Perayaan Imlek Orang-Orang Cina Benteng

Oleh: Felix Nathaniel - 28 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Kebanyakan orang menyetempel stereotipe pada orang Cina sebagai orang kaya bahkan konglomerat. Di Cina Benteng, sulit ditemui orang Tionghoa yang secara stereotipikal berkecukupan. Orang-orang Cina Benteng hidup sederhana, termasuk di hari Imlek.
tirto.id - Delapan dari sepuluh orang terkaya Indonesia versi Forbes 2016 adalah keturunan Tionghoa. Wajar jika orang awam berpikiran seluruh etnis Tionghoa memiliki tingkat ekonomi kelas atas. Kemeriahan perayaan Imlek pun dilihat sebagai indikator bahwa orang Tionghoa memang makmur.

Namun, Anda akan menemui realitas di luar stereotipe itu jika Anda bertandang ke sebuah kampung Sewan di bantaran sungai Cisadane, kelurahan Mekarsari, Tangerang. Kampung Sewan ini lebih dikenal sebagai Cina benteng. Atau tepatnya: Kampung Sewan dikenal sebagai lokasi dari Cina Benteng.

Orang pergi ke Sewan untuk mengenal Cina Benteng, untuk melihat Tari Cokek dan Gambang Kromong, kesenian khas Cina Benteng.

Kampung ini tak jauh berbeda dengan perkampungan di daerah Jakarta: jalan sempit, pagar kecil, tidak ada halaman, ada toko kelontong, sedikit yang punya kendaraan bermotor, warga berinteraksi satu sama lain, ada yang nongkrong sambil memamerkan ayam jago kebanggaannya, ibu-ibu berumur 40an bermain congklak, bau sampah dan kotoran anjing dan ayam tercium di sepanjang jalan.

Beberapa rumah beralaskan semen, ubin, dan tanah. Hanya ada beberapa rumah yang memasang pernak-pernik Imlek dan ciri khas mereka adalah rumah dari bambu. Di serambi pun mereka memasang bangku panjang dari bambu.

Yang menandakan kampung itu adalah kampung yang lain dengan perkampungan pada umumnya adalah Klenteng Tjong Tek Bio yang berada di pertigaan kompleks kampung Sewan.

Cina Benteng Sambut Tahun Baru Cina

Saya berbincang dengan Edi, warga Sewan yang berprofesi sebagai pedagang. Edi mengatakan Imlek tahun ini tidak akan seramai tahun lalu. Makanan yang disajikan lebih sedikit, dan tentunya jumlah kunjungan keluarga lebih minim. Tahun lalu, warga masih memberikan persembahan berupa kue-kue kapada leluhur. Tahun ini, Edi meyakini warga tidak akan mampu melakukan hal yang serupa.

Tahun ini ia mengatakan bahwa harga daging yang naik menjadi kendala. Biaya hidup juga membengkak, sedangkan penghasilan mereka tetap rendah. Dahulu, mereka bisa membeli hiasan Imlek untuk memerahkan kampung Sewan, tapi sekarang tidak.

“Masih ada kue-kue [tahun lalu], kita bisa bikin, tapi tahun ini karena barang-barangnya mahal, mereka enggak bikin. Tapi, tetap leluhur mesti dihargai,” lanjutnya.

Menurutnya, rata-rata penghasilan masyarakat sebulan sekitar Rp1,5 juta rupiah, di bawah UMP Banten sebesar Rp 1,9 juta rupiah.

Sebagian dari mereka hidup sebagai pemulung dan pedagang. Sebelumnya, mereka sempat bercocok tanam, tapi karena tanah berganti pabrik, sumber pencaharian mereka berubah drastis. Ada pula yang mencari peruntungan ke daerah lain dan memilih tidak kembali ke Sewan.

“Mereka pindah ke Jakarta, pindah ke Tangerang Selatan. Mereka sudah berhasil, mereka enggan untuk balik,” kata Edi.

Kendati serba kekurangan, orang-orang Cina Benteng tetap mengkhidmati Imlek. Pada malam Imlek, mereka biasanya berkumpul dan berdoa bersama keluarganya ke Klenteng.

