penghubung antara lini tengah dan depan dengan Enrique sebagai deputinya. Di depan, Billardo memilih Maradona sebagai second striker dan Valdano menjadi penyerang tengah.

Billardo menerapkan strategi tersebut dengan dalih yang masuk akal. Ia memberi penjelasan: "Anda tidak dapat bertanding melawan Inggris dengan penyerang murni, mereka akan melahapnya. Tambahan pemain di tengah akan membuat Maradona memiliki lebih banyak ruang."

Dari penjelasan Billardo tersebut, ada kalimat kunci yang dapat ditafsirkan sebagai nukleus strateginya: "Tambahan pemain". Ya, Billardo memang sengaja menambah pasukan demi membentengi Maradona dari berbagai sergapan lawan. Di final, 3-5-2 ala Billardo mendapat lawan sepadan: 3-5-2 Jerman Barat. Maradona juga punya pengawal yang tepat: Lothar Matthaus.


Demi membebaskan diri dari penjagaan ketat Matthaus, Maradona bermain lebih ke dalam. Aliran bola pun dimainkan dengan lebih cepat. Olarticoechea di sisi kiri kini bermain lebih ke depan. Sementara Burruchaga bertugas sebagai gelandang serang di final third. Lewat pendekatan ini, Argentina sukses meraih duga gol di babak pertama lewat gol Brown dan Valdano.

Sadar bahwa Matthaus kewalahan karena harus terus menempel Maradona, pelatih Franz Beckenbauer tidak lagi memberinya tugas tersebut di babak kedua. Jerman pun bermain lebih ofensif lewat sisi sayap yang digalang Felix Magath dan Rummenigge. Strategi itu berhasil membuat Argentina bertahan kendati belum ada gol penyusul. Pada menit ke-62, seiring dengan waktu yang terus mepet, Beckenbauer memasukkan striker Dieter Hoenes untuk menggantikan Magath. Jerman kini bermain dengan 3-4-3 dengan high defensive line.

Pendekatan Beckenbauer mulai memperlihatkan hasilnya setelah Rummenigge mencetak gol pada menit 74. Tujuh menit berselang, giliran Rudi Voeller, yang menggantikan Klaus Allofs sejak awal babak kedua, menyarangkan bola ke gawang Pumpido memanfaatkan sepak pojok. Skor pun menjadi imbang 2-2.

Namun cukup tiga menit saja skor itu bertahan. Pada menit 84, Maradona yang melihat Burruchaga dalam posisi lowong di sisi kanan, memberikan umpan terobosan terukur. Lini belakang Jerman kala itu tengah naik dan hanya meninggalkan Hans Peter Briegel sendirian di belakang, tak sanggup mengejar sprint Burruchaga. Lewat sontekan datar ke pojok gawang Harald Schumacher. Skor berubah menjadi 3-2 dan bertahan hingga babak usai. Argentina pun menjadi juara dunia untuk kedua kalinya.


Terlepas dari taktik jitu yang dibangun Billardo, sukar untuk tidak menganggap pencapaian Argentina pada 1986 adalah hasil dari pertunjukan seorang Mardona. Ia pun menjadi terpilih sebagai Pemain Terbaik dalam turnamen tersebut. Dan ingat gol solo run yang ia cetak setelah melewati enam pemain Inggris di perempatfinal? Itulah gol terbaik abad ini.

Saat itu Billardo mendapat kritikan karena dianggap terlalu mempercayai Maradona. Tapi ia tak peduli dan terus melaju dengan pendiriannya. Maradona pun menyadari hal tersebut. Maka ketika Argentina merayakan keberhasilan mereka, Maradona, sambil bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk putih di lehernya, ia mengungkapkan isi kepala dan dadanya dengan lantang di hadapan para jurnalis dan kamerawan:

"Piala ini kami persembahkan kepada kalian, bahkan juga untuk para pelacur-pelacur yang telah melahirkan kalian!"

Yang Perlu Dilakukan Sampaoli untuk Messi

Melihat apa yang terjadi pada Argentina 1986 dan kemiripan antara Messi dan Maradona, pertanyaannya adalah: perlukah Messi juga dibuatkan tim khusus?

Argentina, suka atau tidak, memang bergantung dengan Messi. Salah satu contoh terbaik ketergantungan tersebut dapat dilihat dalam laga kontra Ekuador di babak kualifikasi Piala Dunia 2018, di Stadion Atahualpa, Quito, pada Rabu (11/10/2017). Berkat trigol Messi, Argentina berhasil menang 3-1 dan dipastikan lolos ke putaran final Piala Dunia 2018.

Sementara ketika Messi tak bermain, Spanyol pernah membantai mereka 6-1 dalam laga persahabatan yang digelar di stadion Wanda Metropolitano akhir Maret lalu itu. Gawang Albiceleste diberondong hattrick Isco, sementara tiga gol lain dicetak Diego Costa, Thiago Alcantara, serta Iago Aspas.

Jorge Sampaoli, pelatih Argentina di Piala Dunia 2018 saat ini, memang membangun tim untuk Messi. Demi sempurnanya rencana tersebut, ia pun kerap melakukan eksperimen formasi di berbagai laga persahabatan. Mulai dari 3-4-3, 3-4-2-1, 4-2-3-1 atau formasi langka seperti 2-3-3-2 dan 3-3-3-1. Saat melakoni laga persahabatan kontra Singapura pada 2017 lalu, Sampaoli juga mencoba eksperimen aneh lainnya dengan menggunakan formasi 2-3-4-1.

Bentuk eksperimen lain yang dilakukan Sampaoli demi memaksimalkan potensi Messi juga tampak saat ia menggunakan formasi 3-3-1-3 dalam dua laga persahabatan kontra Nigeria dan Rusia. Dalam dua laga tersebut, Argentina harus menelan kekalahan 2-4 dan menang 1-0.

Formasi 3-3-1-3 tak asing bagi Messi. Di Barcelona, pelatih Pep Guardiola dan Luis Enrique pernah beberapa kali pernah menggunakan formasi tersebut. Secara teori, formasi ini menempatkan Messi sebagai pemain nomor 10 murni yang diberi kebebasan mutlak, sementara para pemain tengah dan depan mengelilinginya dengan membentuk pola berlian. Dengan demikian, terjadi kerapatan antar lini yang berfungsi sebagai "pagar" bagi Messi.


Namun, jika saat digunakan Barca formasi 3-3-1-3 kerap berujung dengan hasil positif, tidak demikian ketika Sampaoli menerapkannya bersama timnas Argentina. 3-3-1-3 ala Sampaoli justru kerap menyembulkan celah besar di lini tengah karena pergerakan Messi yang secara intens lebih sering bergerak ke depan tidak diikuti para pemain yang ditugasi untuk memagari dirinya.

Dalam laga persahabatan melawan Haiti akhir Mei 2018 lalu, Sampaoli sempat mencoba formasi lain, yakni 4-4-2 sejajar dengan high pressing. Hal ini kurang lebih juga diadaptasi Sampaoli dari Barcelona sejak dilatih Ernesto Valverde, namun tentu dengan pendekatan berbeda.

Jika Valverde memainkan empat gelandang murni tanpa pemain sayap (Andres Iniesta - Sergio Busquets - Paulinho - Ivan Rakitic), Sampaoli menempatkan Angel Di Maria berada di touchline sisi kiri, serta Manuel Lanzini yang diplot di sisi kanan dengan diberi kebebasan melakukan penetrasi jika Eduardo Salvio yang menempati posisi bek kanan Argentina tidak sedang melakukan overlap. Sementara di lini depan, Messi berduet Gonzalo Higuain yang juga berperan sebagai defensive forward untuk melakukan pressing pertama di area pertahanan lawan.

Infografik Maradona vs Messi


Sebagai catatan, Barca memang menjadi acuan utama Sampaoli dalam membangun timnas Argentina yang fokus demi Messi. Hal ini sebetulnya menjadi masalah mengingat sejak kurang lebih dalam 10 tahun terakhir, Argentina tidak memiliki barisan gelandang dengan kemampuan holding ball sebaik triumvirat Sergio Busquets - Andres Iniesta - dan Xavi Hernandez. Tiga metronom yang menjadi motor tiki-taka, taktik yang sejauh ini paling berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik Messi.

