Pemerintah Kota Surabaya akan menerapkan sistem yang dapat mendeteksi kegiatan terorisme bagi setiap warga pendatang yang menetap secara musiman dengan cara indekos atau mengontrak rumah di perkampungan.

"Sistem pendeteksi ini mulai diterapkan besok," ujar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, usai meninjau rumah kos terduga teroris bernama Dedi Sulistiantono alias Teguh di Jalan Sikatan IV, Kelurahan Manukan Wetan, Kecamatan Tandes, Surabaya, Selasa (14/5/2018) malam.

Terduga teroris berusia 41 tahun itu ditembak mati polisi karena melakukan perlawanan saat hendak ditangkap sekitar pukul 17.00 WIB, kemarin.

Penggeledahan rumah kos Dedi oleh petugas kepolisian berlangsung hingga Rabu dini hari. Di antaranya dilakukan peledakan bom rakitan yang ditemukan di dalam rumah kos tersebut.

Risma menjelaskan, Dedi tinggal di rumah kos itu bersama seorang istri dan tiga anaknya yang masih kecil, yang tadi malam juga telah diamankan polisi.

"Dedi ini orang Surabaya. Dia adalah adik kandung dari terduga teroris yang meledakkan diri di Rusunawa Wonocolo, Sepanjang, Sidoarjo. Tapi yang soal kegiatan terorisnya ini biar polisi yang menjelaskan," katanya.

Risma memastikan, dari beberapa pengalaman terduga teroris kerap bersembunyi dan beraktivitas di rumah kos atau kontrakan, mulai besok akan diterapkan sistem yang dapat mendeteksi kegiatan mereka.

"Kami punya alat untuk mendeteksinya. Kita juga telah punya sistem dan peraturan daerah yang mengatur tentang warga pendatang," ucapnya.

Sistem dengan alat untuk mendeteksi kegiatan warga pendatang ini, lanjut dia, akan segera disosialisasikan ke setiap Ketua Rukun Wilayah (RW) dan Rukun Tetangga (RT) di seluruh wilayah Kota Surabaya.

"Saya akan buat surat edaran kepada RT/ RW agar menerapkan sistem yang mendeteksi kegiatan warga pendatang. Nanti akan ada 'report' dan jika ada aktivitas yang mencurigakan biar langsung kami tangani," ujarnya.

Pusat Trauma Pasca-Teror

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya juga membentuk pusat trauma untuk mendampingi anak-anak korban peledakan bom pada sejumlah gereja di Surabaya beberapa hari lalu.


Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu, mengatakan, pusat trauma ini dibentuk meski sejak awal kejadian, tim ahli psikologi mereka sudah mendampingi pihak keluarga yang menjadi korban bom.

"Trauma center ini anggotanya gabungan, tidak bisa pemkot saja, meskipun kami memiliki banyak ahli psikologi," katanya.

Menurut dia, anggota dari pusat trauma ada dari polisi supaya bisa mengikuti perkembangan. "Kami juga dampingi anak-anak di sekolah korban dan di kelas korban," ujarnya.

Pemerintah Kota Surabaya, kata dia, terus mengawal dan memfasilitasi pengantaran jenazah korban, karena sudah ada yang dibawa ke Solo dan ada pula yang akan diantarkan ke Pasuruan. "Bahkan, kami juga berencana menanggung semua biaya pendidikan salah satu anak korban, sekarang masih kami hitung semuanya," katanya.

Risma juga meminta warga Kota Surabaya untuk tidak takut dan tidak khawatir terhadap ancaman ini.