Pemilih Pilpres 2019 Berpotensi Ubah Pilihan Karena Program Kerja

Oleh: Damianus Andreas - 10 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Survei Survei Celebes Research Center (CRC) periode Januari 2019 menyebut ada 13 persen respon berupah pilihan, karena program kerja paslon capres-cawapres.
tirto.id - Survei Celebes Research Center (CRC) menyebut ada 13 persen masyarakat yang masih memiliki kemungkinan sangat besar atau cukup besar untuk mengubah pilihannya terhadap paslon capresn-cawapres Pilpres 2019.

Sementara itu, ada 81 persen lainnya mengaku kecil/sangat kecil/hampir tidak ada kemungkinannya untuk mengubah pilihan capres-cawapres. Kemudian, ada 6 persen yang mengklaim tidak tahu maupun memutuskan untuk tidak menjawab. Sisanya ada 13 persen responden yang berpotensi mengubah pilihan.

“Dari 13 persen yang mengatakan sangat/cukup besar kemungkinannya itu, sebanyak 40,4 persennya beralasan [akan mengubah pilihan] apabila ada calon yang menawarkan program lebih baik. Lalu 10,3 persen jika ada calon yang terkena masalah hukum,” kata Direktur Eksekutif CRC Herman Heizer dalam jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2/2019).


Herman juga menyebutkan, ada 6,6 persen responden berpotensi mengubah pilihannya bila ada tim sukses paslon memberikan uang (politik uang) mendekati hari pencoblosan.

Berturut-turut setelahnya, responden mengubah pilihan apabila calonnya turun langsung ke desa/kelurahan tempatnya tinggal (5,1 persen), ada organisasi yang diikutinya merekomendasikan calon lain (2,9 persen), serta ada tokoh yang mengajak untuk memilih calon lain (2,2 persen).

Adapun survei yang dilakukan CRC menggunakan jumlah sampel sebanyak 1.200 responden periode 23-31 Januari 2019. Dengan metode multistage random sampling, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka langsung dan kuesioner.

Menanggapi hasil survei itu, Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo mengaku tertarik dengan alasan paling utama yang mampu membuat masyarakat mengubah pilihan.

Bambang menilai sudah semestinya kedua pasangan calon lebih mengutamakan strateginya dalam menawarkan program kerja yang nyata dan masuk akal.

“Namun yang terjadi sekarang, bukan penyampaian program yang disampaikan ke publik. Melainkan saling serang yang tidak bermutu,” kata Bambang.

Menurut Bambang, strategi kampanye dengan gaya saling serang justru membuat masyarakat lelah. Bambang bahkan sempat menyoroti generasi milennial saat ini yang sudah cukup pintar dan obyektif dalam menghadapi Pilpres 2019.

“Mereka lelah melihat perdebatan yang tidak substansial. Padahal mereka menginginkan agar para pasangan calon bisa menjelaskan, akan dibawa ke mana mereka dalam lima tahun ke depan dengan program-programnya,” jelas Bambang.

Bambang mengimbau agar gaya kampanye masing-masing paslon bisa segera diperbaiki. Terkait persoalan perekonomian Indonesia saat ini, Bambang mendorong agar setiap paslon bisa menyajikan solusi untuk mengatasi masalah itu.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Politik)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Zakki Amali
DarkLight