Pada pukul 5 esok harinya, warga Cina Benteng ini biasanya pergi mencari abu leluhurnya yang paling tua untuk melakukan sembahyang. Biasanya, tempat abu ini disebut sebagai rumah abu atau rumah sembahyang. Namun, yang tak mampu secara ekonomi terkadang mereka tidak lagi pergi ke rumah abu yang jaraknya jauh.

Tradisi membeli baju baru pun masih mereka pertahankan. Berdasar budaya yang mereka anut, baju baru merupakan pertanda kelahiran diri di tahun yang baru. Mereka biasanya mengusahakan membeli baju baru. Tak perlu mahal, asalkan baru.

“Baju baru ini memberikan kita suasana baru, sedangkan angpao itu dengan harapan kita banyak hoki,” jelas Edi.

Bagi beberapa yang punya altar di rumahnya, mereka biasanya mempersembahkan ikan bandeng, babi hong, babi cin, dan buah-buahan terutama jeruk. Bukan untuk mereka, tetapi untuk leluhur. Mereka masih melaksanakan tradisi: sembahyang, silaturahmi, makan besar, dan membagikan angpao.

Mita, istri Ketua RT 04, sedang membagikan daging babi dalam kantong seberat 1,5 kg kepada warga. Daging babi tersebut dibagikan oleh donatur untuk warga Cina Benteng. Nantinya, daging babi ini akan diolah menjadi segala jenis masakan babi seperti babi kecap, babi garing madu, sop babi, babi cah sayur, dan sebagainya pada tahun baru Imlek.

Mita menceritakan perayaan Imlek di Sewan jauh daripada yang ada di kota. Di Jakarta atau Tangerang, suasana musik Cina begitu kental. Di Sewan sebaliknya. Pada malam tahun baru Imlek, ketika warga sembahyang di Klenteng Mahabodhi, pengurus Klenteng akan menyuguhkan nyanyian dangdut semalaman.

Infografik Tunggal Festival Imlek


Dari dulu, tradisi mereka memang seperti itu. Cokek dan Gambang Kromong akan dihadirkan pada perayaan Cap Go Meh, sedangkan musik asli Indonesia yang akan mengisi acara tahun baru mereka.

Dibanding tahun baru 1 Januari lalu, tahun baru Imlek malah cenderung lebih sepi. Tak banyak yang menyalakan kembang api di Sewan.

Mita dan keluarganya biasanya berkunjung ke rumah orangtuanya di daerah Rawa Kucing. Namun, tahun ini kondisi keuangannya buruk. Ia memilih tinggal di Sewan dan berdoa kepada leluhur di rumah kakaknya.

Wanita berusia 30an ini berharap bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang lebih menguntungkan. Ia punya dua putra. Yang kecil duduk di kelas dua SD, sedangkan sang kakak di kelas 3 SMP. Wira, anak bungsunya, sedang senang menjelang Imlek. “Mau keliling cari angpao,” katanya.

Kakaknya, Nanda, lebih senang menghabiskan waktu di rumah. Bagi Nanda, berkeliling mencari angpao untuk lelaki seumurnya merupakan hal yang memalukan.

Wira berkeliling sampai ke jalan raya sampai ke daerah Rawa Kucing. Ia bersama teman-temannya mengetuk satu pintu ke pintu lain sambil mengucap gong xi fa cai. Kadang beberapa rumah memang tidak memberikan angpao, kadang juga temannya mendapat lebih banyak, sebab keluarganya ada yang berkunjung.

Demi angpao-lah Wira senang pergi ke Rawa Kucing. Neneknya tinggal di sana dan biasa memberikan angpao lebih banyak. Lazimnya, ia menerima angpao berisi 5 ribu, 10 ribu, atau 20 ribu dari puluhan rumah yang ia kunjungi. Jumlah paling banyak yang pernah ia dapat selama berkeliling adalah Rp140 ribu.

Wira berkeinginan membeli ponsel bila angpao yang didapatnya tahun ini berjumlah Rp200 ribu.

Di tengah-tengah obrolan, Wira balik bertanya hal sederhana yang tak mampu saya jawab: “Dulu kakak dapat angpao berapa?”

Baca juga artikel terkait IMLEK 2017 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight