Menuju konten utama

Pembiayaan Utang Turun 40,1 Persen Hingga Akhir Agustus 2022

Realisasi pembiayaan melalui penerbitan utang mencapai Rp331,2 triliun hingga akhir Agustus 2022.

Pembiayaan Utang Turun 40,1 Persen Hingga Akhir Agustus 2022
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja Pemerintah dengan Banggar DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/9/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU

tirto.id -

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mencatat, realisasi pembiayaan melalui penerbitan utang mencapai Rp331,2 triliun hingga akhir Agustus 2022. Nilai tersebut turun 40,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp552,6 triliun.

“Bayangkan kita lihat kondisi di mana sektor keuangan, pasar keuangan, pasar obligasi mengalami guncangan yang bertubi-tubi maka menurunkan strategi pembiayaan utang menjadi sangat sesuai dan sangat tepat,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, dikutip Selasa (27/9/2022).

Bendahara Negara itu mengklaim, dalam situasi guncangan perekonomian global, pemerintah masih mampu mengeluarkan surat utang yang cukup baik. Pada September 2022 ini, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan seri SR017 yang dilakukan secara ritel, penjualannya mencapai Rp 26,97 triliun.

Selain itu, pemerintah juga telah mengeluarkan global bonds sebesar 2,65 miliar dolar AS termasuk mengeluarkan liability management sebesar 325 miliar dolar AS, untuk mengurangi paparan dari jatuhnya suku bunga.

“Ini adalah salah satu strategi penerbitan utang yang dilakukan agar bisa menjaga agar APBN keuangan negara, utang negara, tetap bisa terjaga dengan pruden,” imbuhnya.

Di sisi lain, pemerintah masih memiliki Surat Keputusan Bersama (SKB) I dan III dengan Bank Indonesia. Untuk SKB I telah terealisasi Rp40,034 triliun terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) Rp21,99 triliun dan SBSN Rp18,04 triliun. Sedangkan SKB III telah mencapai Rp 95,42 triliun sampai dengan 24 September.

Sri Mulyani mengatakan, kombinasi dari situasi market dan SKB, serta kemampuan pemerintah menekan defisit akan menjadi sangat penting dalam menjaga ketahanan APBN agar guncangan global tidak mudah merembes ke APBN dan perekonomian.

“Kita akan terus mewaspadai situasi yang terjadi saat ini, termasuk dalam menetapkan kapan akan mengeluarkan surat utang dalam jumlah berapa. Ini tujuannya untuk menjaga Indonesia dari guncangan. Kita akan jaga supaya Indonesia tidak terjadi krisis,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PEMBIAYAAN UTANG DI APBN atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Intan Umbari Prihatin