tirto.id - Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat jumlah tenaga kerja sektor ekonomi kreatif mencapai 27,40 juta orang pada 2025. Angka tersebut telah melampaui target 26,06 juta orang yang ditetapkan untuk 2024.
Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif, Dadam Mahdar, mengatakan capaian tenaga kerja tersebut turut mendapat kontribusi dari subsektor seni rupa.
Menurut dia, data tenaga kerja ekonomi kreatif menunjukkan 63 persen di antaranya berasal dari generasi Z dan milenial, sementara 22 persen merupakan perempuan.
"Tenaga kerja yang sudah kita hitung bahwa di keterangan ini ada 63 persen Gen Z dan milenial, 22 persen perempuan inklusif dan berkelanjutan. Nah ini targetnya itu di tahun 2024, 26,06. Tetapi kalau dilihat capaian yang 2025 ini sudah capaiannya 27,40 juta orang," kata Dadam saat kegiatan Art Talks, Industri Seni Indonesia Dalam Peta Seni Dunia, yang diselenggarakan UOB di Jakarta Selatan, Kamis (24/9/2026).
Ia mengatakan kontribusi subsektor seni rupa terhadap keseluruhan ekonomi kreatif masih berada di kisaran 5-7 persen. Perhitungan tersebut masih digabungkan dengan 17 subsektor ekonomi kreatif lainnya.
Dari sisi Produk Domestik Bruto (PDB), pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 5,7 persen pada 2026. Sementara kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional ditargetkan mencapai 7,38 persen.
Dadam menyebut capaian PDB pada 2025 telah mencapai 68,86 persen. Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan, capaian rata-rata persentasenya disebut telah mencapai 124 persen.
"Nah tadi, ada yang disebut laju pertumbuhan PDB. Nah PDB ini kan pertumbuhan di dalam negerinya. Target kita di 2026 5,7, dan kontribusinya terhadap PDB nasional dari Ekraf itu 7,38 persen," kata Dadam.
"Nah di tahun 2025, mohon maaf sedikit ya karena dipancing oleh Mas Hari ini disuruh berdiri bersama artinya. Itu 68,86 persen, begitu ya. Sudah tercapai. Nah sehingga kalau lihat target tadi 5,7, PDB pun avarage selama ya persentase capaiannya 124 persen dan ini tercapai," sambungnya.
Sejalan dengan capaian tersebut, penguatan ekosistem seni rupa dilakukan melalui kolaborasi pemerintah dan sektor swasta. Salah satunya melalui penyelenggaraan 16th UOB Painting of the Year (POY) Indonesia.
Sebanyak 48 karya finalis kompetisi tersebut dipamerkan di The Melting Pot, Lantai Dasar ASHTA District 8, Jakarta, mulai 24 September hingga 10 Oktober 2026. Pameran itu menampilkan delapan karya pemenang dan menjadi ruang bagi seniman untuk memperkenalkan karya kepada publik sekaligus membuka akses ke pasar.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari Oktober Kreasi, kampanye nasional Kementerian Ekonomi Kreatif yang mengangkat perkembangan ekonomi kreatif dan keragaman subsektor kreatif di Indonesia.
Dalam pengembangan seni rupa, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, komunitas, akademisi, media, hingga lembaga keuangan. Pemerintah menilai kolaborasi diperlukan agar seniman tidak hanya mendapatkan ruang untuk berkarya, tetapi juga memiliki akses menuju pembeli dan pasar.
Penguatan ekosistem seni rupa diarahkan melalui lima tahapan industri kreatif, yaitu kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi. Pada tahap kreasi, pemerintah memberikan dukungan melalui program inkubasi dan pelatihan. Sementara pada tahap produksi, pendampingan mencakup peningkatan kualitas karya, pengemasan, serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar.
Peran dunia usaha dinilai semakin penting pada tahap distribusi. Pameran tidak hanya diarahkan sebagai sarana apresiasi, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara seniman, pengunjung, dan kolektor yang dapat membuka peluang transaksi.
Dukungan terhadap ekosistem seni juga diberikan UOB melalui penyelenggaraan POY. Keterlibatan bank tersebut merupakan bagian dari program perusahaan di bidang komunitas dan masyarakat, selain fokusnya sebagai institusi yang mendukung kegiatan ekonomi di Indonesia.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id






































