Penyebab Israel Menyerang Palestina & Situasi Terkini di Palestina

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 17 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
Mengapa Palestina diserang Israel dan bagaimana kondisi Palestina sekarang?
tirto.id - Serangan Israel terhadap Palestina masih terus terjadi. Pada Senin (17/5/2021) pagi waktu setempat, pesawat tempur Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran di beberapa lokasi di Kota Gaza.

Ledakan mengguncang kota dari utara ke selatan selama 10 menit pada Senin pagi. Serangan terjadi lebih besar, di area yang lebih luas dan berlangsung lebih lama dari serangan udara 24 jam sebelumnya yang menewaskan 42 warga Palestina.

Serangan udara ini adalah yang paling mematikan dalam putaran konflik antara Israel dan kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza.

Dalam sebuah pernyataan singkat, Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces) mengatakan "pesawat tempur IDF menyerang target di Jalur Gaza," demikian seperti dikutip AP News.

Serangan udara Senin pagi terjadi beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan perang keempat akan terus berlanjut dengan kelompok Hamas di Gaza.

Belum ada laporan tentang korban luka, dan hingga dini hari tadi, hanya ada sedikit informasi tentang tingkat kerusakan yang ditimbulkan karena serangan Senin pagi.

Laporan media lokal mengatakan, sasaran serangan udara kali ini adalah jalan pantai utama di barat kota, kompleks keamanan, dan ruang terbuka.

Perusahaan distribusi tenaga listrik mengatakan serangan udara merusak jalur yang mengalirkan listrik dari satu-satunya pembangkit listrik ke sebagian besar Kota Gaza selatan.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Minggu, Netanyahu mengatakan serangan Israel terus berlanjut dengan kekuatan penuh. Israel ingin menuntut harga mahal pada kelompok militan Hamas, kata Netanyahu.

Hamas juga melawan dengan meluncurkan roket dari wilayah sipil di Gaza menuju wilayah sipil di Israel. Satu roket menghantam sinagoga (tempat ibadah orang Yahudi) di kota selatan Ashkelon beberapa jam sebelum kebaktian malam hari raya Yahudi di Shavuot, Israel. Tidak ada korban luka yang dilaporkan.

Serangan Israel ke Palestina meningkat selama seminggu terakhir, menandai pertempuran terburuk di wilayah yang menjadi rumah bagi 2 juta warga Palestina sejak perang Israel dan Hamas tahun 2014.

“Saya belum pernah melihat tingkat kerusakan seperti ini selama 14 tahun saya bekerja,” kata Samir al-Khatib, seorang petugas penyelamat darurat di Gaza.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan 16 wanita dan 10 anak menjadi korban jiwa serangan Israel dengan lebih dari 50 orang terluka.

Haya Abdelal (21) yang tinggal di salah satu gedung yang hancur mengatakan dia sedang tidur ketika serangan udara membuatnya melarikan diri ke jalan.

Dia mengatakan Israel tidak memberikan peringatan kepada penduduk untuk pergi sebelum melancarkan serangan semacam itu.

“Kami lelah,” katanya, “Kami membutuhkan gencatan senjata. Kami tidak tahan lagi."

Kantor juru bicara militer Israel mengatakan serangan itu menargetkan "infrastruktur militer bawah tanah" Hamas.

Sebelumnya, Israel juga meratakan gedung tertinggi di Kota Gaza, yang menurut Israel berisi infrastruktur militer Hamas. Gedung itu merupakan kantor bagi sejumlah media massa seperti The Associated Press Gaza, Aljazeera, dan outlet media lainnya,

Netanyahu menuduh intelijen militer Hamas beroperasi di dalam gedung tersebut dan mengatakan pada Minggu bahwa ada bukti dari intelijen.

Infografik SC Serangan Israel Ke Palestina
Infografik SC Serangan Israel Ke Palestina. tirto.id/Fuad


Penyebab Israel Serang Palestina


Israel dan Palestina kembali memanas sejak terjadinya kekerasan di Yerusalem timur bulan lalu. Warga Palestina bentrok dengan polisi karena ancaman penggusuran puluhan keluarga Palestina oleh pemukim Yahudi.

Fokus bentrokan adalah Masjid Al-Aqsa, kompleks masjid yang terletak di puncak bukit dan dihormati oleh Muslim dan Yahudi.

Hamas mulai menembakkan roket ke arah Yerusalem pada hari Senin, memicu serangan Israel di Gaza.

Setidaknya 188 warga Palestina tewas dalam ratusan serangan udara di Gaza, termasuk 55 anak-anak dan 33 wanita, dengan 1.230 orang terluka.

Delapan orang di Israel telah tewas akibat salah satu dari 3.100 serangan roket yang diluncurkan dari Gaza.

Menurut utusan PBB Timur Tengah Tor Wennesland, serangan itu telah membuat sekitar 34.000 warga Palestina mengungsi dari rumah mereka.

Upaya China, Norwegia dan Tunisia untuk membuat badan PBB mengeluarkan pernyataan, termasuk seruan untuk penghentian permusuhan, telah diblokir oleh Amerika Serikat, yang, menurut para diplomat, dikhawatirkan dapat mengganggu upaya diplomatik untuk menghentikan kekerasan.

Menteri Luar Negeri Palestina Riad Al-Malki mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan guna mengakhiri serangan Israel.

Sementara itu, Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan, mendesak dewan untuk mengutuk "serangan tanpa pandang bulu dan tidak beralasan" yang dilakukan Hamas.

Serangan Israel ke Palestina memicu protes pro-Palestina di kota-kota di seluruh Eropa dan Amerika Serikat.

Israel tampaknya telah meningkatkan serangan dalam beberapa hari terakhir untuk menimbulkan kerusakan sebanyak mungkin pada Hamas karena mediator internasional bekerja untuk mengakhiri pertempuran dan mencegah invasi darat Israel di Gaza.

Militer Israel mengatakan telah menghancurkan rumah pemimpin tertinggi Hamas Gaza, Yahiyeh Sinwar, pada Minggu, di kota selatan Khan Younis. Itu adalah serangan ketiga dalam dua hari terakhir di rumah para pemimpin senior Hamas, yang bersembunyi.

Awal mula konflik Israel dan Palestina sudah berlangsung sejak lama. Konflik ini dimulai dengan berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Konflik berasal dari kekerasan antarkomune di Palestina antara Israel dan Arab dari tahun 1920 dan meletus menjadi permusuhan dalam perang saudara 1947–1948. Konflik berlanjut hingga saat ini dengan berbagai tingkatan.


Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL PALESTINA atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight