Penolakan Peringatan Asyura di Bandung

Oleh: Irfan Teguh - 22 September 2018
Dibaca Normal 5 menit
Aksi menolak peringatan Asyura 2018 di Kota Bandung melahirkan beberapa kesepakatan, salah satunya jemaah Syiah di Bandung Raya tidak akan melaksanakan lagi acara serupa pada tahun-tahun berikutnya.
tirto.id - Bandung mendung sejak pagi. Hawa dingin berkuasa sepanjang hari. Namun di Kecamatan Regol, tepatnya di sekitar Jalan Kembar, suasana panas perlahan meninggi. Sejumlah warga dan organisasi masyarakat (ormas) menolak dilaksanakannya peringatan Asyura (20/9/2018) oleh jemaah Syiah di kawasan tersebut.

Sejumlah aparat keamanan yang terdiri dari unsur kepolisian, pertahanan sipil, dan TNI berjaga-jaga di sekitar Majelis Habib Alwi Assegaf, Jalan Kembar VI, tempat acara digelar. Peringatan Asyura untuk mengenang meninggalnya Husain, cucu Nabi Muhammad di Padang Karbala, berlangsung menjelang malam.

Pukul 17.45 ratusan orang dari berbagai ormas sudah berkumpul di Jalan Kembar Sari Indah II, sekitar 200 meter dari Majelis Habib Alwi Assegaf. Sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Kami Warga Regol Menolak Keras Peringatan Asy Syuro di Lingkungan Kami”, mereka berkali-kali meneriakkan takbir.

Meski menurut laporan tertulis ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) ormas yang hadir terdiri dari ANNAS, PAS, FPI, LPI, Jawara Sunda dan beberapa organisasi Islam lainnya, tapi di lokasi yang nampak menggunakan atribut hanya Laskar Jundullah ANNAS, sisanya tanpa atribut pengenal.

Pukul 17.30 massa bergerak ke mulut Jalan Kembar I. Mereka hendak merangsek ke Jalan Kembar VI, tapi terhalang blokade aparat keamanan. Selain takbir, teriakan-terikan lain mulai dilontarkan, seperti “Bubarkan Syiah!”; “Syiah Sesat!”; “Syiah Pembohong!”

Massa kian bertambah dan membuat ruas jalan tak bisa dilalui kendaraan. Sambil berhadap-hadapan dengan aparat keamanan, mereka mulai menggelar orasi.

“Kenapa kita terpanggil datang ke tempat ini? Karena di tempat ini ada penodaan-penodaan yang mereka lakukan atas nama agama Islam. Syiah laknatullah. Bapak-bapak jangan tertipu, karena salah satu rukun, kewajiban ajaran mereka itu bertaqiyah, wajib berbohong!” ujar seorang orator dari Laskar Jundullah ANNAS.

Menjelang Magrib, sebagian massa membubarkan diri untuk buka puasa dan salat. Sementara sebagian lagi tetap di tempat, berkumpul dalam beberapa gerombol.

“Habis Magrib kita bubarkan!” ujar seseorang kepada kawannya dalam sebuah gerombolan.

Sejumlah polisi berompi kuning meninggalkan barisan penjagaan. Jalan yang semula tertutup massa mulai bisa dilalui kendaraan. Mendung masih bergelayut, kini disertai rintik hujan.

Konsentrasi massa sebenarnya bukan hanya di mulut Jalan Kembar I, tapi juga di Jalan Kembar II, Jalan Sriwijaya, dan Jalan Kembar Sari Indah. Jalan-jalan tersebut mengelilingi Majelis Habib Alwi Assegaf. Meski demikian, pusat massa yang menolak peringatan Asyura berada di mulut Jalan Kembar I yang letaknya di sebelah timur lokasi peringatan Asyura.

Sementara Jalan Kembar Sari Indah dipenuhi aparat kepolisian dari satuan Brimob dan warga yang menonton. Sebagian warga menyaksikan keriuhan dari balkon dan atap rumah masing-masing.


Insiden-insiden


Jalan Kembar I memanjang dari barat ke timur. Di barat berakhir sampai jalan Mohammad Toha, dan di timur sampai Jalan Sriwijaya. Jalan ini dipotong oleh Jalan Kembar Indah, di simpang inilah massa berkumpul. Ini adalah jalan kompleks perumahan, ruasnya tidak terlalu lebar, kiri kanan bahu jalan dipenuhi motor milik massa yang diparkir, sehingga akses untuk kendaraan semakin sempit. Beberapa mobil yang hendak melintas memilih mundur dan memutar balik. Sementara para pengendara motor memilih tetap menembus kerumunan sambil memelankan tunggangannya. Gurat khawatir nampak dari wajah mereka.

Pukul 18.15, massa yang telah melaksanakan salat kembali bergabung ke mulut Jalan Kembar I. Sebelum aksi dilanjutkan, mereka yang baru buka puasa menyantap nasi kotak, menyebar di beberapa titik. Tepat di lokasi massa berkumpul penerangannya minim, ditambah kegelapan dari pohon-pohon kayu berdaun lebat.

Terikan-teriakan setengah guyon dalam bahasa Sunda sesekali terdengar dari kegelapan yang ditujukan kepada aparat kepolisian.

Buru atuh bubarkeun polisi, pamajikan can ditoél yeuh! (Cepat bubarkan [peringatan Asyura] polisi, istri belum disentuh nih!)” ujar seseorang dari arah bangku dekat warung rokok.

Sementara seseorang yang duduk di bawah pohon menceletuk, “Teu ramé ah polisina mawa péstol! (gak seru ah polisinya membawa pistol!)

Ujaran-ujaran spontan itu sedikit menurunkan tensi suasana. Celetukan guyon yang terakhir saya dengar sebelum suasana kembali tegang adalah “Mamah nyangu teu?! (Ibu/istri menanak nasi gak?!), sebuah ujaran khas yang kerap saya dengar di Bandung Raya. Ujaran yang kadang tidak memerlukan konteks.

Teriakan-teriakan menjadi beringas saat seorang ibu berpakaian hitam-hitam beserta seorang anak kecil yang berjalan dari arah blokade polisi menuju kerumunan. Massa langsung menyergapnya dengan kata-kata tajam, “Orang gila! Orang gila!” Disusul dengan, “Segera tobat, bu! Jangan mau dibohongi Syiah!”

Ibu dan anak kecil itu hanya diam dan terus berjalan. Umpatan-umpatan mereda setelah seseorang berkata bahwa mereka mesti mempertimbangan anak kecil yang berjalan bersama ibu tersebut, “Enggeus, enggeus, karunya éta budak leutikna! (Sudah, sudah, kasihan anak kecilnya!)

Tak lama setelah insiden tersebut, dari arah yang sama dengan ibu tadi, seorang lelaki keluar menuju kerumunan sambil mengendarai motor. Meski dikawal polisi, tapi massa langsung mengerubunginya. Mereka menarik dan mendorong lelaki tersebut hingga motornya oleng. Saat ada celah, ia langsung tancap gas ke arah Jalan Mohammad Toha.

Selang beberapa menit, keributan kembali terjadi. Kali ini dari arah Jalan Mohammad Toha. Seorang pemuda dibawa menuju kerumunan dan hampir menjadi bulan-bulanan massa, tapi pihak berwajib segera mengamankannya dan ia pergi ke arah Majelis Habib Alwi Assegaf.

“Goblok, berani banget dia menurunkan spanduk!” ujar seseorang.

Spanduk yang dimaksud terpasang di pinggir Jalan Mohammad Toha, di ujung Jalan Kembar I dan bertuliskan “Syiah Sesat”.

Kejadian itu menyulut emosi massa. Mereka kembali merongseng. Takbir bergema lagi. Hujatan terhadap Syiah kembali bersahutan. Kemarahan itu ditambah dengan kekecewaan terhadap aparat kepolisian yang tak segera membubarkan acara peringatan Asyura.

Ajakan untuk menerobos barisan kepolisian berkali-kali diteriakkan, “Kalau polisi tidak mampu membubarkan, biar kami yang membubarkan!”


Infografik Penolakan peringatan asyura

Negosiasi dan Provokasi


Rintik hujan kembali turun. Namun emosi massa semakin naik. Jejentik jam menunjukkan pukul 18 lewat 50 menit. Jumlah mereka semakin banyak dan barisannya kian rapat, mendesak pagar betis aparat kepolisian.

“Bubarkan sekarang!”

“Dobrak! Dobrak!”

Lewat pengeras suara, salah satu pimpinan ormas mencoba menenangkan massa. Ia menyampaikan bahwa kesepakatan antara jemaah Syiah dengan pihak yang menolak acara peringatan Asyuro telah diambil yang berisi tiga poin, yaitu: Pertama, acara peringatan Asyura akan dilaksanakan sampai pukul 20.00. Kedua, para penolak menjamin keamanan kegiatan tersebut. Dan ketiga, peringatan Asyura tersebut menjadi kegiatan terakhir di Bandung Raya, artinya tahun-tahun berikutnya tidak akan dilaksanakan lagi.

Dalam rilis tertulis Aliansi Nasional Anti Syiah Indonesia (ANNAS), kesepakatan tersebut ditandatangani oleh H. Darmawan selaku panitia peringatan Asyura; sementara warga yang menolak diwakili oleh K.H. Rahmatullah (Ketua MUI Kecamatan Regol), H. Edwin S. (Wakil Ketua DPRD Kota Bandung), dan H. Deden Syarif (Ketua RW).

Dalam rilis tersebut dicantumkan bahwa kesepakatan dihadiri juga oleh Dirintel Polda Jawa Barat, Kapolres Bandung, perwakilan Kemenag Kota Bandung, K.H. Athian Ali (Ketua Umum ANNAS), H.M. Rizal Fadillah (Dewan Pakar ANNAS), Tarjono A. Muas (Sekjen ANNAS), Roinul Balad (Ketua Pembela Ahlu Sunnah atau PAS), dan beberapa tokoh masyarakat lainnya.

Massa yang kadung muntab tak terima dengan kesepakatan tersebut. Beberapa saat suasana menjadi gaduh tak terkendali. Bagi mereka, waktu 70 menit terlalu lama untuk menunggu jemaah Syiah mengakhiri kegiatannya.

“Ingat, di sini kita satu komando. Dan kesepakatan telah diambil. Kalau setelah pukul delapan nanti tidak bubar, baru kita ambil langkah berikutnya!” Ujar koordinator aksi.

Suara kekecewaan semakin nyaring. Namun akhirnya kegaduhan mereda saat azan Isya berkumandang. Massa menyebar lagi dalam sejumlah kerumunan. Tak lama logistik datang untuk ormas-ormas yang tidak mengenakan atribut. Sejenak mereka bersantap malam.

Bagi mereka yang menolak peringatan Asyura yang dilakukan jemaah Syiah, dan hadir di mulut Jalan Kembar I malam itu, waktu kiranya berjalan amat lambat. Saya mondar-mandir dari satu kerumunan ke kerumunan yang lain, dan melihat mereka berkali-kali melihat pergerakan waktu lewat jam tangan dan telepon genggam.

Pukul 19 lewat sepuluh menit suasana cukup kondusif. Namun, baru lima menit saya duduk bersandar ke pagar sebuah rumah warga, tiba-tiba sebagian massa berlari ke arah Jalan Mohammad Toha sambil berteriak, “Udag euy! (Kejar woi!)”

Saya sontak mengikuti massa yang berlari. Dari ujung Jalan Kembar I yang dibatasi jembatan, mereka bergerak ke utara menyisir Jalan Mohammad Toha, mencari jemaah Syiah yang hendak menuju Majelis Habib Alwi Assegaf. Tiba-tiba massa berbalik arah ke selatan dan mengejar pengendara motor yang berboncengan. Mereka berhasil menghentikannya di depan bank BCA.

Balik siah goblog! (Pulang kamu goblok!) teriak mereka.

Sekilas saya melihat pengendara motor itu seorang lelaki tua dan membonceng seorang ibu yang usianya tidak terpaut jauh dengan si pengendara. Helm yang dikenakan keduanya nampak kedodoran. Mereka ditunjuk-tunjuk sambil terus dilumuri serapah. Tak lama mereka berhasil meloloskan diri, melaju ke selatan ke arah Jalan Sukarno-Hatta. Seorang anggota Laskar Jundullah ANNAS mengimbau massa agar tidak memaki dengan kata-kata nama binatang, dan menyuruh massa untuk kembali ke titik semula.

Setelah itu, semua orang di mulut Jalan Kembar I hanya menunggu dan menunggu. Lima menit jelang pukul 20.00 seseorang berteriak, “Lima menit lagi siapkan stamina!”

Waktu yang dijanjikan pun tiba, massa kembali merapatkan barisan dan mulai gaduh. Pengeras suara nyaris tak terdengar. Setiap kali para pimpinan ormas mencoba menenangkan, setiap itu juga massa yang jumlahnya kira-kira 250-300 orang semakin ribut. Tensi meninggi. Para pengendara dan pejalan kaki tak ada yang berani melintas. Saat situasi panas seperti itu, tiba-tiba seorang bapak setengah baya, berkendara motor sambil membawa joran mendekati konsentrasi massa. Ia berhenti persis di sebelah saya berdiri.

Saya tanya, “Mau ke mana, pak?”

“Mau pulang, itu rumah saya nomor 31,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Jalan Kembar I yang dipenuhi polisi.

Saya menimpali, “Nanti aja pak pulangnya, situasinya lagi panas. Lagi pula jalannya ditutup.”

“Oh gitu ya,” jawabnya datar sambil membelokkan motornya dan melaju ke arah Jalan Mohammad Toha.

Saat saya berbicara dengan bapak tersebut, massa FPI yang hadir dan mayoritas mengenakan peci putih tiba-tiba marah. Mereka keluar dari barisan dan memisahkan diri. Entah apa penyebabnya.

“Laskar mundur! Ayo laskar mundur!” ujar mereka memanggil kawan-kawannya yang masih berada dalam kerumunan massa.

Sambil berjalan menjauh dari kerumunan, mereka menyanyikan semacam mars. Namun tak lama kemudian, mereka kembali bergabung dengan massa yang lain.

Kemarahan FPI membuat semuanya diam. Tiba-tiba hening. Hanya suara bisik yang terdengar. Aparat kepolisian mengabarkan bahwa acara peringatan Asyura di Majelis Habib Alwi Assegaf telah selesai, dan jemaah Syiah telah pulang lewat Jalan Sriwijaya.

Satu-persatu massa membubarkan diri. Hujan masih titik-titik turun.

Baca juga artikel terkait INTOLERANSI atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti