Penggunaan Obat Herbal Perlu Diimbangi Kesadaran Menanam

Oleh: Yuliana Ratnasari - 24 Juli 2016
Dibaca Normal 1 menit
WHO mencatat, penggunaan obat-obatan tradisional di berbagai negara telah memasyarakat hingga 80 persen. Namun, pemakaiannya yang kian populer tidak diimbangi dengan kesadaran dan upaya menanam tanaman obat herbal.
tirto.id - Meski obat-obatan herbal di Indonesia telah populer di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir, penggunaannya belum diimbangi dengan kesadaran menanam berbagai jenis tanaman obat herbal.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Rektor Universitas Nasional Jakarta Prof Dr. Ernawati Sinaga, MS., Apt. ketika tampil sebagai pembicara pada Seminar Internasional berkaitan Pertemuan Internasional membahas berbagai perkembangan dan hambatan penerapan teknologi organik dalam menerapkan Efektive Microorganisme 4 (EM4) yang melibatkan sekitar 100 peserta utusan 17 negara dari 25 negara anggota di Kawasan Asia Pasifik pada Minggu (24/7/2017) di Sanur, Bali.

“Penanaman berbagai jenis tanaman obat-obatan mempunyai peran yang sangat penting dalam mengimbangi mulai membaiknya kesadaran masyarakat menggunakan obat-obatan tradisional,” papar Ernawati.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) penggunaan obat-obat tradisional di berbagai negara di belahan dunia mulai membaik, hingga kini 80 persen masyarakat menggunakan obat herbal.

Masalahnya penggunaan obat herbal yang mulai meningkat di kalangan masyarakat belum diimbangi dengan upaya dari pemerintah dan masyarakat menanam tanaman obat herbal yang selama ini masih menggantungkan produk dari dalam kawasan hutan.

"Padahal tanaman obat dalam kawasan hutan setiap tahun jumlahnya terus berkurang akibat kerusakan hutan, kebakaran hutan dan berbagai masalah lainnya," ujar Ernawati.

Selain itu, Ernawati menambahkan, diperlukan pula alokasi dana dari pemerintah untuk melakukan penelitian berkaitan dengan obat hebal dan pangan tersebut.

Karenanya, Ernawati juga sangat mendorong pemerintah untuk meningkatkan aktivitas penelitian yang menyangkut semua aspek bidang pangan dan obat-obatan dengan sasaran mengalokasikan dana 20 persen dari APBN.

“Sasaran 20 persen itu hingga kini masih sangat jauh, karena alokasi dana untuk penelitian masih sangat kecil,” ujar ketua pusat penelitian Universitas Nasional Jakarta itu.

Ia mencontohkan, kegiatan berbagai penelitian di Universitas Nasional Jakarta dalam setiap tahunnya mencapai belasan miliar rupiah, namun yang asli dari dalam negeri hanya Rp1 miliar sisanya bersumber dari kucuran dana luar negeri.

“Oleh sebab itu di masa mendatang kucuran dana untuk kegiatan penelitian yang menyangkut pangan dan obat-obatan sangat diperlukan,” jelas Ernawati.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Kesehatan)

Sumber: Antara
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari