Penguburan Hijau, Upaya Mengurangi Emisi dan Kebutuhan Ruang

Penulis: Aditya Widya Putri, tirto.id - 21 Jan 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Pemakaman hijau dikonsep sebagai solusi dari cara tradisional yang ternyata turut berkontribusi merusak lingkungan.
tirto.id - Lahan tak hanya dibutuhkan oleh manusia yang hidup, tapi juga ketika meninggal dunia. Sementara populasi semakin bertambah, jumlah lahan pemakaman kian menyusut. Pada pertengahan 2021, tingkat keterisian lahan pemakaman di Jakarta sudah di atas 95 persen bahkan hampir menyentuh angka 100 persen.

Berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Kehutanan DKI Jakarta, ada 82 tempat pemakaman umum (TPU) di ibu kota yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Total luas lahan seluruh TPU itu sekitar 6.070.955 meter persegi atau 1 persen dari luas Jakarta yang mencapai 662 kilometer persegi. Dari 82 TPU, tingkat keterisian 68 TPU hampir mencapai 100 persen dan hanya bisa melayani model pemakaman tumpang.

Model pemakaman dengan mengubur jenazah, membuat nisan, serta bangunan menggunakan semen dan keramik membuat lahan-lahan kosong makin susut. Tapi bukan hanya itu masalahnya.


Prosesi pemakaman ternyata turut menyumbang efek buruk bagi lingkungan. Jenis pemakaman ini, menurut Green Burial Council, dapat menghasilkan sekitar 250 pon (lb) karbon. “Sementara penguburan hijau hanya menghasilkan 25 pon (lbs) karbon,” tulis laman yang mempromosikan pemakaman berkelanjutan tersebut.


Green Burial Council mengutip penelitian Mary Woodsen dari Cornell University dan Greensprings Natural Preserve di Newfield, New York, yang menghitung karbon dan jumlah sumber daya untuk penguburan tradisional. Dalam setahun, penguburan tradisional memupuk efek buruk bagi lingkungan karena menghabiskan 20 juta papan kayu, termasuk yang dipasok dari hutan hujan. Selain itu prosesi ini juga menghabiskan 1,6 juta ton beton, 17 ribu ton tembaga dan perunggu, 64,5 ton baja, besi, tembaga, timah, seng, dan kobalt.

“Ada 4,3 juta galon cairan pembalseman dalam setahun. Sebanyak 827.060 galon di antaranya adalah formaldehida, metanol, dan benzena,” tambah mereka. Formaldehida, zat yang terdapat dalam cairan pembalseman, bersifat karsinogenik dan mengiritasi pernapasan.

Kremasi, alternatif lain untuk menghantarkan jenazah ke perhentian terakhir di dunia, tak kalah bikin emisi. Prosesi ini butuh banyak bahan bakar dan menghasilkan jutaan ton emisi karbon dioksida per tahun.

Ngaben, praktik sejenis yang membakar jenazah dengan kayu, jelas berkontribusi pada penebangan pohon, polusi udara, dan sungai karena sebagian besar dilakukan di dekat air. Sementara pada proses yang lebih modern di krematorium, filternya tidak menetralkan karbon dioksida hasil kremasi, termasuk gas sebagai limbah dari pemanasan yang melebihi 1.200 derajat Fahrenheit.

“Rata-rata kremasi di Amerika misalnya, menghabiskan jumlah energi dan emisi setara dua tangki bahan bakar mobil biasa,” kata Nora Menkin, direktur eksekutif People's Memorial Association, seperti diwartakan oleh National Geographic. Tim Menkin membantu orang memilih penghantaran terakhir di hidup mereka.

Satu kremasi rata-rata menghasilkan 534,6 pon karbon dioksida, setara emisi dari mengemudi sejauh 470 mil (756,392 km). Lebih dari perjalanan Jakarta-Surabaya sejauh 677 kilometer.

Dari Tanah Kembali ke Tanah

Kesadaran bahwa bumi semakin sesak, panas, dan tak lagi ramah huni membuat sebagian orang berpikir untuk menjalani hidup lebih hijau, termasuk dalam memilih cara meninggalkan dunia. Washington menjadi wilayah pertama di Amerika yang memperbolehkan prosesi pengomposan mayat sebagai solusi pemakaman yang lebih ramah lingkungan.

Proses reduksi organik alami atau rekomposisi ini dimulai sejak 2020. Caranya dengan mengubah tubuh menjadi kompos dan menyatu dengan tanah, kemudian hasilnya disumbangkan atau digunakan selayaknya pupuk penyubur tanaman.


Kemudian ada juga solusi mengubah jenazah menjadi terumbu karang buatan untuk tempat ikan bernaung. Alternatif kremasi yang lebih ramah lingkungan juga ada dalam bentuk resomasi menggunakan hidrolisis alkali sebagai pengganti api. Cara ini mengurangi emisi kremasi sebanyak 25 persen.

Guna menyimpan abu kremasi, The Guardian melaporkan sudah tersedia kendi yang terurai dan dirancang untuk menanam benih. Setelah dikubur, kendi akan terurai menjadi pupuk bagi pohon. Kemudian untuk peti mati berkembang peti bio-degradable dari anyaman, karton, daun pisang, eceng gondok, hingga bambu.

Inti dari pemakaman hijau adalah proses pemakaman yang tidak menggunakan bahan kimia berbahaya, rendah emisi, dan jejak karbon. Jika menggunakan peti mati, pilihlah bahan yang terurai secara hayati, seperti anyaman atau kayu. Jika menggunakan kain jangan dikelantang, dan tak perlu bangunan bersemen untuk mempercantik makam.

Biarkan makam menjadi tempat pohon bertumbuh, satwa berlindung, atau habitat alami lain. Persis tuturan beragam agama dan kepercayaan tentang manusia yang dibuat dari tanah, maka selayaknya kita pun kembali ke tanah.

Baca juga artikel terkait PEMAKAMAN atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Rio Apinino

DarkLight