Ketergantungan tersebut tidak dilakukan Billardo saat mendesain strategi demi Maradona. Ia tidak berkaca kepada Napoli, klub Maradona kala itu, melainkan betul-betul melihat karakter dan kemampuan para pemainnya di timnas. Maradona memang aktor utamanya, tapi strategi Billardo yang membuatnya nyaman bermain. Ini salah satu hal yang tidak didapat Messi dari Sampaoli atau pelatih-pelatih Argentina sebelumnya, termasuk Maradona sendiri yang menukangi Albiceleste sejak 2008-2010.

Dalam laga kontra Islandia yang berakhir imbang 1-1 beberapa hari lalu, Sampaoli menggunakan 4-2-3-1 (4-4-1-1) dengan dua pivot Javier Mascherano dan Lucas Biglia. Di sayap, Sampaoli memasang Maximiliano Meza di kanan dan Angel Di Maria di kiri. Di depan, Messi menjadi nomor 10 dan Sergio Aguero yang sebagai ujung tombak. Sedangkan Islandia memainkan formasi bertahan 5-4-1 dengan kerapatan total di kotak penalti.

Faktor X yang Dibutuhkan Sampaoli?

Terlepas dari penampilan gemilang kiper Hannes Þor Halldorsson yang juga turut menggagalkan penalti Messi, Argentina memang praktis tidak berkutik membongkar pertahanan anak asuh Heimir Hallgrimsson. 27 tembakan dilesakkan, hanya tujuh yang mengarah ke gawang, lalu penguasaan bola dominan sebesar 78%, tapi hanya sebiji gol yang dicetak.

Messi tentunya bukan sekali ini menghadapi tim super defensif. Saat Barca menghadapi Chelsea di semifinal Liga Champions 2012, anak asuh Roberto Di Matteo tersebut bahkan bermain dengan formasi 6-3-0 setelah John Terry mendapat kartu merah sejak menit 37. Kendati skor imbang berakhir 2-2, Blaugrana gagal melaju ke final karena kalah agregat 2-3. Uniknya, dalam laga tersebut, Messi juga gagal mengeksekusi penalti. Usai laga, The Blues dianggap telah memainkan strategi anti-football.

Selain persoalan taktikal, ada perbedaan lain antara Argentina era Messi dengan Maradona. Di dalam skuat timnas 1986, sesungguhnya terjadi konflik antara kubu pemain veteran yang dimotori Daniel Passarella, Jorge Valdano, dan Ricardo Bochini dengan kubu pemain-pemain muda, termasuk Maradona.


Situasi makin panas setelah Billardo menjadikan Maradona sebagai kapten tim. Passarella yang tak terima dengan keputusan tersebut dikabarkan sempat mengkonfrontisir Billardo dengan mengatakan: "Jadikan saya pilihan pertama atau saya tidak akan bermain!" Valdano pun juga dikabarkan pernah bersitegang dengan Maradona. Billardo merespons sikap Passarella tersebut dengan tidak memainkannya sepanjang turnamen.

Yang menarik, konflik tersebut pada akhirnya justru menjadi penguat antar pemain Argentina untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka baik-baik saja.

Sampaoli bisa jadi juga memerlukan konflik tersebut sebagai faktor x keberhasilan Argentina nanti. Namun sebelum itu, ia harus mencari terlebih dahulu siapa pemain yang tepat untuk melakoni peran necessary evil sebagaimana yang dilakukan Pasarella pada tahun 1986. Memangnya siapa pemain Argentina yang berani berkonfrontasi dengan Messi?

Tidak ada sosok Pasarella di Piala Dunia 1986 di skuat Argentina kali ini. Pasarella adalah seorang juara, ia membawa Argentina juara dunia pada 1978. Di dalam skuat kali ini, jangankan juara dunia, jura Copa America saja seorang Messi masih belum sanggup.

Pekerjaan rumah yang ngeri-ngeri syadap bagi Sampaoli.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS