Menuju konten utama

Pengeroyokan Pendamping Djarot Akan Dilaporkan ke Bawaslu

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menyatakan akan menyampaikan kasus pengeroyokan terhadap kader PDI-P tersebut kepada tim kampanye agar melaporkan kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam bentuk pidana Pilkada.

Pengeroyokan Pendamping Djarot Akan Dilaporkan ke Bawaslu
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (tengah) berfoto dengan warga saat melakukan kampanye dengan "blusukan" di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta, Rabu (7/12). ANTARA FOTO/Lucky R.

tirto.id - Peristiwa pengeroyokan kader PDI-P Ranting Jelambar, Jakarta, dipastikan terkait dengan proses Pilkada DKI 2017. Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menyatakan akan menyampaikan hal tersebut kepada tim kampanye agar melaporkan kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam bentuk pidana Pilkada.

"Saya pastikan itu perkara Pilkada, karena saya sudah bertemu dengan korban. Oleh sebab itu pelanggaran jelas termasuk pidana umum," kata Djarot, Sabtu malam (7/1/2017), usai menghadiri kaderisasi Taruna Merah Putih di Buperta Cibubur, Jakarta Timur.

Djarot telah bertemu dengan korban yang dikeroyok akibat mendatangkan Djarot Saiful Hidayat untuk blusukan ke Jelambar Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, dan berkampanye.

Korban pengeroyokan, Widodo, mendampingi Djarot ketika blusukan di Jelambar. Korban menyampaikan ia dihampiri sepuluh orang tetangganya saat sedang duduk di warung, dan langsung dikeroyok.

Widodo langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Widodo mengaku mengenal semua pengeroyoknya karena mereka adalah tetangganya sendiri yang mendukung calon pasangan lain.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto telah mengecam aksi pemukulan dan pengeroyokan tersebut.

"Pengeroyokan itu merusak demokrasi, tak manusiawi dan bertentangan dengan ajaran manapun," kata Hasto.

Menurut Hasto, belakangan ini kekerasan baik verbal maupun fisik sering terjadi. Mereka dianggap oleh Hasto tidak memiliki kepribadian Indonesia yang dikenal santun dan toleran. "Ini gejala yang membuat kita cemas dan harus benar-benar kita waspadai," kata dia.

Baca juga artikel terkait PILKADA atau tulisan lainnya dari Mutaya Saroh

tirto.id - Hukum
Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh